BRIDGING COURSE 04

Standar

PERAN WANITA DALAM KOMUNIKASI PERSUASIF

Peran komunikasi dalam kehidupan kita sangat penting. Ketika kita berinteraksi, bertransaksi, dn melakukan seluruh kegiatan yang melibatkan lebih dari 1 individu, kita dituntut berkomunikasi. Tanpa adanya kehadiran komunikasi lawan atau teman kita berinteraksi bisa salah memaknai hal yang kita ucapkan dan lakukan.
Saat kita bertransaksi terutama ketika kita berada di pihak yang menawarkan suatu produk, kita sangat membutuhkan komunikasi yang lebih persuasif.Biasanya komunikasi yang persuasif ini lebih banyak di perankan oleh kaum wanita.
Kaum wanita lebih banyak memerankan komunikasi persuasif. Hal ini bisa dilihat dari kehidupan sehari-hari wanita , yang dominan mengucapkan dan melakukan komunikasi persuasif. Sehingga dalam suatu pemasaran produk, wanita lebih banyak di rekrut.
Hal itu juga di katakan dalam buku karya
Griff em (2003:483), if we want to see a model of communication research that starts from the lives of woman ….
Sebagai contoh kecil, pada tanggal 13 september lalu saya dan teman-teman dari organisasi ABUSYO(Alumni Budi Mulia Siantar-Yogyakarta), melakukan penjualan bunga mawar di lampu merah tepat di sekitar Toko GRAMEDIA. Selanjutnya, hasil penjualan bunga mawar itu akan digunakan sebagai dana makrab.
Awalnya, pria lebih banyak di turunkan ke lampu merah, untuk menawarkan bunga. Sebelumnya, kakak angkatan telah menginstruksikan untuk menawarkan bunga dengan menjadikan dana social untuk makrab menjadi alasan. Pria yang turun ke lampu merah, mengikuti instruksi tanpa adanya penambahan atau variasi kata. Alhasil, tak banyak bunga yang laku terjual.
Mereka cenderung mengucapkan kalimat yang sama dan monoton pada setiap pelanggan. Bahkan ada yang hanya mengucapkan satu kalimat singkat. Jika konsumen tidak member respon atau hanya menggelengkan kepala dan melambaikan tangan, mereka akan segera berlalu. Terkadang mereka hanya mengucapkan kalimat,”Mas, bunga nya”. Kemudian berlalu.Pria cenderung tidak lihai untuk berinovasi dalam komunikasi persuasif.
Kemudian jumlah wanita lebih banyak di kerahkan untuk menawarkan bunga. Kami yang wanita pun menawarkan bunga sesuai dengan intrusksi kakak angkatan, hanya saj di beri sedikit improvisasi dan ekspresi yang ramah.
Satu per satu pembeli pun semakin bertambah jumlahnya. Apalagi target konsumen kami adalah mereka pasangan muda yang menaiki sepeda motor dan mobil. Ada teman wanita yang mencoba mengucapkan kalimat,” Mas, ayo di beli bunganya, tahan kok mas but malam minggu,”. Kalimat ini di ucapkan sebagai improvisasi atau tambahan dari instruksi sebelumnya. Mendengar kalimat tersebut, sebagian dari mereka akhirnya membelikan bunga mawar itu untuk wanitanya.
Penggunaan komunikasi yang persuasif oleh wanita juga harus memperhatikan etika yang berlaku. Saat pengendara sepeda motor menolak untuk membeli bunga, kami tidak memaksakan nya, kami mengucapkan terimakasih sebelum berlalu. Atau menawarkan pada pengendara mobil yang menggeleng saat di tawarkan bung lewat kaca mobilnya.
Komunikasi persuasive juga harus memperhatikan durasi. Saya dan temen-teman yang menawarkan bunga, telah memperkirakan durasi untuk bertransaksi. Mulai dari penawaran hingga bunga itu sampai ke tangan pembeli. Durasi lampu merah sekitar 55 menit. Kami berkomunikasi persuasive dengan pembeli hingga bunga itu di beli, membutuhkan waktu sekitar 20 menit per pembeli. 5 menit sebelum Lampu hijau kami sudah harus meghentikan seluruh kegiatan transaksi.
Menawarkan produk, yang merupakan bagian dari komunikasi persuasif, juga harus memilih kalimat yang tepat untuk menghilangkan dugaan dan persepsi konsumen akan barang yang di tawarkan. Saat kami menjual bunga, sebagian dari calon pembeli berkata,” Maaf mbak, kemarin saya sudah beli bunga yang seperti itu, juga untuk dana sosial makrab”. Merespon pernyataan penolakan seperti ini, di butuhkan pemilihan kalimat untuk menjelaskannya. Jika calon pembeli masih bersikeras, sebaiknya jangan membalas nya dengan respon yang keras pula. Lebih baik mnegucapkan kalimat maaf dan terimakasih kemudian berlalu.
Sebagai wanita pemula, meggunakan komunikasi persuasif dalam bertransaksi, saya juga mencoba memilah-milah calon pembeli yang memiliki potensi untuk mendengarkan penawaran atau bahkan membeli bunga. Saya dapat mengetahuinya dengan membaca mimik wajahnya.
Wanita lebih banyak berperan dalam penjualan ini. Sesuai dengan target penawaran, yang lebih banyak membeli bunga juga wanita.Selain lihai dalam berkata-kata dan menyesuaikan ekspresinya saat menawarkan produk, kesabaran dalam berkomunikasi juga sangat dibutuhkan. Mengucapkan kata-kata yang ketus sangat tidak disarankan dalam komunikasi persuasif.
Kaum wanita banyak yang lihai dalam komunikasi ini disebabkan beberapa faktor, yaitu: kesabaran, kepintaran memilih calon pembeli, kepintaran berekspresi, lihai berimprovisasi, dan memperhatikan durasi . Jika berbicara tentang durasi, umumnya wanita fleksibel, terutama saat berkomunikasi dengan sesama wanita.
Saat saya harus menawarkan bunga kepada wanita yang menginginkan bunga sesuai dengan kriterianya, saya harus mencoba menawarkan nya dengan banyak improvisasi agar calon pembeli yakin. Hal yang seperti inilah yang anntinya akan memicu pemborosan waktu. Untuk mengatasinya saya menawarkan bunga juga sejalan dengan meunjukkn bagian bunga yng memnuhi kriterianya, untuk lebih meyakinkannya.
Menggunakan komunikasi persuasif tidak harus membutukan bakat atau talenta.Semua orang bisa melakukannya, dengan tetap berpegang pada prinsip awal atau target melakukan komunikasi ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s