#BRIDGING COURSE 06

Standar

DILEMA JURNALISTIK

Konser artis K-Pop, asal Korea, akhir-akhir ini menjadi trending topik di Indonesia. Hampir semua golongan usia memperbincangkan hal ini, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, bahkan orangtua.Sebagian masyarakat, yang maniak Korea, mungkin akan merasa bangga ketika mereka bisa menceritakan apa pun tentang artis K-Pop, mempunyai koleksi photo serta artikel merka, sedangkan sebagian besar (umumnya golongan tua) merasa generasi muda sekarang tidak lagi mencerminkan jiwa nasionalisme yang lebih berkutat pada topik pemerintahan, misalnya memberi tanggapan tentang kemenangan Jokowi dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada waktu lalu yang di baca di surat kabar.
Seringkali, hal seperti ini berujung pada klaim masyarakat (golongan tua terutama) akan kinerja pekerja jurnalistik yang tidak lagi berorientasi pada undang-undang pers yang melibatkan nasionalisme.Hal ini lah yang nantinya akan menjadi dilema bagi mereka yang bekerja di Jurnalisme.

Dilema-dilema seperti ini sudah ditemui dari awal memasyarakatnya Jurnalisme dan sudah menjadi makanan sehari-hari bagi mereka yang bekerja di dunia ini.
Realisasi sederhana jurnalistik, berawal pada pemerintahan Julius Caesar, kaisar Romawi yang memerintahkan agar pempublikasian kegiatan senat pada khalayak di lakukan dengan menempelkan kegiatan itu di papan pengumuman.
Khalayak (hartawan dan tuan tanah) yang segan meninggalkan rumah, menginstruksikan para pesuruhnya (disebut Diurnarii) untuk melihat dan mencatat pengumuman tersebut serta memberitahukan kembali kepada mereka.
Seiring berjalannya waktu dan pemikiran manusia, kegiatan tersebut dijadikan sumber penghasilan bagi sebagian masyarakat. Sebelum Diurnarii bergerak, mereka telah menyiapkan point-point kegiatan senat dan menuliskan nya, berupa catatan harian kegiatan senat, kemudian menjualnya.

Persaingan pun terjadi diantara Diurnarii dan pedagang catatan tersebut. Mereka mencoba memberlakukan inovasi, dengan menuliskan di catatan itu tidak hanya kegiatan senat, melainkan berita lain yang bisa di komersilkan. Mereka mencari berita hingga keluar Roma.Pelabuhan dan penginapan didatangi untuk mencari informasi dari pengunjung mengenai kejadian-kejadian di luar negeri.

Masa ini berakhir ketika seorang Diurnarii bernama ‘Julius Rusticus’, di hukum gantung karena memberitakan informasi yang seharusnya belum bisa di publikasikan. Diurnarii ini menuliskan berita pemindahan seorang pembesar yang masih dalam tahap pertimbangan oleh kaisar dan jika pemindahan itu di lakukan juga dengan penuh hati-hati. Informasi ini, pada saat itu masih dirahasiakan dan tidak ingin diketahui khalayak sebab belum waktunya menurut kaisar.

Runtuhnya kerajaan Romawi, menghilangkan jejak jurnalistk sederhana yang pada saat itu juga, Eropa sedang mengalami dark ages.

Perkembangan selanjutnya tidak jauh berbeda dengan Jurnalistik saat ini. Tragedi hukum gantung Diurnarii di Roma menjadi pelopor motivasi-motivasi mereka yang menuntut kebebasan pers.Kebebasan ini terwujud di Inggris (tahun 1644) oleh John Milton terkenal dengan Areopagitica , A Defense of Unlicenced Printing. Hingga saat ini, kebebasan pers tetap di akui, tetapi harus berorientasi pada Undang-Undang Pers, KUHP,dan Kode Etik Jurnalistik.
Sejarah sederhana Jurnalisme di atas tetap mewariskan dilema yang sama bagi pekerjanya yang melibatkan prinsip pribadi dalam pemberitaan.

Pekerja yang dimaksud adalah wartawan. Dalam pemberitaan, seorang wartawan tidaklah sebebas orang berpidato, berceramah, dan berkotbah. Wartawan tidak memiliki kebebasan yang penuh untuk memberitakan dan menambahkan opini nya dalam suatu berita.

Kompleksitas terjadi jika wartawan di hadapkan pada prioritas pertimbangan isi atau pesan surat kabar dan respon komunikan (pemerintah, masyarakt yang masih terbagi atas beberapa golongan, yang masing-masing memiliki interpretasi berbeda dalam memahami suatu berita ).

Selain ketentuan-ketentuan tertulis yang berlaku secara nasional , wartawan juga di hadapkan dengan kebijakan-kebijakan surat kabar yang memberi upah padanya.Salah memilih, mengambil dan mengedit pesan dapat mengancam hidup surat kabar wadah wartawan bekerja yang secara otomatis mengancam sumber penghidupan wartawan.

Persepsi pribadi wartawan yang berbeda dalam penafsiran ciri surat kabar (publisitas, periodisitas,universalitas, aktualitas) yang mempengaruhi secara langsung proses pemberitaan, menjadi kerikil kecil penambah bangunan kedilemaan wartawan,terutama ciri aktualitas. Ciri ini seringkali memaksa wartawan mengejar kecepatan laporan, tanpa kebenaran berita.

Sebagian dari wartawan menjadi objective reporting, yang berpegang teguh bahwa melaporkan fakta adalah satu-satunya tugas mereka dan segala konsekuensi, kehilangan nyawa sekalipun, mereka telah siap.

Dilema lain muncul akibat dari pemahaman arti dan konsep berita yang ambigu. Berita yang umumnya disebut ‘News’, seringkali di artikan wartawan dengan penerjemahan kata ( N=North,E=East, W=West dan S=South).

Diartikannya kata ‘News’, dalam pemahaman konsep mata angin menimbulkan persepsi berita sebagai laporan dari ke empat mata angin di atas, berita ada dimana-mana, dan akan di cari hingga keseluruh penjuru dunia.

Defenisi antik ciptaan Lord Northchliffe dari Inggris, “ If a dog bites a man, it is not news, but if a man bites a dog it is new” terkenal di kalangan wartawan dan masih juga ditemui dalam literatur jurnalistik.
Defenisi itu seolah-olah menganggap bahwa berita itu hanya lah kenyataan yang terjadi saat ini, padahal berita bisa jadi prediksi kejadian yang akan datang lewat indikasi pada suatu kenyataan saat ini dan opini orang.

Defenisi di atas, tidak sejalan dengan defenisi sebenarnya yang di kemukakan oleh Prof.Mitchel V Charnley dalam “Reporting”, yang isinya,” News is the timely report of facts or opinion of either interest of importance, or both, to a considerable number of people.” (berita adlah laporan tercepat mengenai fakta atau opini yang mengandung hal yang menarik minat atau penting, atau kedua-duanya, bagi sejumlah besar penduduk).

Wartawan sebagai komunikator dalam dunia Jurnalisme , yang telah di percaya memiliki 3 faktor ethos, yaitu : itikad baik, dapat di percaya, dan kecakapan di harapkan berpartisipasi dalam pembangunan.

Dilema-dilema dalam dunia pemberitaan merupakan tantangan bagi para wartawan untuk membina diri dengan mengembangkan pengetahuan dan meningkatkan keterampilan, sehingga beritanya nyata bermanfaat bagi masyarakat dan bagi pembangunan oleh pemerintah serta berfungsi nyata dalam mengontrol masyarakat dan pemerintah.

DAFTAR PUSTAKA

Effendi Onong.1981.Dimensi-Dimensi Komunikasi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s