BRIDGING COURSE 11

Standar

PERAN KOMUNIKASI DALAM KONFLIK KEDAERAHAN
Hakikatnya, setiap masyarakat pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya.Demikian juga halnya dengan mewabahnya konflik di Indonesia yang sudah menjadi fakta warisan.
Dilihat dari latarbelakang keberadaan daerahnya, saat ini Indonesia memiliki 33 provinsi, lima diantaranya merupakan daerah istimewa dan daerah khusus (Rony,2012).
Sedangkan pulau di Indonesia berjumlah 13.466 pulau dengan 336 suku dan 250 bahasa daerah, berdasarkan survey Geografi dan Toponimi ( Leonardus,2012).
Dari seluruh pulau di Indonesia yang memiliki penghuni hanyalah 6000 pulau dan hanya ada 6 pulau besar,yaitu : Pulau Sumatra,Pulau Jawa,Pulau Kalimantan,Pulau Sulawesi,dan Pulau Irian/Papua.
Kenyataan di atas menggambarkan kehidupan masyarakat di Indonesia masih banyak yang murni berbasiskan suku dan masih banyak yang hidup di daerah pedalaman (suku pedalaman).Mereka jarang melakukan kontak dengan pulau lainnya sehingga ketika beberapa diantara mereka berbaur ke pulau lain atau ke kelompok lainnya yang lebih besar, sering terjadi konflik.

Dengan dibawasertanya ciri-ciri kesukuan dalam interaksi sosial kehadiran konflik yang berskala nasional sekalipun sudah menjadi situasi yang wajar dan sering dalam masyarakat Indonesia.
Konflik nasional memang memberi dampak yang besar,tetapi bukan berarti kita tidak bisa mengatasi nya dengan mulai mengurangi skala konflik itu.
Kita hanya butuh komunikasi yang baik untuk mencegah konflik.Sesederhana saat kita mengucapkan salam kepada orang yang baru kita kenal untuk mencegah relasi yang tidak baik.
Keberanekaragaman suku dan bahasa bangsa Indonesia merupakan faktor aneka warna bangsa Indonesia.Hal ini sering kita banggakan,tetapi di sisi lainnya, ini juga membuat pembangunan lebih sukar.
Mengatur dan mengurus sejumlah orang yang memiliki kesamaan ciri,kehendak, dan adat istiadatnya sudah pasti lebih mudah daripada mengurus sejumlah orang yang semuanya berbeda-beda mengenal hal-hal tersebut tadi apalagi kalau orang-orang yang berbeda-beda itu tak dapat saling bergaul baik satu dengan lain (Koentjaraningrat 1982:375).

Konflik tidak akan terjadi tanpa adanya pemicu atau penyebabnya.Hal yang mendasar yang menjadi penyebab konflik antaretnis (antarsuku) di Indonesia adalah prasangka atau stereotip negativ antaretnis.
Idealnya pemicu konflik (prasangka sosial antar etnik) dapat dicegah melalui 3 cakupan komunikasi,yaitu mengatasi masalah komunikasi,komunikasi yang baik dan diaplikasikan dalam kehidupan dan berkomunikasi yang dalam tindakan yang ramah tamah terhadap sesama (alo,2005:240).
Prasangka sederhana dapat ditemui dalam dunia sekolah.Pada sebuah sekolah, dua kelompok murid dilatih untuk suatu pertunjukan.Kelompok pertama terdiri dari anak-anak buruh rendah.Kelompok kedua terdiri dari anak-anak orang kaya.

Anak-anak orang miskin dilatih sedemikian rupa sehingga tidak ada kesalahan sedangkan kelompok anak-anak orang kaya disengaja untuk membuat kesalahan.
Setelah pertunjukan selesai, para penonton diminta menilai kelompok yang membuat kesalahan.Kebanyakan menjawab anak-anak buruh rendah yang berbuat kesalahan paling banyak.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam menilai suatu pun berlaku rasa simpati dan tidak simpati, like and dislike.Jadi terdapat prasangka bahwa anak-anak orang kaya tak dapat berbuat lebih banyak kesalahan daripada buruh rendah.

Contoh stereotip negatif antaretnik yang paling sering misalnya, saya ingin berkomunikasi dengan orang Batak,Ambon,Papua,tetapi claim ketiga suku ini adalah jika tertawa terbahak-bahak,bicara sambil mengepalkan tinju,dan lain-lain.

Mengatasi stereotip seperti ini dapat dilakukan melalui lokakarya yang pesertanya berasal dari beragam etnik, fasilitator dapat menolong peserta untuk menelusuri stereotip antaretnik di antara mereka,dan belajar mengkomunikasikan informasi secara jujur,terbuka,dan cara yang dapat diterima.
Pada skala besar dilakukan dengan pertemuan publik,kampanye,propaganda melalui komunitas formal dan formal,lembaga pendidikan,dan media massa.

Tragisnya, seringkali konflik antaretnis dan konflik yang mengatasnamakan etnis terjadi disebabkan hal-hal sepele yang sering berakhir pada konflik yang mengorbankan nyawa.
Layaknya lokasi pulau-pulau Indonesia yang masih banyak terisolasi, banyak suku di Indonesia membungkus diri dengan etnosentrisme masing-masing.Rasa keaku-akuan seiring dengan minimalnya komunikasi dengan etnis lain masih mendominasi.

Kasus konflik Tarakan, Kalimantan Timur, berawal dari salah seorang pemuda Suku Tidung yang melintas di kerumunan Suku Bugis, lantas di keroyok oleh lima orang hingga tewas karena sabetan senjata tajam. Konflik Tarakan menjadi memanas nyatanya tersimpan dendam ke Suku Bugis yang lebih maju menguasai sektor ekonomi.

Faktor ekonomi yang belum terkomunikasikan juga menjadi penyebab utama konflik di bangsa ini, dalam kasus sebuah klub kafe di Bilangan Jakarta Selatan “Dari Blowfish Ke Ampera” antara Suku Ambon dan Suku Flores yang berawal dari perebutan jasa penjaga preman hingga konflik tersebut mengarah ke konflik etnis. Sampai pada Sidang Pengadilan masing-masing pihak yang bertikai masih menunjukan etnosentrisnya.

Ketidakmerataan penyebaran penduduk juga dapat menimbulkan masalah. Kepadatan penduduk yang mendororong etnis Madura melakukan migrasi ke Pulau Kalimantan. Di mana masih membutuhkan kebutuhan akan Sumber Daya Manusia untuk mengolah kekayaan alam dan membangun infrastruktur perekonomian. Pencapaian atas kerja keras, hidup hemat bahkan penderitaan yang dirasakan etnis Madura terbayarkan sudah ketika keberhasilan sudah ditangan. Dengan menguasai sektor-sektor perdagangan sehingga orang-orang non Madura yang lebih awal bergerak di bidang itu terpaksa terlempar keluar.

Persaingan hidup antar etnis ini pun terjadi. Timbullah kecemburuan sosial antara etnis pendatang (Suku Madura) dengan etnis asli (Suku Dayak) yang mendiami Pulau Kalimantan ini. Keadaan inilah yang dimanfaatkan oleh misionaris untuk mencapai tujuan dengan memprovokasi keduanya. Isu yang diangkat yaitu sentimen agama karena hal-hal yang menyangkut prinsip bagi manusia yang mudah untuk digiring ke daratan. Meletuslah konflik Sampit di Kalimantan antara Etnis Dayak dan Etnis Madura. Sampai saat ini untuk menentukan pihak yang benar sangat sulit. Dikarenakan semua pihak yang bertikai bisa dikatakan benar dan bahkan keduanya bisa dikatakan salah. Keberagaman yang ada di Indonesia sangat rentan terjadinya konflik ras.

Kerusuhan yang terjadi di perkotaan berbeda dengan kerusuhan di Kupang. Hal yang paling menarik untuk dibahas adalah club sepak bola Persija (The Jak) dan Persib (Viking). Kedua club ini selalu dipertemukan diajang Liga Indonesia. Membicarakan popularitas, tentu saja Persib yang digaungi oleh supporter Viking ini menoreh masa kejayaan. Tentu saja hal ini membuat Persija merasa iri, jelas-jelas club sepak bola berasal dari ibukota negara yang seharusnya lebih unggul (nurul hidayat:2011).
Semua fenomena konflik yang ekstrim sekali pun di Indonesia, bukan berarti tidak ada solusi untuk mengurangi dan mengatasinya.Kita hanya butuh keberanian untuk memulai komunikasi dengan yang lainnya.Tepatnya komunikasi perdamaian.

Masyarakat Pontianak,Manado,Kupang,dan Makassar telah memulainya dengan melakukan komunikasi lewat dialog semiloka.Mereka merumuskan bahwa perdamaian bukanlah sebuah keadaan yang tidak ada lagi perbedaan,tetapi justru yang menghargai perbedaan.Perdamaian tidak harus semuanya menjadi sama,tetapi saling menghormati (Tanuwibowo: 2002)

Keefektifan komunikasi dalam mencegah dan mengatasi konflik juga dapat kita temui dalam pelaksanaan otonomi daerah.Pada dasarnya, pemerintah mewujudkan ini sebagai realisasi dari sistem desentralisasi.
Agar terjalin kerjasama antar daerah yang melibatkan daerah-daerah otonom dilakukan dialog yang berwujud sharing (dalam Pratikno,Yudhoyono 2002:12).

Semakin tinggi derajat sharing mereka, semakin banyak kerjasama yang terwujud dan kemungkinan terjadinya konflik semakin kecil.Demikian sebaliknya, semakin rendah derajat sharing semakin sedikit kerjasama yang terwujud dan kemungkinan konflik terjadi semakin besar.

Jika melakukan komunikasi antardaerah masih tergolong sulit untuk dilakukan maka hal ini dapat diwujudkan melalui kelompok yang lebih kecil,yaitu melalui pembentukan komunitas.
Di dalam sebuah komunitas, terjadi komunikasi yang akan menumbuhkan keinginan untuk mengenalkan komunitasnya kepada komunitas yang memiliki kebudayaan berbeda.

Kita juga perlu membangun pusat-pusat komunitas yang memungkinkan orang-orang dari berbagai kelompok bersosialisasi (Deddy Mulyana 2001:14).
Dilihat dari aspek individu, mencegah dan mengatasi adanya konflik dapat dilakukan setiap orang dengan melakukan hubungan manusiawi.

Hubungan manusiawi termasuk komunikasi karena sifatnya action oriented, mengandung kegiatan untuk mengubah sikap,pendapat atau perilaku seseorang (Onong:2003).
Cakupan komunikasi tidak hanya menggunakan kata-kata (komunikasi verbal) tetapi juga penyampaian pesan nonverbal yang berhubungan dengan cara mengungkapkan pesan verbal (disebut pesan paralinguistik).Satu pesan verbal yang sama dapat menyampaikan arti yang berbeda (Jalaluddin Rakhmat tanpa tahun :292).
Komunikasi verbal yang ditemui dalam kesenian daerah menjadi alternative baru untuk melakukan komunikasi antaretnis dan daerah.

Sebelum suatu kesenian daerah dapat dinikmati oleh orang dari daerah/etnis lain maka ia harus mengerti arti dari lambang-lambang yang dipergunakan dalam gerakan, nyanyian maupun lukisan.
Hal ini dapat dilakukan melalui pemberian penjelasan kepada komunikan dari luar daerah. Apabila pengertian telah terjadi maka akan diikuti perasaan indah, ingin mendalaminya sehingga permulaan interaksi dengan kesenian daerah yang lain dapat menghasilkan pengertian dan keterikatan batin.

Dengan demikian terjadilah sosialisasi antarkelompok melalui pengertian terhadap seni budayanya yang berkontribusi untuk mengurangi terjadinya konflik antar etnis dan daerah.
Seperti yang diutarakan Phil.Astrid Susanto (1977:156):
“Tugas sosialisasi dan Indonesianisasi dari kebudayaan daerah merupakan hal yang penting dalam usaha pemupukan ikatan batin sebangsa antar daerah.Melalui pengembangan kebudayaan dan kesenian daerah terjadilah pemupukan ikatan batin dan sperasaan.Bila penduduk suatu daerah dapat menerima kesian suatu darah lain, hal ini berarti kesatuan batiniah sedang dibentuk dan ditempah.”
Kegiatan ini telah dilakukan oleh Pak Dalang dan rekannya lewta pertunjukan wayang untuk menyampaikan pesan (Keluarga berencana) kepada penontonnya.
Pertunjukan seni tradisional wayang golek sebagai sarana hiburan penerangan dan pendidikan adalah media kegiatan menyampaikan pesan kepada penonton oleh Pak Dalang bersama rekan-rekannya (Onong Uchjana 1986:182).

Kita juga bisa melakukan hal yang sama dengan menggunakan kesenian daerah masing-masing untuk menyampaikan pesan persahabatan dan pesan damai.
Kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa daerah memiliki peranan penting dalam menangani konflik antaretnis di Indonesia.

Mia Lauder ahli bahasa dari departemen linguistic FIB UI, dalam acara diseminasi hasil penelitian mengenai bahasa-bahasa etnis di Indonesia yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, Kamis (15/12) mengatakan : “Seseorang yang mampu bicara berbagai macam bahasa membuat seseorang menjadi jauh lebih bijaksana dalam menangani masalah dibanding dengan yang bisa satu bahasa karena bisa melihat masalah dengan berbagai perspektif.”

Komunikasi menggunakan simbol juga dapat memicu konflik yang berada disekitar masyarakat.Simbol yang dimaksud tidak harus berupa karya manusia.Manusia sendiri juga merupakan simbol yang hidup.Dari semua simbol, simbol yang paling kuat adalah manusia yang hidup (widyamartaya:2006).
Apa yang kita persepsi sangat dipengaruhi oleh apa yang kita harapkan.Bila kita mengharapkan orang-orang lain berperilaku tertentu, kita dapat mengkomunikasikan pengharapan kita kepada mereka dengan cara-cara yang subtil karena itu akan menambah kemungkinan bahwa mereka pun akan berperilaku sebagaimana yang kita harapkan (Deddy Mulyana, 2003:235).

Oleh karena itu dalam berkomunikasi atau bergaul dengan orang-orang dari budya yang berbeda itu, tidaklah bijaksana bagi kita untuk bersikap etnosentrik atau memiliki prasangka negative terhadap orang itu,tetapi kita harus menjadi manusia antarbudaya yang bisa menemparkan diri di etnis apa pun tanpa mengubah identitas kita dengan berani mengkomunikasikan pengharapan kita jika tidak sesuai dengan lingkungan.Dengan begitu kita telah berkontribusi dalam pencegahan konflik di negeri ini.

DAFTAR PUSTAKA
Buku
Astrid, Phil. 1977. Komunikasi Kontemporer. Jakarta: Binacipta
Dillistone.2006.The Power of Symbols (terj.).Yogyakarta: Kanisius
Koentjaraningrat (Ed.).1982. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia.Jakarta: Djambatan.
Liliweri, Alo. 2005. Prasangka dan Konflik. Yogyakarta: LKiS
Mulyana, Deddy. 2001. Nuansa-Nuansa Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya
Mulyana, Deddy dan Jalaluddin Rakhmat (Ed.). 2003. Komunikasi Antarbudaya. Bandung: Remaja Rosdakarya
Rakhmat, Jalaluddin. Tanpa tahun. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Karya
Sumartana, dkk. 2001. Pluralisme,Konflik, dan Pendidikan Agama Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Tanuwibowo, Budi dkk. 2002. Pluralisme,Konflik dan Peramaian. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Uchjana, Onong.1986. Dinamika Komunikasi. Bandung: Remaja Karya
Uchjana, Onong. 2003. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya
Internet :
Nurul Hidayat, http://sejarah.kompasiana.com/2011/04/13/menyelami-konflik-etnis-di-indonesia/ di upload pukul 21.46,tanggal 13 April 2011
Ronnie,2012. http://edukasi.kompasiana.com/2012/01/16/berapa-jumlah-provinsi-di-indonesia/diupload tanggal 16 January 2012, pukul 09:56
Leonardus,2012.http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/02/hanya-ada-13466-pulau-di-indonesia/ di upload pada hari Rabu, 08 Februari 2012, Pukul 16:05 WIB

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s