Monthly Archives: September 2012

#BRIDGING COURSE 06

Standar

DILEMA JURNALISTIK

Konser artis K-Pop, asal Korea, akhir-akhir ini menjadi trending topik di Indonesia. Hampir semua golongan usia memperbincangkan hal ini, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, bahkan orangtua.Sebagian masyarakat, yang maniak Korea, mungkin akan merasa bangga ketika mereka bisa menceritakan apa pun tentang artis K-Pop, mempunyai koleksi photo serta artikel merka, sedangkan sebagian besar (umumnya golongan tua) merasa generasi muda sekarang tidak lagi mencerminkan jiwa nasionalisme yang lebih berkutat pada topik pemerintahan, misalnya memberi tanggapan tentang kemenangan Jokowi dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada waktu lalu yang di baca di surat kabar.
Seringkali, hal seperti ini berujung pada klaim masyarakat (golongan tua terutama) akan kinerja pekerja jurnalistik yang tidak lagi berorientasi pada undang-undang pers yang melibatkan nasionalisme.Hal ini lah yang nantinya akan menjadi dilema bagi mereka yang bekerja di Jurnalisme.

Dilema-dilema seperti ini sudah ditemui dari awal memasyarakatnya Jurnalisme dan sudah menjadi makanan sehari-hari bagi mereka yang bekerja di dunia ini.
Realisasi sederhana jurnalistik, berawal pada pemerintahan Julius Caesar, kaisar Romawi yang memerintahkan agar pempublikasian kegiatan senat pada khalayak di lakukan dengan menempelkan kegiatan itu di papan pengumuman.
Khalayak (hartawan dan tuan tanah) yang segan meninggalkan rumah, menginstruksikan para pesuruhnya (disebut Diurnarii) untuk melihat dan mencatat pengumuman tersebut serta memberitahukan kembali kepada mereka.
Seiring berjalannya waktu dan pemikiran manusia, kegiatan tersebut dijadikan sumber penghasilan bagi sebagian masyarakat. Sebelum Diurnarii bergerak, mereka telah menyiapkan point-point kegiatan senat dan menuliskan nya, berupa catatan harian kegiatan senat, kemudian menjualnya.

Persaingan pun terjadi diantara Diurnarii dan pedagang catatan tersebut. Mereka mencoba memberlakukan inovasi, dengan menuliskan di catatan itu tidak hanya kegiatan senat, melainkan berita lain yang bisa di komersilkan. Mereka mencari berita hingga keluar Roma.Pelabuhan dan penginapan didatangi untuk mencari informasi dari pengunjung mengenai kejadian-kejadian di luar negeri.

Masa ini berakhir ketika seorang Diurnarii bernama ‘Julius Rusticus’, di hukum gantung karena memberitakan informasi yang seharusnya belum bisa di publikasikan. Diurnarii ini menuliskan berita pemindahan seorang pembesar yang masih dalam tahap pertimbangan oleh kaisar dan jika pemindahan itu di lakukan juga dengan penuh hati-hati. Informasi ini, pada saat itu masih dirahasiakan dan tidak ingin diketahui khalayak sebab belum waktunya menurut kaisar.

Runtuhnya kerajaan Romawi, menghilangkan jejak jurnalistk sederhana yang pada saat itu juga, Eropa sedang mengalami dark ages.

Perkembangan selanjutnya tidak jauh berbeda dengan Jurnalistik saat ini. Tragedi hukum gantung Diurnarii di Roma menjadi pelopor motivasi-motivasi mereka yang menuntut kebebasan pers.Kebebasan ini terwujud di Inggris (tahun 1644) oleh John Milton terkenal dengan Areopagitica , A Defense of Unlicenced Printing. Hingga saat ini, kebebasan pers tetap di akui, tetapi harus berorientasi pada Undang-Undang Pers, KUHP,dan Kode Etik Jurnalistik.
Sejarah sederhana Jurnalisme di atas tetap mewariskan dilema yang sama bagi pekerjanya yang melibatkan prinsip pribadi dalam pemberitaan.

Pekerja yang dimaksud adalah wartawan. Dalam pemberitaan, seorang wartawan tidaklah sebebas orang berpidato, berceramah, dan berkotbah. Wartawan tidak memiliki kebebasan yang penuh untuk memberitakan dan menambahkan opini nya dalam suatu berita.

Kompleksitas terjadi jika wartawan di hadapkan pada prioritas pertimbangan isi atau pesan surat kabar dan respon komunikan (pemerintah, masyarakt yang masih terbagi atas beberapa golongan, yang masing-masing memiliki interpretasi berbeda dalam memahami suatu berita ).

Selain ketentuan-ketentuan tertulis yang berlaku secara nasional , wartawan juga di hadapkan dengan kebijakan-kebijakan surat kabar yang memberi upah padanya.Salah memilih, mengambil dan mengedit pesan dapat mengancam hidup surat kabar wadah wartawan bekerja yang secara otomatis mengancam sumber penghidupan wartawan.

Persepsi pribadi wartawan yang berbeda dalam penafsiran ciri surat kabar (publisitas, periodisitas,universalitas, aktualitas) yang mempengaruhi secara langsung proses pemberitaan, menjadi kerikil kecil penambah bangunan kedilemaan wartawan,terutama ciri aktualitas. Ciri ini seringkali memaksa wartawan mengejar kecepatan laporan, tanpa kebenaran berita.

Sebagian dari wartawan menjadi objective reporting, yang berpegang teguh bahwa melaporkan fakta adalah satu-satunya tugas mereka dan segala konsekuensi, kehilangan nyawa sekalipun, mereka telah siap.

Dilema lain muncul akibat dari pemahaman arti dan konsep berita yang ambigu. Berita yang umumnya disebut ‘News’, seringkali di artikan wartawan dengan penerjemahan kata ( N=North,E=East, W=West dan S=South).

Diartikannya kata ‘News’, dalam pemahaman konsep mata angin menimbulkan persepsi berita sebagai laporan dari ke empat mata angin di atas, berita ada dimana-mana, dan akan di cari hingga keseluruh penjuru dunia.

Defenisi antik ciptaan Lord Northchliffe dari Inggris, “ If a dog bites a man, it is not news, but if a man bites a dog it is new” terkenal di kalangan wartawan dan masih juga ditemui dalam literatur jurnalistik.
Defenisi itu seolah-olah menganggap bahwa berita itu hanya lah kenyataan yang terjadi saat ini, padahal berita bisa jadi prediksi kejadian yang akan datang lewat indikasi pada suatu kenyataan saat ini dan opini orang.

Defenisi di atas, tidak sejalan dengan defenisi sebenarnya yang di kemukakan oleh Prof.Mitchel V Charnley dalam “Reporting”, yang isinya,” News is the timely report of facts or opinion of either interest of importance, or both, to a considerable number of people.” (berita adlah laporan tercepat mengenai fakta atau opini yang mengandung hal yang menarik minat atau penting, atau kedua-duanya, bagi sejumlah besar penduduk).

Wartawan sebagai komunikator dalam dunia Jurnalisme , yang telah di percaya memiliki 3 faktor ethos, yaitu : itikad baik, dapat di percaya, dan kecakapan di harapkan berpartisipasi dalam pembangunan.

Dilema-dilema dalam dunia pemberitaan merupakan tantangan bagi para wartawan untuk membina diri dengan mengembangkan pengetahuan dan meningkatkan keterampilan, sehingga beritanya nyata bermanfaat bagi masyarakat dan bagi pembangunan oleh pemerintah serta berfungsi nyata dalam mengontrol masyarakat dan pemerintah.

DAFTAR PUSTAKA

Effendi Onong.1981.Dimensi-Dimensi Komunikasi

Iklan

BRIDGING COURSE 05

Standar

OPINI PUBLIK SETTINGAN MEDIA MASSA?
Hakikat nya, media massa atau pers hadir di tengah masyarakat untuk mengungkapkan kembali fakta yang beredar di masyarakat hingga tercapainya opini publik.Seperti defenisi pers yang di utarakan Wilbur Schramm (pencetus Ilmu komunikasi) d alam bukunya Four Theories of the Press dikemukakan 4 teori terbesar pers, yaitu the authotarian, the libertarian, the social responsibility dan the soviet communist theory. Keempat teori tersebut mengacu pada satu pengertian pers sebagai pengamat, guru, dan forum yang menyampaikan pandangannya tentang banyak hal yang mengemuka ditengah tengah mesyarakat

Media massa sangat besar peranannya dalam mempengaruhi opini publik.Sekarang ini, hampir setiap media massa memiliki settingan tersendiri dalam bentuk agenda dalam mengutarakan pendapatnya di tengah khalayak.
Dalam proses menuju pencapaian opini publik, media massa (surat kabar, radio, televisi,televisi dan internet), seolah menciptakan sebuah skenario dengan 2 versi yang berbeda, yaitu : melalui pengamatan terhadap fakta di lapangan, media massa membentuk isu dengan menyaring fakta yang diamati (fakta yang menjadi sasaran pemberitaan tidak sepenuhnya di sajikan akurat) atau isu terpenting yang menyangkut masalah masyarakat di kemas dan di sajikan di media massa
Peran media massa yang seperti inilah nantinya yang akan menimbulkan berbagai kontraversi mengenai peran media massa yang seharusnya. Hal yang paling fatal adalah jika ada orang yang memiliki pengaruh besar menjadi pengatur proses tercapainya opini publik. Hal seperti ini lah yang nantinya bisa menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap peran media massa.

Tidak jarang di media massa ( terutama surat kabar dan televisi), kita melihat adanya isu yang terbentuk dengan campur tangan pihak yang memilki kekuasaan lebih tinggi. Misalnya dalam sebuah kampanye pemilu, seringkali di hadirkan isu profil kandidat atau calon pemimpin.Namun, yang di hadirkan di pers hanyalah isu positif seperti prestasi apa yang telah di capai kandidat tersebut untuk menarik rasa simpati masyarakat.
Media massa sekarang ini juga sering menghadirkan isu dengan beriorientasi komersial dengan menampilkan berita terbaru yang sedang hangat di perbincangkan. Seringkali di stasiun tv yang berbeda dan jam tayang berbeda pula kita melihat suatu berita yang sama di tayangkan.Fenomena ini sering membuat kita termakan isu jika sering menonton tv.

Ironisnya, mereka yang sudah tidak mempercayai kinerja media massa membentuk opini publik yang menyangkut isu penting (isu kenegaraan misalnya) , mulai mengalihkan perhatian ke sajian pers yang bersifat menghibur.Hal yang lebih parah, jika mereka mulai menganggap seluruh isu sajian media massa adalah hiburan. Misalnya, ketika pers dengan mengebu-gebu menyajikan seluruh pemberitaan tentang isu kenaikan yang melibatkan peran menteri ekonomi, mereka menggap seluruh komentar,pendapat, dan kebijakannya hanyalah untaian kata penghiburan.
Pengaplikasian media massa dalam menjalankan peran di masyarakat, memang berhasil. Namun, seringkali keberhasilan mereka tidak sesuai dengan tuntutan peran yang seharusnya. Seperti dalam penyajian berita pembangunan infrastruktur suatu daerah. Pers seharusnya di tuntut mengutarakan fakta yang sebenarnya.Mungkin dengan mendeskripsikan kerusakan infrastruktur daerah tersebut secara detail.

Akan tetapi, dalam pemberitaan seperti ini pers menyaring fakta yang harusnya di ungkapkan dan membentuk isu baru dengan lebih banyak berbicara tentang peran pemerintah daerah setempat dalam penaganan pembangunan infrastruktur daerah mereka. Dalam kasus ini, pers berhasil membentuk opini publik tetapi bukan opini yang sebenarnya, melainkan opini settingan.

Kasus lain dengan penyajian settingan yang berbeda oleh media massa adalah kasus penegboman di Bali. Dalam penyajian berita tentang ini, pers lebih menyoroti pelaku pengeboman ( berorientasi pada settingan kedua), tanpa mengkaji hal apa yang menyebabkan pengeboman itu terjadi. Bisa saja dengan mengamati kebudayaan masyarakat bali, kebudayaan pengunjung local, dan kebudayaan pengunjung dari luar negeri. Kemungkinan besar, pemahaman akan sesuatu yang di motivasi dengan perbedaan kebudayaan dapat berbeda yang bias menghasilkan bentrokan hingga aksi pembunuhan. Hal seperti ini juga seharusnya penting menjadi kajian pers.

Peran media massa sebagai pemegang kunci pembentukan opini public yang paling efektif, seharusnya mengarahkan dan mengampanyekan suatu hal dengan tetap berorientasi kepentingan khalayak umum.Media massa memang memiliki kunci pembentukan opini public, jiak pun harus melakukan settingan dalam penyajian isu atau berita hendaknya berorientasi niali kebenaran.

DAFTAR PUSTAKA
WWW.WIKIPEDIA.ORG/WIKI/MEDIA_MASSA

BRIDGING COURSE 04

Standar

PERAN WANITA DALAM KOMUNIKASI PERSUASIF

Peran komunikasi dalam kehidupan kita sangat penting. Ketika kita berinteraksi, bertransaksi, dn melakukan seluruh kegiatan yang melibatkan lebih dari 1 individu, kita dituntut berkomunikasi. Tanpa adanya kehadiran komunikasi lawan atau teman kita berinteraksi bisa salah memaknai hal yang kita ucapkan dan lakukan.
Saat kita bertransaksi terutama ketika kita berada di pihak yang menawarkan suatu produk, kita sangat membutuhkan komunikasi yang lebih persuasif.Biasanya komunikasi yang persuasif ini lebih banyak di perankan oleh kaum wanita.
Kaum wanita lebih banyak memerankan komunikasi persuasif. Hal ini bisa dilihat dari kehidupan sehari-hari wanita , yang dominan mengucapkan dan melakukan komunikasi persuasif. Sehingga dalam suatu pemasaran produk, wanita lebih banyak di rekrut.
Hal itu juga di katakan dalam buku karya
Griff em (2003:483), if we want to see a model of communication research that starts from the lives of woman ….
Sebagai contoh kecil, pada tanggal 13 september lalu saya dan teman-teman dari organisasi ABUSYO(Alumni Budi Mulia Siantar-Yogyakarta), melakukan penjualan bunga mawar di lampu merah tepat di sekitar Toko GRAMEDIA. Selanjutnya, hasil penjualan bunga mawar itu akan digunakan sebagai dana makrab.
Awalnya, pria lebih banyak di turunkan ke lampu merah, untuk menawarkan bunga. Sebelumnya, kakak angkatan telah menginstruksikan untuk menawarkan bunga dengan menjadikan dana social untuk makrab menjadi alasan. Pria yang turun ke lampu merah, mengikuti instruksi tanpa adanya penambahan atau variasi kata. Alhasil, tak banyak bunga yang laku terjual.
Mereka cenderung mengucapkan kalimat yang sama dan monoton pada setiap pelanggan. Bahkan ada yang hanya mengucapkan satu kalimat singkat. Jika konsumen tidak member respon atau hanya menggelengkan kepala dan melambaikan tangan, mereka akan segera berlalu. Terkadang mereka hanya mengucapkan kalimat,”Mas, bunga nya”. Kemudian berlalu.Pria cenderung tidak lihai untuk berinovasi dalam komunikasi persuasif.
Kemudian jumlah wanita lebih banyak di kerahkan untuk menawarkan bunga. Kami yang wanita pun menawarkan bunga sesuai dengan intrusksi kakak angkatan, hanya saj di beri sedikit improvisasi dan ekspresi yang ramah.
Satu per satu pembeli pun semakin bertambah jumlahnya. Apalagi target konsumen kami adalah mereka pasangan muda yang menaiki sepeda motor dan mobil. Ada teman wanita yang mencoba mengucapkan kalimat,” Mas, ayo di beli bunganya, tahan kok mas but malam minggu,”. Kalimat ini di ucapkan sebagai improvisasi atau tambahan dari instruksi sebelumnya. Mendengar kalimat tersebut, sebagian dari mereka akhirnya membelikan bunga mawar itu untuk wanitanya.
Penggunaan komunikasi yang persuasif oleh wanita juga harus memperhatikan etika yang berlaku. Saat pengendara sepeda motor menolak untuk membeli bunga, kami tidak memaksakan nya, kami mengucapkan terimakasih sebelum berlalu. Atau menawarkan pada pengendara mobil yang menggeleng saat di tawarkan bung lewat kaca mobilnya.
Komunikasi persuasive juga harus memperhatikan durasi. Saya dan temen-teman yang menawarkan bunga, telah memperkirakan durasi untuk bertransaksi. Mulai dari penawaran hingga bunga itu sampai ke tangan pembeli. Durasi lampu merah sekitar 55 menit. Kami berkomunikasi persuasive dengan pembeli hingga bunga itu di beli, membutuhkan waktu sekitar 20 menit per pembeli. 5 menit sebelum Lampu hijau kami sudah harus meghentikan seluruh kegiatan transaksi.
Menawarkan produk, yang merupakan bagian dari komunikasi persuasif, juga harus memilih kalimat yang tepat untuk menghilangkan dugaan dan persepsi konsumen akan barang yang di tawarkan. Saat kami menjual bunga, sebagian dari calon pembeli berkata,” Maaf mbak, kemarin saya sudah beli bunga yang seperti itu, juga untuk dana sosial makrab”. Merespon pernyataan penolakan seperti ini, di butuhkan pemilihan kalimat untuk menjelaskannya. Jika calon pembeli masih bersikeras, sebaiknya jangan membalas nya dengan respon yang keras pula. Lebih baik mnegucapkan kalimat maaf dan terimakasih kemudian berlalu.
Sebagai wanita pemula, meggunakan komunikasi persuasif dalam bertransaksi, saya juga mencoba memilah-milah calon pembeli yang memiliki potensi untuk mendengarkan penawaran atau bahkan membeli bunga. Saya dapat mengetahuinya dengan membaca mimik wajahnya.
Wanita lebih banyak berperan dalam penjualan ini. Sesuai dengan target penawaran, yang lebih banyak membeli bunga juga wanita.Selain lihai dalam berkata-kata dan menyesuaikan ekspresinya saat menawarkan produk, kesabaran dalam berkomunikasi juga sangat dibutuhkan. Mengucapkan kata-kata yang ketus sangat tidak disarankan dalam komunikasi persuasif.
Kaum wanita banyak yang lihai dalam komunikasi ini disebabkan beberapa faktor, yaitu: kesabaran, kepintaran memilih calon pembeli, kepintaran berekspresi, lihai berimprovisasi, dan memperhatikan durasi . Jika berbicara tentang durasi, umumnya wanita fleksibel, terutama saat berkomunikasi dengan sesama wanita.
Saat saya harus menawarkan bunga kepada wanita yang menginginkan bunga sesuai dengan kriterianya, saya harus mencoba menawarkan nya dengan banyak improvisasi agar calon pembeli yakin. Hal yang seperti inilah yang anntinya akan memicu pemborosan waktu. Untuk mengatasinya saya menawarkan bunga juga sejalan dengan meunjukkn bagian bunga yng memnuhi kriterianya, untuk lebih meyakinkannya.
Menggunakan komunikasi persuasif tidak harus membutukan bakat atau talenta.Semua orang bisa melakukannya, dengan tetap berpegang pada prinsip awal atau target melakukan komunikasi ini.

#BRIDGING COURSE 02

Standar

SISKA.R.PURBA
ILMU KOMUNIKASI 2012
#BRIDGING COURSE 2
BLOG : SISKAILKOM12.WORDPRESS.COM
TOKO BAGUS, IKLAN AKURAT

Pada era ini, bertransaksi online merupakan salah satu cara untuk menambah profit. Seperti yang dilakukan toko bagus yang mempertemukan pembeli dan penjual secara online. Pada umumnya konsumen susah untuk percaya akan kualitas barang yang di pesan secara online, mereka ragu barang yang diiklankan secara online pada web dan blog toko, yang di gambarkan dengan tampilan berkualitas, tidak sesuai adanya setelah barang tersebut sampai di tangan konsumen. Namun, toko bagus menjual barang online dengan mencek keaslian barang online tersebut lebih dahulu, dengan begitu tidak ada pihak yang dirugikan.
Sesuai yang di informasikan di layanan televisi, di gambarkan tokobagus adalah situs pusat jual beli online terbesar di Indonesia. Semua barang dan jasa diperjualbelikan disini, mulai dari handphone, komputer, otomotif, fashion bahkan properti dan lowongan kerja. Pelayanan toko bagus yang memberikan profit di kedua belah pihak, yaitu konsumen dan produsen, menyebabkan citra toko bagus tidak di ragukan lagi.
Iklan toko bagus yang beredar di media cetak dan elektronik, 99 % akurat dengan kenyataan. Di televisi di gambarkan transaksi pembeli dan penjual yang terjadi secara instan. Waktu yang relatif lebih hemat bertransaksi di toko bagus, menjadi daya tarik toko ini.
Toko bagus, juga di gambarkan sebagai situs transaksi online, yang menghimpun produsen untuk berusaha di toko bagus. Dengan modal yang tidak terlalu banyak memasang iklan di toko bagu, produsen sudah mendapatkan pesanan yang cukup banyak.
Komitmen toko bagus untuk tetap menjaga citra dan kepercayaan langgananny, toko bagus telah mempelajari dahulu persyaratan yang membuat produsen dan konsumen sama sama merasa nyaman.Misalnya, untuk produsen yang menjual lat alat elektronik, di haruskan memberi garansi kepada produsen dalam jangka waktu tertentu. Sebagai surplusnya, produsen tak harus mengeluarkan banayk biaya untuk mempromosikan tokonya , cukup dengan memasang iklan on line di toko bagus, kemudian menantikan pesanan. Karena di lakukan prommosi secara on line, maka cakupan wilayah yang mengetahui keberadaan produk produsen juga menjadi lebih luas.
Mutu toko bagus yang sesuai degan di iklan kan, mencakup barang baru dan bekas Sepeti yang di gambarkan dalam iklan televise. Seorang penduduk ingin menjual sepeda bekas nya, kemudian dia mendatangai toko bagus. Di iklan ini juga di gambarkan proses transaksi penjual yang menjual sepeda bekanya, hingga sepeda tersebut sampai pada pembeli, dan dia dapat memperoleh uang hail penjualannya. Di iklan tersebut juga di tunjukkan penjual sepeda membawa sepedanya ke toko bagus yang jaraknya dekat dengan nya, bahkan di gambarkan seolah mereka bertetangga. Hal ini menggambarkan bahwa transaksi secara online di toko bagus lebih menguntungkan baik dari segi jarak dan keuntungan yang di dapat, karena tidak haru mengeluarkan biaya banyak untuk iklan, menjangkau jarak konsumen.<b
Dalam iklan juga di gambarkan, bahw a rtoko bagus memberikan kemudahan untuk setiap orang yang memenuhi syarat untuk bertransaksi di toko bagus. Pemilik sepeda yang tadi nya hanya seorang penduduk biasa yang menginginkan keuntungan, tanpa harus memiliki jiwa berbisnis, dia bias memperoleh profit dari penjualan sepedanya.
Selain sebagai pusat jual beli online terbesar di Indonesia, aneka jasa dan lowongan kerja di berikan juga.Contoh layanan jasa seperti travel tiket pesawat on line, sewa mobil yang telah dilengkapi pengemudi.Untuk para penjual, pasang iklan gratis adalah salah satu layanan yang disediakan oleh Tokobagus. Iklan akan dilihat oleh ratusan ribu orang setiap harinya. Bertransaksi di Tokobagus, baik jual maupun beli tidak dikenakan biaya, semua disediakan gratis, adalah kemudahan yang meberi profit bagi produsen.
Lowongan kerja yang di tawarkan di toko bagus lebih dominan meminta tenaga kerja terlatih. Misalnya pengemudi untuk layanan jasa sewa mobil dan perawat yang nantinya di pekerjakan dengan perhitungan kesejahteraan yang akurat juga.
Dengan segala profit dan kemudahan yang di beri toko bagus telah menunjukkan citra baik toko bagus. Tanpa di iklan kan di media elektronik dan dan media massa juga toko bagus telah di kenal baik oleh masyarakat. Namun memang tidak seluruh masyarakat sering mencari informasi dan hal terbaru di dunia maya, apalagi mereka yng berniat menjual barang bekas, yang tidka berjiwa bisnis, yang bias saja kesulitan menemukan dana hasil penjualan, jika tidak menonton televisi yang lebih banyak di lakukan mayarakat daripada dunia maya.
Keberadaan iklan toko bagus di media, seolah mempertegas dan melegitimasi secara tidak langsung citra toko bagus, yang sesuai dengan jargonnya JUAL BELI BAGUS, dan juga untuk menegaskan keakuratan iklan yang disajikan toko bagus di berbagai media.

BRIDGING COURSE 03

Standar

SISKA PURBA
ILMU KOMUNIKASI 2012
BLOG : siskailkom12.wordpress.com

PROFIL NARASUMBER

Nama : Lisa Lindawati
Profesi : Aktivis Karang Taruna Jaya
Tempat lahir : Bantul
Tanggal lahir : 7 Juli 1987
Pendidikan yang :
pernah ditempuh
• TK : TK aba dalam
• Hobi : membaca, menulis, dan berteman

• SD : SD Singosaren
• SMP : SMP Singosaren
• SMA : SMA Negeri Sembilan Yogyakarta
• Pendidkan
yang
pernah di
tempuh : sarjana komunikasi UGM
(sekarang sedang
menempuh kuliah di ilmu
komunikasi program pascasarjana
UGM)

WANITA BESI, DI BALIK KARANG TARUNA

Tiga tahun menjadi aktivis di Karang Taruna Kusuma Jaya ( tahun 2009 – 2012 ), Lisa Lindawati, wanita kelahiran Bantul ini, mengaku sangat menikmati peran yang di peroleh nya di karang taruna ini.Dia mulai menjadi aktivis pada tahun 2009. Keseriusan nya menekuni bidang ini tampak pada kedudukan peran yang diperolehnya. Awalnya, dia hanya menjadi seksi yang mengepalai bidng tertentu. Kemudian di tahun 2011, menjabat sekretaris, dan di tahun 2012 ini, diangkat menjadi ketua baru. Kehadiran Lisa, sebagai sarjana Komunikasi UGM, memberi warna tersendiri bagi karang taruna jaya.Motivasi beliau adalah tanggung jawab sosial bagi masyarakat sendiri.
Sebagai ketua baru, beliau memiliki visi dan misi yang terbaru pula dalam program nya ke depan, yang sesuai dengan kebutuhan organisasi, yaitu : mengembangkan akses pendidikan, akses informasi, dan peluang ekonomi. Seperti yang telah dilakukan sebelumnya dalam pengembangan akses pendidikan di dirikan sanggar Sinau Bareng , untuk menampung yang putus sekolah, yang pada umumnya anak yatim piatu agar dapat mengecap dunia pendidikan. Selain itu, menggalakkan program ikut paket B dan C, yang di gratiskan.
Anggota karang taruna ini pada umumnya adalah pemuda yang tidak melanjutkan pendidikan. Selain karena faktor ekonomi, faktor mental juga menjadi penyebabnya. Banyak pemuda tersebut yang orang tuanya masih tergolong mampu untuk membiayai pendidikan, tetapi banyak teman – teman di lingkungannya yang putus sekolah, mereka pun ikut tidak sekolah. Karena itulah, fokus pengurus karang taruna ini pada program pendidikan. Belaui juga menambahkan program pendidikan yang lain, yaitu : desain grafis, buletin, dan lain lain. Banyaknya pemuda yang putus sekolah di desa Sangosaret ini, menyebabkan angka pengangguran semakin besar. Untuk itu, mereka dibekali pengetahuan ekonomi produktif .
Keefektifan telah di terapkan di karang taruna ini, dapat dilketahui dari struktur organisasinya yang tidak memiliki wakil ketua, digantikan koordinator seksi, untuk mempertanggungjawabkan bidang masing – masing. Struktur organisasinya terdir atas: ketua, bendahara, sekretaris, seksi ( ada tujuh seksi: seksi humas, usaha kesejahteraan sosial, lingkungan hidup, olahraga dan kesenian, serta kerohanian), dan koordinator seksi.
Beliau juga menyatakan telah banyak program yang telah mereka realisasikan, yaitu: semakin banyaknya masyarakat Desa Sangosaret yang memperoleh kesempatan meraih pendidikan, pengadaan pojok baca dan sanggar yang dinamakan Sanggar Sinau Bareng, yang menjadi fasilitator anggota karang taruna ini, untuk mendapatkan pengetahuan dari luar dan dalam negeri.
Manfaat keberadaan karang taruna ini juga telah dirasakan masyarakat setempat. Sesuai sasarannya yang lebih banyak pemuda, dengan adanya karang taruna ini, pemuda memperoleh ruang untuk bertukar informasi dan lowongan kerja. Manfaat sederhana lainnya namun memberi pengaruh yang besar adalah pemuda menjadi lebih optimis, berguna dan membangun desa. Adanya karang taruna ini di Desa Singosaret, juga menyebabkan semakin banyak nya frekuensi interaksi masyarakat setempat dengan pemerintah karena Karang Taruna Jaya Kusuma ini berada di bawah kementerian sosial, sesuai dengan kegiatan nya sebagai rekan pemerintah untuk menyelesaikan kesejahteraan di level kelurahan atau desa. Pemerintah semakin sering mengadakan kunjungan ke desa yang termasuk daerah suburban ini, tanpa adanya intervensi, tetapi wajib mendukung dan mebuka ruang untuk setiap kegiatan karang taruna.
Fasilitas – fasilitas yang ada, diperoleh dari alokasi dana desa, swadaya pengurus karang taruna (meskipun dalam jumlah kecil), donasi masyarakat sekitar, investor di Singosaret secara rutin, dan hai ekonomi produktif.
Sebagai sarjana komunikasi, Lisa memahami akan kebutuhan komunikasi di antara anggota karang taruna dan masyarakat sekitar. Beliau mengadakan forum komunikasi yang formal dan informal. Manfaatnya di peroleh lewat gotong royong masyarakat dan anggota karang taruna yang semakin kuat. Seperti sebelumnya, karang taruna Jaya Kusuma menjadi tuan rumah bakti,dalam acara pertemuan tiga bulanan, yang dihadiri 75 desa.Para pengurus bertemu dan saling memancing inspirasi dengan tetap berpijak pada pedoman dasar kementrian sosial Republik Indonesia, undang-undang karang taruna nasional dengan sedikit improvisasi.
Gotong – royong yang masih kuat juga tampak saat Desa Sangosaret mendapat kunjungan kementrian sosial. Kekurangan biaya menjadi kendala dalam acara tersebut. Ibu-ibu dasawisma menunjukakan rasa memilki dan antusiasmenya dengan bersedia menyajikan hidangan makanan ringan dalam acara penyambutan kemensos itu.
Sosok Lisa sebagai alumni dengan jurusan yang di favoritkan dan kampus terakreditasi, menggambarkan sosok wanita besi. Meskipun secara teknis, beliau bukan lah pendiri awal karang taruna ini namun keberadaannya menjadikan karang taruna ini sebagai cahaya untuk keberadaan karang taruna lainnya di Indonesia. Beliau telah berhasil membuktikan bahwa warga desa sekalipun mempunyai potensi dan dapat mengambil bagian dalam kemajuan negara Indonesia, melalui kemajuan desa.
Tak hanya kesuksesan program, beliau juga sering kali mendapatkan kendala saat menjalankan perannya. Para pemuda desa sering kali tawuran dengan pemuda desa lain yang disebabkan oleh hal sederhana seperti salah paham karena permainan sepak bola dan teman wanita. Untuk mengatasinya, dibuka ruang pertemuan karang taruna unit, untuk saling mengenal dan melenyapkan rasa perselisihan. Setiap kelurahan dan desa mempunyai maslah sendiri, itulah sebabnya karang taruna didirikan di level desa dan kelurahan.
Kesukaan beliau dalam berpartisipasi dalam karang taruna ini, selain karena berada di wilayah kelahirannya, posisi desa ini dekat dengan wilayah perkotaan sehingga lebih mudah menyerap informasi, juga menanamkan kepekaan sosial untuknya. Beliau berharap karang taruna menjadi pilar kesejahteraan sosial bagi masyarakat Singosaret dengan lebih memahami masyarakat sendiri.

BRIDGING COURSE 01

Standar

 

ALASAN SAYA BERKULIAH DI UNIVERSITAS GAJAH MADA

       Kuliah di Universitas Gajah Mada, adalah langkah awal bagi saya untuk merintis jalan menuju masa depan. Saya memilih Universitas Gajah Mada, karena kampus ini memiliki prestasi yang telah di akui di tingkat nasional bahkan internasional. Saat ini, di Indonesia  Universitas Gajah Mada merupakan kampus terbaik.  Semakin meningkatnya jumlah mahasiswa yang berasal dari luar negeri atau mahasiswa kelas internasional, adalah bukti bahwa akreditas Universitas Gajah mada di akui di kancah dunia internasional.

       Kondisi kota Jogjakarta yang kondusif untuk di huni  para masisiwa, menjadi alasan saya untuk kuliah di kota ini. Keramahan penduduk, dan budaya timur yang masih di pelihara, menimbulkan kenyamanan tersendiri bagi para mahasiswa yang berasal dari luar daerah, sehingga lebih mudah berinteraksi, karena merasa telah di terima dan menjadi bagian dari masyarakat.

      Pemandangan alam yang masih alami di kota Jogjakarta, sehingga pendatang disuguhi pemandangan yang indah, berupa kota pariwisata, menjadi alasan pendukung saya memilih kota Jogja. Mahasiswa dapat melepas lelah dan mencari hiburan di tempa wisata di sekitar Jogjakarta, yang menjadi jedah sebelum memulai perkuliahan kembali.

          Kebihnekaan yang  saya temui di kampus Ugm ini, membuat saya bangga menyandang status mahasiswa di kampus ini.Kebanggan itu terbukti lewat prestasi Universitas Gajah Mada tahun ini memperoleh rekor muri, karena keanekaragaman yang dapat di padukan di kampus Pancasila ini. UGM yang tahun ini mahasiswanya berasal dari 33 provinsi di Indonesia, dengan pengaplikasian ideologi Pancasila, dapat menyatukan para mahasiswa bersatu, belajar bersama di UGM.

      Nasionalisme  yang kental di tanamkan dan diterapkan di kampus ini. Meskipun banyak mahasiswa yang berasal dari luar jawa, para dosen dapat menyatukan dengan penggunaan bahasa Indonesia, walaupun pada dasarnya di luar kampus mereka lebih banyak berinteraksi dengan menggunakan bahasa jawa.

      Biaya hidup yang lebih murah di Jogjakarta, di bandingkan tanah kelahiran saya Provinsi Sumatera Utara, menjadi alasan sampingan saya memilih kuliah disini. Ketika saya memilih untuk melanjutkan kuliah di luar pulau Sumatera, pertimbangan ekonomi menjadi slah satu hal yang saya pertimbangkan. Di jogja ini, biaya hidup masih lebih terjangkau. Makanan dan minuman yang di jual pun, sesuai dengan keuangan orangtua saya. Jenis makanan yang beragam juga mendukung daya tarik kota jogja ini. Meskipun berada di Luar Jawa, saya masih bisa menemukan makanan khas di daerah saya. Misalnya nasi dengan sayur singkong, dan lauk ikan teri, dengan begitu terkadang saya merasa tidak jauh dari daerah kelahiran saya. Jarak tempat menjual makanan pun tidak terlalu jauh, dengan berjalan kaki juga saya dapat menempuhnya. Sarana paling terdekat untuk makan juga tersedia, misalnya penyetan dan Burjo. Biaya untuk tempat tinggal, yang sering di sebut kosan bahasa sehari harinya di kota Jogja, tarif nya juga lumayan murah.

       Selain tempat wisata, ada juga monumen monumen nasional di jogja yang sangat menarik di kunjungi, yang di padukan dengan taman hiburan, misalnya Monjali. Alat angkut sederhana, unik, antipolusi udara, dan nyaman untuk berkeliling di kota Jogjakarta juga dapat ditemui, misalnya delman.

      Saya memilih kuliah di kampus Universitas Gajh Mada, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Prodi ilmu komunikasi, karena saya percaya dengan ketertarikan saya dengan segala sesuatu yang ada di Universitas Gajah Mada, saya dapat menjadikan saya alumni GAMADA yang menarik lewat indeks prestasi.