SEJARAH DISKRIMINASI PENGGUNAAN TANGAN KIRI

Standar

Tangan merupakan salah satu anggota tubuh yang memiliki peranan penting bagi kita. Penggunaan tangan yang baik adalah dengan mempekerjakan keduanya (tangan kanan dan kiri) dengan porsi yang sama. Namun, kita sering kali secara tidak sadar menggunakan kedua nya secara diskriminatif dengan penggunaan tangan kanan lebih mendominasi.

Banyak fenomena di sekitar kita yang mengharuskan penggunaan tangan dan banyak pula aturan yang mengatur penggunaan nya secara tidak tertulis. Banyak pertanyaan yang timbul, seperti mengapa kita makan harus menggunakan tangan kanan? Mengapa berjabat tangan harus menggunakan tangan kanan? Mengapa menggunakan tangan kiri di anggap tidak sopan? dan masih banyak pertanyaan lain.

Hampir 90 persen manusia menggunakan tangan kanan. Jika di lihat dari segi sejarahnya manusia yang dikaji melalui gambar di dinding-dinding gua, alat-alat dari zaman batu, atau pecahan tulang kera dan babon, menunjukkan bahwa mayoritas mereka menggunakan tangan kanan. Penggunaan tangan kanan sudah setua usia manusia (Taufiq Pasiak, 2008:153). Fakta ini, seolah mendukung dominasi aktivitas tangan kanan.

Diskriminasi penggunaan tangan juga di picu oleh penggunaan istilah kanan dan kiri yang merambah di masyarakat. Kiri cenderung dimaknai “negatif” dan kanan cenderung dimaknai “positif”. Pemaknaan ini di bawa oleh masyarakat dalam aplikasi kehidupan sehari hari.
Seorang tentara KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat) bahkan menganggap tangan kiri tidak layak memakai jam tangan karena itu artinya tidak menghargai waktu. Jam tangan harus di pakai di tangan kanan yang lebih mulia untuk menunjukkan penghargaan waktu.
Beberapa contoh diskriminasi penggunaan kiri dan kanan (Fauziah Humaira, 2011) :
• Domain linguistik
Secara etimoligi, left (kiri) menunjukkan kotoran dan kejelekan, sedangkan right (kanan) sebaliknya, yaitu adil, benar, dan tepat. Di lihat dari beberapa bahasa seperti bahasa yunani misalnya kata “sinister” dan lawannya “dexter”. “sinister” yang menjadi asal kata sinis dalam bahasa Indonesia selain berarti kiri dalam bahasa aslinya juga berarti sesuatu yang jahat dan mencurigakan dalam bahasa kita. “dexter” yang artinya kanan juga mengandung makna keindahan, dan kebaikan. Kata “Gauche” (bahasa Prancis untuk kiri) dalam bahasa Inggris digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang aneh, janggal, dan kaku. Kata “amancino” dalam bahasa Italia yang di pakai menunjuk kiri juga berarti bohong, dan dusta. Dalam bahasa Arab “yamin” untuk kanan, menunjukkan kekuatan, kebahagiaan, sumpah, dan keberkatan.

• Domain Politik
Kita sangat sering mendengar istilah ektrim kiri untuk menunjukkan kewaspadaan karena sangat lekat dengan paham komunis yang menentang pemerintahan. Pada kartu tarot iblis memegang pedang dengan tangan kiri. Sementara dewi keadilan digambarkan memegang pedang dengan tangan kanan. Ini juga merupakan makna yang tersirat dengan penggunaan istilah kiri dan kanan.

• Domain Agama
Islam memberika perhatian yang besar terhadap penggunaan kiri dan kanan. Mengutamakan yang kanan merupakan ajaran mendasar tentang Islam itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Makan, minum, dan melakukan hal apapun yang di anggap baik dianjurkan menggunakan tangan kanan. Masuk masjid dengan kaki kanan dan keluar dari toilet dengan kaki kiri. Gerakan berwudhu selalu mendahulukan yang kanan dan saat selesai solat juga di awali dengan gerakan salam ke arah kanan. Bahkan dalam Islam juga melambangkan kelompok kanan sebagai golongan yang mendapatkan keberuntungan di hari akhir nanti yang sangat berlawanan dengan golongan kiri yang merugi.
Pengaruh penggunaan tangan kiri
Di Indonesia, mereka yang menggunakan tangan kiri mengalami diskriminasi sosial. Sejak kecil, orang tua dan orang yang berada di sekitar sering kali menasihati karena tangan kirinya lebih responsive dari yang kanan.
Banyak kegiatan mereka yang di-setting orang tuanya. Dari acara bersalaman sampai acara makan, yang menyulitkan mereka (Ambrosia Sihotang, 2012) .
Penggunaan tangan kanan yang menstimulus kinerja otak sebelah kiri lebih aktif, menghasilkan generas-generasi yang menggunakan otak kiri pula, sedangkan mereka yang dominan menggunakan tangan kiri (kidal), sering terasingkan. Mereka dianggap bodoh karena tidak cocok dengan pendidikan matematika dan bahasa (Taufiq Pasiak, 2006:76).
Beberapa fakta yang mendukung dominasi penggunaan tangan kanan :
• Filosofi bidang kedokteran
Ayur Weda adalah ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran India. Ayur Weda diwahyukan ke dunia melalui seorang Maharesi Dawantahri yang digambarkan sebagai seorang suci dengan tangan kanan memegang sebuah guci berisi air (Air kehidupan) dan tangan kiri memegang empat macam materi, yaitu setangkai daun, sebuah alkitab, sebuah pisau, dan seekor lintah.
Setangkai daun melambangkan bahwa sumber obat berasal dari tumbuh-tumbuhan . Sebuah kitab melambangkan sumber dan perkembangan ilmu perkembangan berasal dari perpustakaan. Sebuah pisau melambangkan bahwa sebagian penyakit, tidak mungkin disembuhkan dengan obat, tetapi melalui tindakan operasi. Seekor lintah melambangkan bahwa sebagian penyakit disebabkan oleh racun yang masuk ke tubuh sehingga harus dikeluarkan. Lintah adalah binatang pengisap darah yang dilambangkan dapat mengeluarkan racun (Manuaba, 2003:31).
• Cara memegang benda yang dianggap keramat atau penting
Di Indonesia, benda yang bernama keris di anggap sebagai benda yang keramat karena memiliki kekuatan magis. Ada beberapa jenis keris yang tidak boleh di pegang oleh sembarangan orang. Dalam buku Bambang Harsrinuksmo, yang berjudul “Ensiklopedi Keris”. Ditegaskan secara jelas penggunaan tangan kanan dalam menerima, memegang, dan memberi keris.
“Harap selalu di ingat, gunakan tangan kanan untuk memberikan dan menerimanya” (Bambang Harsrinuksmo, 2003:51).
• Penggunaan tangan kanan sudah di anggap sebagai budaya
Kebiasaan menggunakan tangan kanan yang di biasakan sejak kecil di Indonesia, di adopsi sebagai budaya tetap bangsa. Budaya kita mengajarkan untuk berjabat tangan, memberikan barang, atau pun menggunakan tangan kanan, kecuali memang di anugerahi kebiasaan kidal sejak lahir (Indah, 2011).
• Design busana
Design busana saat ini lebih umumnya di rancang dengan mind set perancang ny pengguna busana itu akan di gunakan pengguna yang biasa menggunakan tangan kanan. Pemikiran seperti ini merupakan warisan rancangan busana jaman dahulu.
Contoh nya saja, busana pria pada masa Ibrahim, pria memakai busana dengan punggung tertutup seluruhnya, dan tangan kanan bebas bergerak sehingga bisa menggunakan pedang dan alat perang. Hal ini secara tersirat juga menggambarkan tangan kanan, sebagai simbol keperkasaan (Satrio, 2004:40).
• Adanya larangan yang bersifat sosiologis
Meskipun tidak ada larangan tertulis, tetapi secara sosiologis, ada larangan penggunaan tangan kiri. Misalnya, kita tidak boleh menggunakan tangan kiri untuk melakukan tindakan-tindakan yang baik karena tangan kiri dianggap tangan yang tidak baik. (Antonius dan Marcus, 2010:136).
• Pendapat orang besar
Pemikiran bangsa Indonesia, yang telah disusupi nilai “barat”, juga menjadi pemicu diskriminasi penggunaan tangan. Stanley Coren, guru besar psikologi di Universitas Colombia, bahkan yakin bahwa pengguna tangan kiri meninggal Sembilan tahun lebih dulu daripada pengguna tangan kanan. Meskipun hal ini belum dibuktikan secara akurat, akan tetapi mengeluarkan pernyataan seperti ini sama halnya mendukung diskriminasi penggunaan tangan.
• Banyak benda yang di rancang untuk pengguna tangan kanan
Contoh rill diskriminasi penggunaan tangan dapat diketahui secara langsung lewat benda-benda yang kita gunakan. Pada umumnya, para penciptanya memfasilitasi pengguna tangan kanan, sekali pun benda tersebut adalah benda yang sudah merakyat, seperti: pakaian, laptop, kamera, dan lain-lain.
Berikut ini beberapa contoh benda tersebut (Rahmat Febrianto, 2011):

o Komputer
Komputer jelas-jelas diciptakan bagi pengguna tangan kanan. Di bagian kanan papan kunci ada papan angka yang biasa digunakan untuk memasukkan angka ke dalam komputer. Biasanya, tombol-tombol angka ini akan dipakai oleh kasir bank atau pengguna komputer yang akan memasukkan ke dalam komputer angka-angka dalam jumlah yang banyak dan sering, ditempatkan disebelah kanan.

Tetikus juga di-setting bagi pengguna tangan kanan. Jika pengguna tangan kiri hendak memindahkannya ke tangan kirinya tentu bisa, namun ia harus mengubah penyetan (setting) dulu sebelum menggunakannya di tangan kiri.
o Telepon meja dan mesin ATM
Sebuah telpon meja memiliki gagang yang bisa digunakan untuk berbicara dan mendengarkan dan seperangkat tombol-tombol. Jika diperhatikan, gagang telpon selalu berada di bagian kiri dari telpon sementara tombol-tombol ada di sebelah kanannya. Dari tampilannya, bisa dibayangkan bahwa pabrik telpon berasumsi bahwa pengguna akan mengangkat telpon dengan kanan kirinya dan menggunakan tangan kanan untuk memencet tombol-tombol.
Untuk mengangkat gagang telpon orang hanya butuh satu aksi, sementara untuk memencet tombol orang mungkin butuh lebih dari satu tindakan. Jika nomor tujuan tidak disimpan di salah satu memori telpon atau ia tidak memiliki seorang sekretaris yang akan menelponkan seseorang lain bagi dirinya, ia setidaknya akan melakukan setidaknya dua atau tiga aksi untuk tersambung dengan telpon rekan sekantornya atau lima hingga belasan aksi untuk terhubung dengan orang lain di luar kantornya. Jelas untuk aksi yang lebih banyak itu ia butuh tangan yang lebih dominan, dan pabrik berasumsi bahwa tangan itu adalah tangan kanan.
Hal yang hampir mirip terterapkan pada mesin ATM. Lubang kartu ada di sebelah kanan–berarti sebaiknya menggunakan tangan kanan untuk melakukannya. Tombol-tombol mungkin ada di bagian tengah meja mesin, namun tombol-tombol eksekusi lain kebanyakan ada di bagian kanan. Pabrik juga berasumsi penggunanya beraksi dengan tangan kanan lebih sering karena dompetnya ada di tangan kiri.
o Kamera
Tombol untuk mengambil gambar ada di bagian kanan kamera. Oleh sebab itu, pasti harus menggunakan telunjuk tangan kanan untuk menekannya. Hal ini memberi kesulitan tersendiri bagi pengguna tangan kiri.
o Jam Tangan
Jika dilihat secara saksama, tombol yang digunakan untuk menyesuaikan waktu dan tanggal harus menggunakan tangan kanan, karena posisinya yang ada di bagian kanan jam.
o Kursi meja
Pada umumnya, kampus di Indonesia hanya menyediakan kursi-meja dengan lengan untuk menulis di sebelah kanan. Untuk mengakali masalah ini, mahasiswa meminjam lengan-tulis kursi disebelahnya. Misalnya, orang yang kidal akan duduk di kursi yang paling kanan, namun menulis menggunakan lengan-tulis kursi yang di sebelah kirinya. Akan tetapi, kursi yang di sebelah tengah tidak ada yang menduduki. Orang berikutnya bisa duduk di bagian paling kiri.
o Sepeda Motor
Pada sepeda motor ketidak adilan itu juga terlihat. Starter kaki ada di sebelah kanan sehingga orang kidal akan kesulitan jika ia ingin menggunakan kaki kirinya untuk mengengkol motor. Standar, baik yang tunggal maupun ganda, terletak di kiri motor. Ini bukan berarti ditujukan untuk orang kidal. Jika seorang pengendara motor telah naik ke sadel dan ia ingin melepas standar tunggalnya, maka otomatis ia butuh kaki kiri untuk melepas standar sementara keseimbangan motor ia pertahankan dengan kaki sebelah kanan–kaki yang terkuat (setidaknya itu yang diasumsikan oleh pabrik).
Standar ganda juga dibuat dengan asumsi itu. Perhatikan semacam injakan yang menonjol di standar tersebut. Letaknya ada di sebelah kiri motor karena diasumsikan pengendara, ketika akan memarkir motor dan menggunakan standar ganda, ia akan berada di sebelah kiri motor. Dengan kaki kirinya ia akan menginjak besi injakan tersebut, bertumpu dengan kaki kanannya–yang lebih kuat!–dan menggunakan kedua tangannya untuk menarik sepeda motor agar bisa berdiri.
o Gitar
Gitar dibuat dengan asumsi pengguna bertangan kanan, tidak kidal. Oleh sebab itu, pengguna tangan kiri harus membalik posisi semua senar dari atas ke bawah.
o Senapan
Pada penggunaan senapan, pengguna tangan kiri akan meletakkan telunjuk kiri bersama dengan seluruh telapak tangan di pemicu dan sekitarnya. Pada tahap ini, tidak akan ada masalah. Masalah baru timbul karena setiap senjata api memiliki tuas pengaman, yang kalau tidak dipindahkan dari posisi “terkunci” maka ia tidak akan bisa ditembakkan.
Tuas “safety” adalah kunci pengaman yang dimaksud ada di sebelah kiri senjata. Pengguna tangan kiri, membutuhkan tangan kirinya untuk memindahkan tuas pengaman itu dari terkunci ke tidak terkunci.

Dari beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan tangan kanan dan kiri tergantung pada pengguna tangan, hanya saja kegiatan, benda-benda, dan hal yang berada di sekitar kita telah mengalami settingan tangan kanan yang memaksa kita beradaptasi dengan itu. Diskriminasi penggunaan tangan kanan bukan pilihan yang tepat. Berikut beberapa point yang mendukung hal ini:
 Menggunakan tangan kanan adalah etiket bukan keharusan.
Etiket selalu berhubungan dengan cara atau bagimana suatu perbuatan harus dilakukan, biasanya diharapkan dan ditentukan oleh suatu masyarakat atau budaya tertentu. Etiket hanya berlaku dalam pergaulan dan sangat tergantung pada kehadiran orang lain. Apabila tidak ada orang lain yang hadir atau tidak ada saksi mata terhadap perbuatan kita, maka etiket tidak berlaku sama sekali (Alfonsus Sutarno, 2008:17). Contoh, penggunaan tangan kiri ketika makan, tanpa sepenglihatan orang lain bisa saja. Tepatnya, melakukan kegiatan dengan menggunakan tangan apa pun merupakan pilihan, tidak ada keharusan, hanya berupa etiket.
 Penggunaan kedua tangan dengan porsi yang sama menyeimbangkan kerja otak.
Selama ini, kita masyarakat Indonesia dibesarkan dengan kebiasaan penggunaan tangan kanan yang dominan. Penggunaan tangan ini mempengaruhi kinerja otak. Otak kiri: pikiran rasional, berkaitan dengan kegiatan-kegiatan rasional, analitis, bahasa, dan sistematis. Otak kanan: pikiran intuitif, berkaitan dengan berpikir intuotif, sintesis, dan estetis. Kebiasaan kita yang menggunakan tangan kanan, menyebabkan kinerja otak kiri juga lebih dominan, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan. Dengan mempekerjakan kedua tangan secara seimbang akan menyeimbangkan kerja otak.
 Ajaran keagamaan menjadi pertimbangan pemilihan penggunaan tangan
Umumunya, agama-agama di ia mengajarkan untuk senantiasa menggunakan tangan kanan, karena itu yang dicontohkan Yesus (agama Kristen), Rasulullah (agama islam), dan semua yagn dipercayai oleh masing-masing agama. Akan tetapi, sebagai bagian dari anggota tubuh, kita juga diajarkan untuk menggunakannya secara adil. Maka, penggunaan tangan kanan atau kiri, pilihan nya tergantung pada kita, tanpa mendoktrin pengguna tangan kiri sebagai pendosa.
 Pendiskriminasian penggunaan tangan, sama halnya mendiskriminasi pengguna tangan kiri.

Kidal (pengguna tangan kiri), bukan lah sebuah kelainan atau cacat. Kidal adalah kondisi normal yang disebabkan bagian otak kanan yang lebih dominan, keturunan, atau kebiasaaan. banyak tokoh besar dunia yang juga kidal. Seperti Barack Obama dan Bill Gates.
Ada hubungan antara fungsi otak kiri dan kanan dengan aktivitas kedua tangan manusia. Otak kanan mengatur bagian tubuh sebelah kiri, sedangkan otak kiri mengatur tubuh sebelah kanan. Kondisi kidal bisa jadi menandakan bahwa otak kanan, yang berfungsi mengatur daya kreativitas, cenderung lebih dominan daripada anak yang lebih sering menggunakan tangan kanan.
Jika ada orang di sekitar kita yang kidal, ada baiknya melatihnya menggunakan tangan kanan juga, bukan untuk menghentikannya menggunakan tangan kiri secara dominan, tapi untuk menyeimbangkan kedua fungsi otak kanan kirinya.
 Pengidentifikasian dengan bangsa barat.
Selama ini, bangsa timur (termasuk Indonesia) dikenal sebagai pengguna otak kanan dan bangsa barat sebagai pengguna otak kiri. Orang-orang Barat lebih rasional, sedangkan orang-orang timur lebIh intuitif. Hal ini memicu masyarakat Indonesia untuk menggunakan tangan kanan secara produktif yang merangsang otak kiri, untuk menghilangkan kesan di atas.
 Kegemaran menggunakan tangan kiri dan tangan kanan tidak selalu berpengaruh terhadap kerja otak.
Sudah dibuktikan tangan kanan dikawal oleh otak kiri. Akan tetapi, penggunaan tangan yang banyak tidak meningkatkan kekuatan otak kiri manusia. Ini karena, orang yang gemar menggunakan tangan kiri juga adalah orang yang menguasai otak kiri sama seperti orang yang gemar menggunakan tangan kanan (Azhar, 2003: 25).
Beraktivitas dengan menggunakan tangan kanan atau kiri, bukan lah hal yang perlu dipermasalahkan . Penggunaan tangan adalah sebuah pilihan, termasuk saat kita memilih menggunakan tangan kanan pada beberapa aktivitas, seperti yang dianjurkan agama dan kebudayaan
Seseorang bisa saja menghasilkan sesuatu yang besar dengan tangan kanannya, tetapi bukan semata-mata karena tangan kanan yang digunakan, namun karena dia ingin menciptakan sesuatu yang besar, terlepas dari tangan sebelah mana yang digunakan.
Salah satu nilai filosofis yang bisa disini, yaitu kecenderungan manusia untukmenggunakan otak kiri (yang mengontrol kegiatan tangan kanan). Secara tidak sengaja alam lebih berpihak kepada yang kanan. Kekita dua arah tidak dapat di satukan disinilah letak seninya yang membuat hidup menjadi dinamis.

DAFTAR PUSTAKA
Buku
Abd, Mohd. Azhar. 2003. Meningkatkan Daya Fikir. Malasyia, Selangor: PTS Profesional.
Harsrinuksmo, Bambang. 2003. Ensiklopedi Keris. Jakarta: Gramedia.
Manuaba, I.B.G dkk. 2003. Pengantar Kuliah Obstetetri. Jakarta; Buku kedokteran
Pasiak, Taufiq. 2006. Manajemen Kecerdasan. Bandung: Mizan Pustaka.
——————. 2008. Revolusi iq/eq/sq. Bandung: Mizan Pustaka.
Purbiatmadi, Antonius dan Marcus Supriyanto. 2010. Biji Sesawi Memindahkan Gunung. Yogyakarta: Kanisius.
Sutarno, Alfonsus. 2008. Etiket, Kiat Serasi Berelasi. Yogyakarta: Kanisius.
Wahono, Satrio. 2004. Ibrahim Sang Sahabat Tuhan. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.
Publikasi online:
Febrianto, Rahmat. 2011. “ Dunia dan penggunaan tangan kanan”. Di unduh dari http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/09/dunia-dan-pengguna-tangan-kanan.html/, pada tanggal 09 Januari 2013, pukul 16.17 WIB.
Humaira, Fauziah. 2011. “ Ketika kata-kata dan logika berkuasa”. Diunggah dari http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2011/05/01/ketika-kata-kata-dan-logika-berkuasa-361323.html/, pada tanggal 01 Mei 2011, pukul 20:23 WIB.
Indah. 2011. “Kebudayaan Indonesia yang mulai hilang”. Di unduh dari http://www.beritaunik.net/entertainment/5-kebudayaan-indonesia-yang-mulai-hilang.html/, pada tanggal 09 Januari 2013, pukul 16.10 WIB
Sihotang, Ambrosio. 2012. “Tangan mana yang sopan”. Diunggah dari http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/06/25/tangan-yang-mana-yang-sopan/ pada tanggal 25 Juni 2012, pukul 10.37 WIB

TUGAS SEJARAH SOSIAL POLITIK INDONESIA
Sejarah Diskriminasi penggunaan tangan kiri

Disusun oleh
Siska Rannywati Purba
12/336541/SP/25470
Jurusan Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Universitas Gajah Mada
Yogyakarta
2012

Iklan

4 responses »

  1. maaf, tetapi Yesus tidak pernah memberikan pengajaran untuk senantiasa menggunakan tangan kanan. Selain itu, beberapa perkataan disini yang tidak memiliki bukti yang cukup jelas untuk membuat saya benar-benar mengerti. Sekian, terima kasih juga atas informasinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s