#BRIDGING COURSE 08

Standar

SIMBOL SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI.

Komunikasi dalam kehidupan sehari-hari tidak selamanya menggunakan bahasa sebagai media penyampaian pesan.Kehadiran tanda yang beragam juga memberi kontribusi dalam komunikasi.Jenis-jenis tanda itu bisa berwujud symbol, lambang,kode,ikon,syarat,si nbnyal dan lain sebagainya.

Seluruh tanda di atas di kaji dalam studi komunikasi dalam sebuah disipin ilmu yang disebut “semiotika” atau “semiologi”.

Dalam defenisi Saussure (Budiman, 1999a:107), semiologi merupakan “sebuah ilmu yang mengkaji kehidupan tanda-tanda di tengah masyarakat”.

Dalam tulisan ini, akan di bahas symbol, sebagal salah satu bagian dari tanda, yang digunakan sebagai media perantara komunikasi.Simbol juga sama dengan lambang.
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan WJS Poerwadarminta disebutkan, symbol adalah semecam tanda, lukisan, perkataan, lencana,dan sebagainya yang menyatakan sesuatu hal, atau mengandung maksud tertentu.
Contoh symbol : warna biru menggambarkan perdamaian, timbangan yang melambangkan keadilan, dan contoh lainnya.

Biasanya symbol terjadi dengan metonimi, yakni nama untuk benda lain yang berasosiasi atau yang menjadi atributnya.Misalnya sebutan si kaki empat untuk seseorang yang menggunakan tongkat.Selain itu, symbol juga terjadi dengan methapora (berdasarkan kias atau persamaan).

Meskipun symbol adalah bagian dari tanda, symbol berbeda dengan tanda. Tanda langsung berkaitan dengan objek, sedangkan symbol masih memerlukan pemaknaan untuk menghubungkan dengan objek.

Misalnya salib yang menjadi symbol rumah ibadat umat Kristen hanya lah sebagai penanda.Akan tetapi, symbol salib adalah symbol yang dihormati mereka, sebagai lambang pengorbanan Kristus demi umat manusia (Liliweri,2001:296).

Kehadiran symbol di kehidupan manusia, tidak hanya melambangkan sesuatu dalam bidang social, keagamaan, dan yang lainnya. Symbol juga hadir dan merambah hampir keseluruh bidang kehidupan manusia, baik gaya hidup, budaya, politik, ekonomi, dan bidang lain yang mempengaruhi hidup manusia.

Ada pun yang menjadi ciri simbol, yaitu subjek di tuntun memahami objek (subjek aktif), mempunyai lebih banyak arti (sedikitnya dua arti), subjek dituntun memahami objek secara terus-menerus (berlaku secara menetap), berbentuk konkret/abstrak, hanya manusia yang memahaminya, yang di pakai untuk lambang/simbol, tidak mempunyai hubungan khusus dengan yang dilambangkan, dan diciptakan manusia untuk manusia.

Gaya hidup dominannya dihubungkan dengan kelas social ekonomi dan citra seseorang.Gaya hidup ditunjukkan dalam keputusan memilih barang : membeli mobil, sepatu, busana, kaca mata, ikat pinggang dan barang lainnya.

Umumnya mereka yang memiliki status social ekonomi tinggi memilih dan menggunakan sesuatu selalu mengutamakan merek. Barang yang bermerek berbanding lurus dengan harga yang mahal.

Adanya barang yang bermerek melambangkan status social seseorang. Tanpa kita mengetahui penghasilan seseorang atau taanpa mengecek slip gaji seseorang, kita juga sudah mengetahui statusnya lewat merek barang yang digunakan.

Wujud nyata dari sebuah symbol lebih sering kita temukan dalam kebudayaan.Budaya sebagai hasil pemikiran manusia, sering di aplikasikan lewat pemaknaan suatu objek.

“Semua makna budaya diciptakan dengan menggunakan symbol-simbol,”kata James P.Sradley (1997 : 121).”Makna hanya dapat di simpan dalam symbol”, ujar Clifford Geertz (1992:51).

Semua makna budaya diciptakan dengan menggunakan simbol-simbol. Simbol mengacu pendapat Spradley (1997:121) adalah objek atau peristiwa apapun yang menunjuk pada sesuatu. Semua simbol melibatkan tiga unsur: pertama, simbol itu sendiri, kedua, satu rujukan atau lebih. Ketiga, hubungan antar simbol dengan rujukan. Semuanya itu merupakan dasar bagi keseluruhan makna simbolik. Sementara itu, simbol sendiri meliputi apapun yang dapat kita rasakan atau alami.

Menggigil bisa diartikan dan dapat pula menjadi simbol ketakutan, kegembiraan atau yang lainnya. Mencengkam giri, mengerdipkan mata, menganggukkan kepala, menundukkan tubuh, atau melakukan gerakan lain yang memungkinkan, semuanya dapat merupakan simbol.

Kebudayaan masyarakat Indonesia sering dihubungkan dengan sejarah empiris. Sejarah empiris itu diwujudkan pemaknaannya dengan membangun monument-monumen, yang juga memberi kepercayaan diri Indonesia.
Contohnya monument pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng dan Monumen Nasional di Medan Merdeka.

Tempat-tempat sakral kepunyaan suku-suku di Indonesia, merupakan lambang budaya yang memberi Identitas budaya bagi mereka dan juga kepercayaan lainnya yang memperkuat watak mereka.

Manusia, sebagai pencipta, penafsir, dan pengguna simbol, terkadang irrasional dalam memaknai sesuatu, seolah-olah ada kemestian atau ada hubungan alamiah antara suatu simbol dengan apa yang disimbolkan.
Ketika menikah, masih ada yang memilih hari pernikahan berorientasikan hari baik dan hari buruk menurut penanggalan nenek moyang.

Di sebuah desa terpencil di provinsi Sumatera Utara, terdapat bongkahan emas sebesar kepala kerbau yang tersimpan dalam sebuah batu besar bertutup. Menurut legenda suku batak, yang merupakan penduduk asli disana, sudah banyak perampok yang datang kesana mencoba mencuri emas tersebut.

Umumnya, perampok itu tidak berhasil merampok emas tersebut dan memperoleh penyakit. Ada pun perampok yang berhasil, mereka biasanya akan kehilangan nyawa.Anehnya, emas curian tersebut terbang kembali ke tempat awal diletakkan.Legenda, hasil kebudayaan ini menanamkannwatak jujur bagi mereka.

Penyebaran simbol pun merambah hingga ke makanan. Beberapa makanan rakyat dinamai dengan makna simbolis.Misalnya, nasi tumpeng yang dipergunakan untuk bancakan dalam upacara ritual dimaknai sebagai simbol gunung Mahameru, sumber kehidupan.

Jenis-jenis simbol yang di pandang oleh suatu masyarakat sebagai sesuatu yang sakral memiliki banyak variasi dan pola. Semua itu bagi masyarakat memebri rangkuman apa yang mereka ketahui mengenai makna hidup.Dan makna itu hnya dapat di simpan dalam simbol.

DAFTAR PUSTAKA

Geertz,Cliffoord.1992.Kebudayaan dan Agama.Penerjemah Fransisco Budi Hardiman.Yogyakarta:Kanisius

Liliweri,Alo.2001.Gatra-Gatra Komunikasi Antarbudaya.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s