KOMUNITAS COSPLAY

Standar

MAKALAH DASPEN : Mengulas Komunitas Cosplay di indonesia.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sebagai makhluk sosial, manusia selalu melakukan interaksi sosial yang melibatkan orang disekitarnya. Frekuensi yang lebih intensif dari interaksi ini sering kali menghasilkan kelompok-kelompok sosial yang dinamakan “Komunitas”. Suatu kelompok sosial dinamakan komunitas , jika memiliki ciri komunitas itu sendiri.

Menurut ahli sosiologi, sebuah komunitas akan memiliki empat ciri utama, yaitu (Jasmadi, 2008:17):

  • Adanya keanggotaan di dalamnya
  • Adanya saling memengaruhi.
  • Adanya integrasi dan pemenuhan antaranggota
  • Adanya ikatan emosional antaranggota

Keberadaan sebuah komunitas dapat ditemukan dalam dunia nyata (Off line) dan di dunia maya (Online).

Umumnya, terbentuknya sebuah komunitas dilatarbelakangi oleh kesamaan dari setiap anggotanya.

Seperti yang dikatakan Azizi Bin Yahya (2006:174),

“Individu biasanya mudah tertarik pada individu lain yang mempunyai persamaan dengan dirinya. Ada individu yang mudah tertarik karena mereka mempunyai persamaan, seperti minat, hobi, cita-cita, cita rasa, kerjaya, dan sebagainya. Ini akan memudahkan mereka berkongsi antara satu sama lain.

 

            Pada dasarnya, komunitas dibentuk dengan berorientasi pada kesenangan atau kepuasan. Hampir seluruh kegiatan yang dilakukan setiap anggota komunitas, untuk memperoleh kesenangan atau kepuasan batin. Misalnya, komunitas pecinta alam yang sering melakukan kegiatan reboisasi di kawasan hutan gundul. Mereka melakukan ini di dorong oleh hal yang sama, yaitu sama-sama mencintai alam. Fasilitas yang ada dalam proses reboisasi ini merupakan sumbangan  secara suka rela oleh setiap anggota. Bagi mereka, kegiatan reboisasi memberi kepuasan batiniah.

            Kehadiran sebuah komunitas sering mendapat penilaian oleh masyarakat lewat kegiatan atau program yang dilakukan. Komunitas yang di anggap memberi kontribusi positif kepada masyarakat lebih banyak di ingat dan dihargai keberadaannya, demikian juga sebaliknya. Komunitas yang kehadirannya di anggap hanya berupa forum untuk mencapai kesenangan atau bahkan kehadirannya di anggap aneh karena kegiatan yang dilakukannya, akan lebih susah untuk di kenal dan di ingat masyarakat. Bahkan sering kali masyarakat terlebih dahulu menilainya negatif tanpa mengenal komunitas itu dengan baik.

            Dalam tulisan ini, penulis akan mengulas tentang keberadaan sebuah komunitas off line, di masyarakat Indonesia, yaitu “Komunitas Cosplay”.  Cosplay merupakan semacam kegiatan para penggemar anime dan manga yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan membuat dan mengenakan kostum dan berdandan meniru karakter  tertentu dari anime dan atau manga (atau game computer, literarur, idol group, film popular, atau ikon) dengan tujuan untuk tampil di depan publik dan melakukan pemotretan .Orang yang melakukan cosplay disebut cosplayer.

            Penilaian masyarakat akan kehadiran komunitas cosplay di Indonesia, tidaklah selalu memberi respon positif. Sering kali kegiatan yang dilakukan oleh mereka di anggap sesuatu yang aneh oleh masyarakat manakala mereka mengkonsumsi budaya Jepang, terutama penggunan pakaian yang identik dengan tokoh manga atau anime.

            Banyak menilai hobi dari anggota komunitas ini terlalu kekanak-kanakan, tidak cinta budaya sendiri, dan masih banyak anggapan negatif lain nya. Kebanyakan  judge seperti itu hadir karena masyarakat Indonesia secara luas belum mengenal baik kehadiran komunitas ini.

1.2 Tujuan Penulis

            Dalam makalah ini, akan diuraikan beberapa point tentang komunitas cosplay. Apa cosplay itu sendiri, kegiatan yang dilakukan anggotanya, relasi cosplay dengan media atau lembaga, kontribusi cosplay bagi masyarakat, faktor-faktor yang memotivasi seseorang menjadi cosplayer¸cosplay di anggap masyarakat sebagai budaya yang berlebihan, dan hal lainnya seputar cosplay.

Dengan pengenalan penulis tentang komunitas cosplay lewat tulisan ini, diharapkan dapat memberi pandangan atau penilaian baru pembaca akan kehadiran komunitas ini di Indonesia.

           

           

 

 

 

 

 

ISI

2.1. Pengenalan Cosplay

            Ketika mengunjungi pusat perbelanjaan, kita sering melihat sekelompok anak-anak muda yang berpakaian ala komik Jepang. Mereka adalah penggemar cosplay yang membentuk komunitasnya.

Cosplay adalah istilah bahasa Inggris buatan Jepang yang berasal dari gabungan kata “costume” (kostum) dan “play” (bermain). Cosplay berarti hobi mengenakan pakaian beserta aksesori dan rias wajah seperti yang dikenakan tokoh-tokoh dalam anime, manga, permainan video, atau penyanyi dan musisi idola. Cosplayer adalah orang yang melakukan Cosplay.

Bermain disini bukan hanya sekedar mengenakan kostum dari tokoh idolanya, tetapi  juga menjiwai peran dan pengarakteran dari tokoh tersebut.
Contoh: Seseorang yang di dunia nyata adalah orang yang hiperaktif, memerankan tokoh yang berkarakter pendiam dan pemalu, dia harus mampu memainkan peran tersebut.

            Komunitas ini booming di Indonesia pada tahun 2005 seiring merebaknya film dan komik dari negeri Sakura itu. Cosplay menjadi forum dan cara orang mengekspresikan kegemaran mereka terhadap kartun-kartun film Jepang.

 

 

 

 

2.2 Perkembangan Komunitas Cosplay di Indonesia

Awalnya, cosplay tidak begitu banyak di kenal di Indonesia. Pada awal 2000-an, beberapa event seperti Gelar Jepang UI mengadakan event Cosplay. Akan tetapi, saat itu belum ada yang berminat, cosplay pertama saat itu hanyalah EO dari acara Gelar Jepang tersebut.

Beranjak dari Event Jepang, beberapa pemuda-pemudi (kebanyakan pemudi) di Bandung memperkenalkan gaya Harajuku dan hadirnya cosplayer pertama yang bukan merupakan EO saat itu (Dhiko, 2010). Berlanjut hingga sekarang, hampir tiap bulannya selalu ada event cosplay di Jakarta. Di Medan sendiri baru diadakan selama empat  tahun terakhir ini dalam acara Bunkasai atau pun festival-festival kecil yang tersebar di tempat-tempat tertentu. Kemudian, ini terus berkembang di kota-kota besar yang lain.

           Event ter-update dan  terbesar adalah saat para cosplayer diundang sebagai peserta dalam acara JF3(Jakarta food fashion festival) pada tanggal 22 mei 2010 . Banyak cosplayer yang hadir dan melakukan cosplay dengan maksimal pada saat itu.

Keanggotaan komunitas ini tidak memiliki syarat khusus, cukup hanya menjadi penggemar cosplay saja. Siapa saja bisa bergabung dalam komunitas ini. Namun, umumnya penggemar cosplay adalah para remaja hingga dewasa yang berusia 16-30 tahun. Mereka memiliki kesamaan hobi mengoleksi dan mengumpulkan referensi perkembangan terbaru tentang anime dan game-game online dari Jepang.

Sama seperti trend kostum dan pakaian yang berkembang di Jepang, setiap tahun cosplay mengalami perubahan. Tema kostum biasanya sesuai trend pada tahun itu.

Pada 2011 misalnya, cosplay banyak di dominasi kostum-kostum anime, seperti tokoh anime Naruto dan tokoh game online Ragnarok asal Korea.

Tahun 2012, trend kostum berubah lebih ke arah Indonesia, tetapi tidak sepenuhnya meninggalkan unsur-unsur kostum khas Jepang sesuai cosplay berasal.

Anggota cosplay terdiri dari berbagai macam dan golongan, mulai usia muda sampai tua dari anak sekolahan sampai level manajer sebuah perusahaan. Koleksinya bahkan ada yang melebihi lima puluh kostum. Forum mereka bisa ditemui di facebook cosplay Indonesia dan online magazine www.cosmagz.com (Liang panda, 2012)

2.3 Event Komunitas Cosplay

            Menjadi penggemar cosplay dan membentuk komunitas sendiri adalah sebagian dari agenda kegiatan yang dilakukan oleh cosplayer. Pakaian-pakaian yang mereka gunakan juga sering dilombakan dalam sebuah event cosplay. Hadiah yang mereka peroleh dari sebuah event, umumnya berupa uang tunai yang digunakan untuk modal pembuatan kostum. Biasanya menjadi cosplayer membutuhkan modal yang lumayan besar dalam pembuatan pakaian.

Berikut di bawah ini adalah salah satu invite dari sebuah event di dunia maya untuk komunitas cosplay (Rachmandika, 2012) :

iFEST – Cosplay Contest

Data Kegiatan

  • Waktu: Sabtu, 5 Mei 2012
  • Lomba dimulai kurang lebih pada pukul: 14.00 WIB

 

Hadiah

  • Juara 1 (1 orang) : Uang Tunai Rp. 1.000.000,-
  • Juara Runner-up (2 orang) : Uang Tunai Rp. 250.000,-

 

Catatan

 *Hadiah berlaku baik untuk peserta perorangan atau duet.

Ketentuan dan Persyaratan

  1. Terbuka bagi umum, tanpa memandang latar belakang, usia dan pendidikan.
  2. Kontes ini diselenggarakan dengan sebagai bukan sebagai ajang kontes profesional, namun dilakukan dengan tujuan kebersamaan, kekeluargaan, dan ajang gathering bagi komunitas hobi sejenis.
  3. Jenis & Kategori yang dilombakan: Cosplay Anime, Tokusatsu, Manga, Games, Superhero (no-original)
  4. Kepesertaan: 1 orang (duet) atau 2 orang (duet). Penilaian akan dilakukan per grup.
  5. Biaya pendaftaran: FREE, cukup membeli HTM
  6. Durasi  lomba : 2-3 menit (tergantung materi)
  7. Ruang ganti Panitia menyediakan ruang ganti bersama, namun tidak menyediakan penitipan barang. Kehilangan yang terjadi adalah tanggungjawab masing-masing peserta. Diharapkan setiap peserta menjaga barangnya masing-masing.
  8. Penilaian Penilaian dilakukan berdasarkan keputusan panitia IFEST. Dan keputusan adalah mutlak. Poin yang dinilai: keselarasan kostum & make-up, aksi diatas panggung, keselarasan dengan musik.
  9. Pendaftaran akan ditutup jika melebihi quota.
  10. Peserta wajib hadir ontime. Keterlambatan dapat mengakibatkan diskualifikasi atau pengurangan poin.
  11. Peserta wajib melakukan checksound dengan panitia sebelum acara dimulai, hal ini dilakukan untuk mencegah music tidak dapat diputar atau bermasalah. Peserta yang bermasalah karena tidak melakukan checksound dapat mengakibatkan gagalnya kepesertaan.

Cara mengikuti lomba

  1. Mengisi data-data pendaftaran kontes.
  2. Mengirimkan backsound / bg music (mp3) via email ke: inotaku.contest@gmail.com
  3. Menerima email balasan dari panitia bagi peserta yang telah disetujui.
  4. Registrasi ulang di lokasi acara pada hari H dan mengambil nomor urut tampil.
  5. Make-up / ganti kostum diruangan yang telah ditentukan.
  6. Mengikuti Lomba
  7. Penilaian oleh panitia / juri.
  8. Pengumuman pemenang.

Formulir

  1. Subject        : PENDAFTARAN Cosplay Contest
  2. Jumlah Peserta        : ____ orang
  3. Nama Peserta 1 (asli)    : ___________ Nama alias: ___________
  4. Nama Peserta 2 (asli)    : ___________ Nama alias: ___________
  5. Alamat email        :
  6. No telp u/ dihubungi    :
  7. Tokoh /Karakter     :
  8. Jenis penampilan    : Walk on (Fashion Show), Dance, Singing, Lypsync, Short drama, parodi, etc. (*pilih salah satu)
  9. Durasi penampilan    : ____ menit
  10. Sudah mengirimkan lagu?    : Sudah / Belum
  11. Menyetujui peraturan dari panitia event?: Ya / Tidak

 

Catatan

  • Kirimkan data-data ini via email dan lampirkan lagu & foto(gambar) karakter ke: Inotaku.organizer@gmail.com
  • Panitia akan membalas email bagi peserta yang disetujui.

http://makenime.blogspot.com/2012/04/i-fest-official-blog-invitation-i.html

 

2.4 Anggota Komunitas cosplay butuh anggaran besar

            Menjalani hobi cosplay juga berarti siap menguras kantong. Ini adalah konsekuensi yang harus dimaklumi seorang cosplayer. Bergelut di komunitas ini membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk pembuatan kostum. Terutama dana untuk bahan dan menjahitnya. Bisa saja kita memfungsikan dana yang pas-pasan, tetapi tentu saja kostum yang kita dapatkan juga pas-pas an. Apalagi dengan kondisi di Indonesia yang belum memiliki penjahit yang profesional dalam penjahitan kostum sehingga hasilnya kurang memuaskan. Jika kita mau kostum yang akan dibuat semakin mirip dengan tokoh idola kita maka kita harus rela mengeluarkan uang banyak.

            Memahami keuangan yang pas-pasan, sedangkan hobi cosplay harus lah all out  atau total dengan menerima resiko terbesar yaitu “biaya”, banyak penggemar cosplay yang berhenti di tengah jalan. Menjalani hobi ini sama membutuhkan biaya yang hampir sama dengan modif kendaraan (Dwi Okta Nugroho, 2011).

            Akan tetapi, biasanya bagi komunitas cosplay, faktor biaya ini bisa diatasi dengan patungan atau memanfaatkan kreativitas dengan memakai barang apa adanya dengan hasil semaksimal mungkin. Terlepas dari berbagai kendala dalam bercosplay memang yang   di cari adalah kepuasan dan hal ini tidak bisa di ukur dengan materi.

 Komunitas Cosplay yang sudah profesional biasanya selalu mengikuti event cosplay diberbagai kota atau di luar negeri, berapa pun biaya pasti dikeluarkan, terkadang ada tim cosplay yang justru dibiayai dan dibayar oleh penyelenggara.

2.5 Relasi komunitas cosplay dengan lembaga dan media

2.5.a Relasi dengan Lembaga

            Booming nya kehadiran komunitas cosplay di Indonesia akhir-akhir ini juga menarik minat lembaga atau badan usaha untuk menjalin relasi dengan komunitas ini lewat berbagai ajang.Contohnya, baru-baru ini CIMB Niaga mengadakan ajang “Go Mobile Cosplay Photo Contest”.

            Akan tetapi, ajang yang berlangsung pertengahan Juli 2012 lalu, ditampilkan cosplayer dengan kostum lokal unjuk gigi. Tokoh seperti Srikandi, Gatot Kaca, dan Si Buta dari Gua Hantu pun berpose di depan kamera. Berbeda dengan kegiatan komunitas cosplay yang selama ini identik dengan tokoh super hero luar negeri.

Kontes foto yang diselenggarakan CIMB Niaga bekerjasama dengan majalah Digital Camera Indonesia ini diadakan maraton di 5 kampus besar di Jakarta, Tangerang, Bandung, dan Jatinangor, yaitu Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, Universitas Atmajaya Jakarta, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Pelita Harapan.

            Pelaksanaan kompetisi ini merupakan wujud dukungan CIMB Niaga terhadap kegiatan fotografi dan komunitas cosplay yang tengah marak di Indonesia (http://www.vetnewmediastudy.com/2012/08/07/cimb-niaga-mengadakan-ajang-go-mobile-cosplay-photo-contest/).

 

2.5.b Relasi dengan media

Komunitas cosplay yang mulai banyak diminati masyarakat, menjadi perhatian media. Banyak opini beredar di surat kabar seputar komunitas ini. Media cetak KOMPAS misalnya, mengeksplor kehadiran komunitas cosplay di Indonesia melalui opini penulisnya. Di salah satu artikel yang berjudul “Cosplay Untuk Hidup yang Lebih Berwarna”, sang penulis  berpendapat bahwa cosplay akan menjadi the next thing di Indonesia (Ajie Nugroho, 2011).

“Trend komunitas ini menjadi daya tarik untuk event organizer sebagai daya tarik kegiatan yang dilakukan, seperti peluncuran produk”, kata Ajie.

            Ajie juga mencantumkan beberapa point alasan mengapa cosplay dijadikan alat yang efektif dalam menyelenggarakan event di kota-kota besar, khusus nya di Jakarta, yaitu

  • Lebih berwarna, cosplayer punya caranya sendiri meramaikan suasana, bajunya menarik, keanehan yang kadang diberikan komunitas ini membuat banyak orang ingin datang dan ingin tahu
  • Orang indonesia narsis, orang Indonesia cenderung lebih narsis dari pada orang manapun di belahan dunia mana pun dan ingin tampil. Dapat di lihat dari penggunaan sosial media seperti facebook yang laku keras.
  • Pilihan cosplayer yang beragam

Berbagai jenis kostum dapat digunakan dalam bercosplay. Ada kamen rider, star wars, naruto, school uniform Jepang, dan lain-lain.

Ketertarikan dengan komunitas cosplay ini juga ditunjukkan oleh Harian Andalas. Harian ini menggratiskan masuk ke Andalas Fair bagi komunitas cosplay di  Sumatera Utara dan Kota Medan sekitarnya yang diadakan tanggal 28 Juni-16 Juli di Tapian Daya- Pekan Raya Sumatera Utara.

Program masuk gratis bagi pengunjung yang mengenakan cosplay ini bertujuan  untuk lebih memberikan nuansa yang berbeda di Andalas Fair. Dengan program ini,  komunitas cosplay dapat memanfaatkannya untuk saling bersilaturahmi dan saling bertukar informasi di Andalas Fair (http://harianandalas.com/Berita-Utama/Pakai-Cosplay-Gratis-Masuk-Andalas-Fair).

            Selain eksis di dunia nyata, komunitas cosplay juga melakukan relasi antar cosplayer menggunakan akun fb dan blog. Komunitas seperti ini di anggap sangat bagus sebagai pemasukan bagi tim pemasaran sebuah perusahaan (Bob, 2004) sehingga tak jarang humas sebuah perusahaan menjadikannya target bisnis.

2.6 Anggapan Komunitas cosplay adalah  kebudayaan yang berlebihan

Banyak yang menyangkut pautkan cosplay sebagai peniruan budaya jepang bahkan ada yang menggunjing cosplayer sebagai pengkhianat bangsa karena tidak menghargai budaya sendiri, padahal di jepang sendiri para cosplayer merupakan generasi peradaban baru yang ditolak oleh budaya tradisonal dari pandangan umum masyarakat.

Penilaian masyarakat akan komunitas cosplay yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia, tidak sepenuhnya benar. Pemahaman budaya tidak selalu berorientasikan hal yang lama atau yang diwariskan. Budaya juga bisa dipakai untuk menunjuk pada suatu proses umum dari perkembangan intelektual, spiritual, dan estetika sebuah masyarakat (Hikmat Budiman, 2002:41). Cosplay sendiri merupakan bagian dari estetika yang dianggap oleh cosplayer sebagai bagian budaya.

Ada pun alasan cosplay di anggap sebagai budaya dapat dilihat dari tiga bidang, yaitu :

Cosplay sebagai fashion system

Fashion system dalam mengonstruksikan nilai-nilai budaya dapat dilihat dalam fenomena Harajuku. Nama Harajuku sendiri diambil dari nama wilayah yang terletak di Distrik Shibuya, Tokyo yang menjadi pusat berekspresi kaum urban Jepang. Fenomena Harajuku di Indonesia misalnya dapat kita lihat dari maraknya festival ‘jepang-jepangan’ di berbagai kesempatan.

            Di Jepang, peserta cosplay bisa dijumpai dalam acara yang diadakan perkumpulan sesama penggemar (Dōjin Circle), seperti Comic Market, atau menghadiri konser dari grup musik yang bergenre visual kei. Penggemar cosplay termasuk cosplayer maupun bukan cosplayer sudah tersebar di seluruh penjuru dunia, yaitu Amerika, RRC, Eropa, Filipina, maupun Indonesia.

            Para cosplayer seperti mencitrakan dirinya bahwa mereka adalah penganut gaya jepang, itulah inti dari fashion system ini. Fashion system itu bukan hanya cara berpakaian, tetapi image diri secara keseluruhan.

Budaya akan terlihat bukan hanya secara makro tapi juga mikro dari diri orang yang melakukan cosplay maka itu akan menjadi suatu budaya baru yang berbeda.

Satu hal yang unik dari para cosplayer di Indonesia, cosplayer indonesia berusaha menjadi karakter yang mereka mainkan, tetapi masih menggunakan logika situasi dan kondisi, serta sadarnya akan keinginan untuk menaikkan nama Indonesia. Hal ini disebut originalitas dalam bercosplay.

Contoh:  Seseorang yang bercosplay menjadi Ultraman atau ksatria baja hitam, dengan tetap mengenakan kostum itu, mereka mengenakan batik. Hal ini menunjukkan bahwa cosplayer Indonesia berbudaya dan nasionalis.

Jika flash back ke perkembangan cosplay sendiri, dapat diketahui bahwa cosplay awalnya bukan lah dari Jepang dan tidak hanya berkutat sekitar Jepang. Ada juga yang menganut cosplay west version, seperti halnya Edwin Ramadhani SA pada event JF3 yang memerankan Jason Vors, karakter misteri dan horor dari amerika. Akan tetapi, cosplayer Indonesia sendiri masih menggunakan logika situasi dan kondisi. Jika dia memerankan secara total jason tadi maka dia akan diam dan mulai menimbulkan keributan.

Salah satu alasan masyarat Indonesia belum bisa menerima komunitas ini secara luas, karena mereka mengkhawatrikan kehadiran cosplay menjadi lebih dominan.Di Jepang sendiri, cosplay sudah menjadi bagian budaya dan gaya hidup. Akan tetapi, kemungkinan terjadinya hal ini di Indonesia sangat kecil. Hal ini ditegaskan oleh Gilang Ayu, salah satu pendiri J-Zone, komunitas cosplay Malang.

Gilang yang sudah menjadin anggota komunitas cosplay sejak tahun 2005, mengamati perkembangan hobby cosplay di Indonesia cukup pesat. Namun, tidak menandakan adanya pengadopsian cosplay menjadi budaya bangsa (Rizqi, 2012).

Dari uraian diatas, dapat dipahami teori fashion system yang membuktikan bahwa cosplayer indonesia mampu menunjukkan mereka menjunjung tinggi budaya Indonesia yang heterogen dan menunjukkan  kepeduliannya terhadap budaya negara sendiri

Komunitas Cosplay sebagai hobby

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, cosplay diartikan juga bermain kostum. Bermain yang dimaksud bukan hanya sekedar menggunakan kostum dari tokoh yang diidolakan, tetapi juga menjiwai peran dan pengarakteran tohoh tersebut. Cosplayer harus mampu memerankan karakter tadi dengan sangat real. Sama juga halnya ketika cosplayer memainkan peran tokoh seni wayang yang juga membutuhkan penjiwaan. Lewat ini, cosplay berkembang menjadi suatu seni peran yang membutuhkan skill. Hobby ini membutuhkan penekunan yang mendalam dan rutin.

Hobby merupakan suatu hak individu.  Tidak ada larangan untuk melakukan suatu kebiasaan yang kita senangi. Tidak ada juga manusia yang senang jika hobinya dilarang dan dicemooh. Sekecil apa pun hobi seseorang jika disikapi dengan prasangka negatif maka akan menyakiti perasaan seseorang tersebut yang nantinya bisa mempengaruhi perkembangan kepribadian.

Dua slogan yang menandakan cosplay adalah hobby yang positif.
1.We cosplay to express not to impress
2.Cosplay fair and fun.

          Seperti komunitas lainnya, anggota komunitas cosplay juga menggeluti hobi mereka dengan all out tidak setengah-setengah, termasuk dalam pembuatan cosplay. Pada umumnya mereka membuat sendiri semua kostum dan peralatan . Banyak waktu yang diluangkannya untuk itu, juga saat berlatih peran. Keseriusan mereka terlihat dari detail kostum yang digunakan. Detail warna dan garis terkecil pun diperhatikan. Umumnya, khalayak menganggap hobi ini membuang waktu, tetapi kepuasan yang diperoleh juga sebanding. Rasa puas, semangat, dan bangga mengenakan karya hasil jerih payah terpancar di wajah mereka.

Ternyata opini yang menyebutkan bahwa cosplay membutuhkan banyak biaya tidak selalu terjadi di Indonesia. Cosplayer di Indonesia lebih hemat dari kelihatannya. Mereka lebih suka me-recycle barang-barang di sekitarnya  dan menggunakan bahan lokal yang lebih murah sehingga dapat menekan biaya.

Komunitas cosplay sebagai bisnis
Jika cosplayer sudah cukup puas dengan hasil yang dia miliki tapi ingin lebih berkreativitas dalam dunia ini ,ternyata bisnis juga merangkul para cosplayer, dengan adanya jasa penyewaan dan penjualan kostum dan aksesori, menjadikan cosplayer sebagai model fotografi, adanya kompetisi cosplay di dalam negeri dan internasional. Ada dua orang yang sudah mengharumkan nama indonesia di internasional, nick mereka adalah Pinky Luxun dan Orochi X dari Endiru/ Endless illusion team.

Sementara dari pihak cosplayer sendiri bergabung di komunitas cosplay memberi kontribus bagai self image mereka. Lima bagian utama dari self image ini (Diko, 2010) :

Self-control
Kerja keras dan Seni peran adalah inti dari aktivitas ini. kontrol diri adalah yang paling utama bagi para cosplayer. Ditengah gunjingan masyarakat, mereka harus mampu mengatur diri mereka agar tetap fokus pada hoby mereka ini.

Self –advance
Sebagai individu yang berkembang, cosplayer memiliki kemampuan berpikir dan berperilaku yang berbeda dari orang umum. Tidak banyak yang ingin mengembangkan diri dalam dunia hobi mereka. Bagi mereka cosplay adalah hal yang menyenangkan. Untuk mencapai hal itu diperlukan pengembangan skill, baik itu dari kemampuan non-formal, seperti menjahit, melukis, mendesain dan sejenisnya atau pengembangan skill utama, seperti memerankan suatu tokoh sampai menggunakan bahasa asli dari tokoh tersebut.

Self-satisfaction
Tidak ada yang lebih memuaskan bagi cosplayer jika karyanya bisa menunjukkan ekspresi dia. Hasil kerja kerasnya ternyata mampu membuat orang lain tersenyum , bahkan mungkin ada yang mengajak foto bersama. Tersiratnya, ekspresi cosplayer mampu memberikan kebahagiaan bagi orang lain. Cosplayer lebih memiliki kepuasan diri yang besar. Mereka lebih sehat secara psikologis karena  mampu menghargai diri sendiri, dan puas atas apa yang telah dilakukan.

Self-esteem
Menyikapi segala permasalahan dengan kekeluargaan, bersikap dewasa, berani ambil keputusan, dan tidak takut terhadap siapapun yang berkata tidak baik, adalah kepribadian positif yang dapat ditemui pada cosplayer. Mereka kepribadian  yang kuat, seperti berkata “Tidak masalah pandangan orang lain, kita tidak mengganggu orang lain, jika orang lain menganggu kita artinya mereka tidak mampu seperti kita”.

Unique personality
Banyak keunikan yang dapat ditemukan dalam diri masing-masing cosplayer. Mereka mampu memilah-milah mana sikap yang bisa mereka ambil dari peran mereka atau malah merubah peran yang akan mereka perankan dengan pribadi asli mereka. Memiliki imajinasi untuk berkreativitas juga merupakan kepribadian yang umumnya dimiliki oleh mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

Kesimpulan

            Muncul dan berkembangnya sebuah komunitas adalah fenomena sosial yang wajar. Setiap komunitas memiliki kegiatan yang menunjukkan identitas komunitas mereka sendiri. Demikian juga halnya dengan komunitas cosplay. Mereka menekuni hobinya dengan memerankan karakter tokoh idola dan mengenakan kostum tokoh tersebut. Hal ini, menunjukkan identitas keberadaan komunitas ini.

            Memberi  value dan judge akan keberadaan suatu komunitas adalah gejala sosial yang juga lumrah. Hanya saja men-judge negatif suatu komunitas tanpa mengenal dengan baik komunitas itu adalah hal yang buruk. Sekali pun sebuah komunitas di nilai buruk oleh masyarakat, mereka juga memiliki hal positif. Seperti halnya komunitas Cosplay yang di anggap aneh, terlalu kekank-kanakan, menghabiskan waktu, dan judge negatif lainnya. Cosplayer juga berkontribusi positif ketika orang mulai merasa gembira melihat ekspresi mereka, seolah masyarakat melihat tokoh idolanya sendiri.

            Dengan pengenalan cosplay lewat makalah ini, pembaca diharapkan dapat menilai komunitas lain nya di masyarakat dengan lebih bijak lagi, yaitu dengan mengenal lebih baik lagi komunitas itu. Penulis menyadari referensi yang dicantumkan dalam makalah ini belum cukup luas mengulas komunitas cosplay, namun penulis berharap pembaca bisa memperoleh wawasan mengenai komunitas cosplay, sebagai salah satu yayasan yang saat ini sedang booming di Indonesia.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Budiman, Hikmat. 2002. Lubang Hitam Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

Jasmadi. 2008. Membangun Komunitas Online Secara  Praktis dan Gratis. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Onggo, Bob Julius. 2004. Cyber Public Relations. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Yahya, Aziza.B. 2006. Psikologi Sosial Alam Remaja. Selangor, Malasyia: PTS Profesional.

Internet

Adnamazida, Rizqi. 2012. “Cosplay gaya hidup vs hobi”. Di unduh dari http://www.merdeka.com/gaya/cosplay-gaya-hidup-vs-hobi.html, pada tanggal 26 November 2012, pukul 19.09 WIB .

Dhiko. 2010. “Cosplay beyond hobby culture and self”. Diakses dari http://dhiko.blogspot.com/2010/05/cosplay-beyond-hobby-culture-and-self.html/ pada tanggal 28 Mei 2010, pukul 00.10 WIB.

Nugroho, Ajie. 2011. “Cosplay untuk hidup yang lebih berwarna”. Diakses dari http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2011/11/23/cosplay-untuk-hidup-yang-lebih-berwarna/) pada tanggal 23 November 2011, pukul 08.12 WIB.

Nugroho, Dwi Okta. 2011. “Mau cosplay harus jor joran alias ga setengah-setengah”. Diunduh dari http:/kasamago.wordpress.com/2011/12/17/mau-cosplay-harus-mau-jor-joran-alias-ga-setengah-setengah/ pada tanggal 02 Januari 2012, pukul 10.30 WIB.di uploas tanggal 17 Desember 2011.

Panda. 2012. “Komunitas Cosplay di Indonesia”. Diunduh dari http://jurusehat.com/web/komunitas-cosplay-di-indonesia/ pada tanggal 02 Januari 2013, pukul 10.17 WIB.

Sihombing, Racmandika Subjaksono. 2004. “ iFEST – Cosplay Contest”. Diunduh dari http://makenime.blogspot.com/2012/04/i-fest-official-blog-invitation-i.html, pada tanggal 02 Januari 2013, pukul 10.25 WIB.

http://harianandalas.com/Berita-Utama/Pakai-Cosplay-Gratis-Masuk-Andalas-Fair/ Di akses pada tanggal 26 juni 2012, pukul 08.41 WIB.

http://www.vetnewmediastudy.com/2012/08/07/cimb-niaga-mengadakan-ajang-go-mobile-cosplay-photo-contest/) di unduh pada tanggal 02 Januari 2013, pukul 10.37 WIB.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

5 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s