#BRIDGING COURSE 10

Standar

SESEDERHANA SALAM UNTUK SERUMIT KONFLIK

Mewabahnya konflik di Indonesia,sudah menjadi fakta warisan yang menjamur.Seringkali kita menemukan konflik-konflik di Indonesia.

Di televisi kita menyaksikan konflik antar suku yang berpuncak pertengkaran hingga berkorban nyawa.Gerakan separatime daerah juga bermunculan.

Kita hanya bisa memberikan pandangan secara subjektif.Banyak yang memandang itu terjadi karena kinerja aparat pemerintahan yang belum maksimal atau bahkan kita mulai menampakkan keberpihakan terhadap salah satu suku.Tersiratnya, kita sudah menumbuhkan benih potensi konflik yang baru.

Seiring memanasnya konflik, aparat pemerintah mulai muncul di banyak media mengumbar kalimat-kalimat manis,mencoba menyembunyikan kenyataan.

Pluralisme yang kita miliki selama ini, seringkali menimbulkan konflik terutama karena kemajemukan agama dan suku yang kita miliki.

Namun, sudah relakah kita merusak keunikan Indonesia dengan konflik yang kita picu?
Konflik nasional memang memberi dampak yang besar,tetapi bukan berarti kita tidak bisa mengatasi nya dengan mulai mengurangi skala konflik itu.

Kita hanya butuh komunikasi yang baik untuk mencegah konflik.Sesederhana saat kita mengucapkan salam kepada orang yang baru kita kenal.

Dilihat dari jumlah kebudayaan, Indonesia memiliki 16 kebudayaan asli.Kebudayaan itu antara lain: kebudayaan Nias,kebudayaan Mentawai,kebudayaan Irian Jaya,kebudayaan Batak,kebudayaan Kalimantan

Tengah,kebudayaan Minahasa,kebudayaan Ambon,kebudayaan Flores,kebudayaan Timor,kebudayaan Aceh,kebudayaan Minangkabau,kebudayaan Bugis-Makassar,kebudayaan Bali,kebudayaan Sunda,kebudayaan Jawa,dan beberapa kebudayaan lain yang berasal dari luar,sperti kebudayaan Tionghoa (Koentjaraningrat 1982).

Sedangkan agama yang diakui di Indonesia ada 6,yaitu agama Kristen, Katolik, Islam, Budha, Hindu, dan Konghucu.

Selama ini, konflik yang terjadi di Indonesia seringkali berdasarkan pluralisme agama dan kebudayaan yang dimiliki setiap suku.Bahkan, terkadang ada konflik kecil yang kemudian membesar karena pelaku konflik mengatasnamakan agama dan suku.

Kepluralismean bangsa Indonesia merupakan faktor aneka warna bangsa Indonesia.Hal ini sering kita banggakan,tetapi di sisi lainnya, ini juga membuat pembangunan lebih sukar.

Mengatur dan mengurus sejumlah orang yang memiliki kesamaan ciri,kehendak dan adat istiadatnya sudah pasti lebih mudah daripada mengurus sejumlah orang yang semuanya berbeda-beda mengenal hal-hal tersebut tadi apalagi kalau orang-orang yang berbeda-beda itu tak dapat saling bergaul baik satu dengan lain (Koentjaraningrat 1982:375).

Banyaknya fenomena konflik di Indonesia bukan berarti tidak ada solusi untuk mengurangi dan mengatasinya.Kita hanya butuh keberanian untuk memulai komunikasi dengan yang lainnya.Tepatnya komunikasi perdamaian.

Masyarakat Pontianak,Manado,Kupang,dan Makassar telah memulainya dengan melakukan komunikasi lewat dialog semiloka.Mereka merumuskan bahwa perdamaian bukanlah sebuah keadaan yang tidak ada lagi perbedaan,tetapi justru yang menghargai perbedaan.Perdamaian tidak harus semuanya menjadi sama,tetapi saling menghormati (Tanuwibowo: 2002)

Keefektifan komunikasi dalam mencegah dan mengatasi konflik juga dapat kita temui dalam pelaksanaan otonomi daerah.Pada dasarnya, pemerintah mewujudkan ini sebagai realisasi dari sistem desentralisasi.
Agar terjalin kerjasama antar daerah yang melibatkan daerah-daerah otonom dilakukan dialog yang berwujud sharing (dalam Pratikno,Yudhoyono 2002:12).

Semakin tinggi derajat sharing mereka, semakin banyak kerjasama yang terwujud dan kemungkinan terjadinya konflik semakin kecil.Demikian sebaliknya, semakin rendah derajat sharing semakin sedikit kerjasama yang terwujud dan kemungkinan konflik terjadi semakin besar.

Jika melakukan komunikasi antardaerah masih tergolong sulit untuk dilakukan maka hal ini dapat diwujudkan melalui kelompok yang lebih kecil,yaitu melalui pembentukan komunitas.

Di dalam sebuah komunitas, terjadi komunikasi yang akan menumbuhkan keinginan untuk mengenalkan komunitasnya kepada komunitas yang memiliki kebudayaan berbeda.

Kita juga perlu membangun pusat-pusat komunitas yang memungkinkan orang-orang dari berbagai kelompok bersosialisasi (Deddy Mulyana 2001:14).
Kesenian daerah menjadi alternatif baru untuk berkomunikasi.Selain memperkenalkan kebudayan masing-masing daerah juga membangun sosialisasi satu dengan lainnya.

Seperti yang dilakukan oleh Pak Dalang dan rekannya.Mereka melakukan pertunjukan wayang untuk menyampaikan pesan (Keluarga berencana) kepada penontonnya.

Pertunjukan seni tradisional wayang golek sebagai sarana hiburan penerangan dan pendidikan adalah media kegiatan menyampaikan pesan kepada penonton oleh Pak Dalang bersama rekan-rekannya (Onong Uchjana 1986:182).
Dilihat dari aspek individu, mencegah dan mengatasi adanya konflik dapat dilakukan setiap orang dengan melakukan hubungan manusiawi.Hubungan manusiawi termasuk komunikasi karena sifatnya action oriented, mengandung kegiatan untuk mengubah sikap,pendapat atau perilaku seseorang (Onong:2003).

Cakupan komunikasi bukan tidak hanaya menggunakan kata-kata (komunikasi verbal) tetapi juga penyampaian pesan nonverbal yang berhubungan dengan cara mengungkapkan pesan verbal (disebut pesan paralinguistik).Satu pesan verbal yang sama dapat menyampaikan arti yang berbeda (Jalaluddin Rakhmat tanpa tahun :292).

Komunikasi menggunakan simbol juga dapat memicu konflik yang berada disekitar masyarakat.Simbol yang dimaksud tidak harus berupa karya manusia.Manusia sendiri juga merupakan simbol yang hidup.Dari semua simbol, simbol yang paling kuat adalah manusia yang hidup (widyamartaya:2006).

Kekuatan manusia sebagai simbol lewat aplikasi ilmu,sikap,dan perilaku dapat memicu hal positif dan negatif, tergantung bagaimana kita merepresentasikannya dalam kehidupan.Hal negative yang ditimbulkan dapat berupa separatisme dan jenis konflik lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

(Daya kekuatan simbol,di terjemahkan oleh A.Widyamartaya,Yogyakarta, penerbit kanisius(anggota IKAPI)) F.W.Dillistone.2006, the power of Symbols )

(kerjasama antar daerah, ed :Dr.Pratikno, M.Soc.Sc,2007, Yogyakarta, diterbitkan oleh program s2 politik local dan otonomi daerah ugm, jurusan ilmu pem (jip) fisipol ugm, percetakan Jogja global media).

Rakhmat Jalaluddin.Tanpa tahun.Psikologi Komunikasi.Bandung.REMAJA KARYA

Uchjana Effendy,Onong.2003.Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek.Bandung.PT.REMAJA ROSDAKARYA.

Budi S.Tanuwibowo,dkk.2002.Yogyakarta.PUSATAKA BELAJAR

Mulyana,deddy.2001.Nuansa-nuansa Komunikasi.Bandung.PT.REMAJA ROSDAKARYA

Uchjana,onong.1986.Dinamika Komunikasi.Bandung.CV.REMAJA KARYA

N

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s