Kesalahan dalam Pemaknaan Peran Public Relation

Standar

TUGAS MAKALAH BAHASA INDONESIA

Kesalahan dalam Pemaknaan Peran Public Relation

 

 

 

                                                

 

 

                        Disusun oleh

Siska Rannywati Purba

12/336541/SP/25470

 

Jurusan Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Universitas Gajah Mada

Yogyakarta

2012

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Public relations (Humas) adalah panca indera sebuah organisasi atau perusahaan.Telinganya untuk mendengar apa yang diinginkan, diharapkan, dan dikeluhkan publiknya. Mata untuk melihat kenyataan apa yang telah dilakukan organisasi, hidung untuk mencium peluang hingga ketidakberesan, lidah untuk mengecap manis-pahitnya posisi organisasi dan posisinya sendiri, dan kulit untuk merasakan sentuhan , luka, dan terkadang gatal yang dialami oleh organisasi dan publik yang dilayaninya secara luas. Bagaimanapun juga jika ada sesuatu dari publik maka Public Relations harus meresponnya.Respon ini menandakan kehidupan.

Banyak orang memiliki pemahaman yang keliru tentang Public Relations. Sebagian dari mereka beranggapan bahwa profesi ini adalah obat dewa yang menjangkiti perusahaan. ”Pokoknya serahkan semua pada bagian public relations, pasti semuanya akan beres, itu adalah pemahaman yang keliru.

Seringkali sebuah organisasi, perusahaan, dan individu yang mengalami masalah kerugian atas kesalahan berita atau rumor atau isu, ingin membuat klarifikasi kepada semua orang bahwa itu semua tidak benar. Disini lah tenaga dan bantuan public relation yang profesional diperlukan.

Tugas mereka tidak hanya membantu jika menghadapi masalah atau kerugian saja, melainkan juga membantu dalam hal lain, misalnya menjaga dan meningkatkan citra perusahaan atau produk, mulai dari perencanaan hingga memuat acara peluncuran produk baru, mempersiapkan acara peletakan batu pertama pembangunan gedung baru, membuat isi teks sambutan dari direktur, membuat siaran pers, mempersiapkan press kit atau hand-out, membantu manajemen untuk memilih siapa saja yang layak untuk diundang, baik undangan untuk para pejabat, khalayak di sekitar organisasi, memilih editor mana yang akan di undang, dan masih banyak lagi.

Hal penting lain yang harus diingat adalah profesi public relations bukan profesi tukang sulap, tetapi profesi ini diharapkan dapat memperbaiki situasi yang buruk menjadi lebih bagus, dan membuat berita buruk tidak menjadi lebih buruk.

Rumusan Masalah

Masyarakat yang peduli sering melihat Public Relation terdapat pada liputan tumpahan minyak, kebocoran racun industry, kampanye politik yang seru, korupsi di pemerintah kota, dan lain-lain.

Liputan media jarang menghubungkan Public Relation dengan cerita positif tentang organisasi atau apa yang telah mereka capai, atau dengan kata lain, mereka yang mengaku praktisi Public Relation  itu justru cenderung lebih tertarik untuk mengekspos sesuatu yang negatif saja.

Banyak orang mengetahui Public Relation berdasarkan apa yang mereka lihat pada organisasi dan apa yang dilakukan praktisi atau dengan apa yang mereka baca pada laporan yang menggunakan Public Relation.

Ringkasnya, permasalahan yang sering dihadapi oleh  Public Relation (Hubungan Masyarakat) saat ini adalah sempitnya pengetahuan dan penelusuran  praktisi akan dunia kerja yang akan dihadapinya sehingga mendatangkan pandangan negatif dari orang lain . Dunia kerja Public Relaton, tidak sekedar mengucapkan kata-kata. Dalam tulisan ini akan dibahas bagaimana sikap seorang Public Relation yang seharusnya, terutama menghadapi situasi krisis.

BAB II

ISI

Defenisi kerja Public Relations (Humas)

            Humas merupakan suatu subjek yang relatif  masih baru yang menimbulkan konsep tidak adanya konsensus pendapat sepenuhnya atas defenisi yang dirasakan tepat untuk istilah itu.Penggunaan istilah humas yang semakin luas seringkali berpengaruh dalam kesalahpengertian mengenai peranan yang sebenarnya di dalam masyarakat modern. Siswa pemula dalam kelas humas seringkali menyebutkan defenisi kerja humas :

  • Public Relation = Publisitas (Publicity)
  • Public Relations = Keagenan Pers (Press-Agentry)
  • Public Relations = Periklanan (Advertising)
  • Public Relations = Upaya mempengaruhi (Lobbying)

 

Keempat istilah di atas merupakan alat bagi praktisi humas :

  • Advertising. Dilakukan dengan menyewa nonpersona waktu dalam media massa.

Suatu komunikasi nonpersona (nonperorangan) melalui berbagai macam media komunikasi yang dilakukan oleh seseorang atau mempengaruhi organisasi tertentu.

  • Lobbying. Usaha untuk mempengaruhi pemberian suara para pembuat undang-undang.
  • Press Agentry. Promosi tentang seseorang atau organisasi dengan mencapai publisitas yang  menyenangkan pada media massa
  • Promotion. Aktivitas-aktivitas atau peristiwa-peristiwa yang direncanakan untuk menjamin dukungan atau pengakuan tentang diri seseorang, produk, lembaga, dan

gagasan.

  • Publicity. Suatu teknik untuk menjamin pengertian diantara individu-individu.

Humas Berdasarkan pada Filsafat Sosial Manajemen

Unsur dasar pertama humas adaah filsafat sosial dari manajemen yang meletakkan kepentingan masyarakat lebih dulu daripada segala sesuatu yang berkenaan dengan perilaku organisasi.Diasumsikan bahwa hak suatu organisasi untuk beroperasi dianugerahkan oleh public dan bahwa hak ini tidak bisa dipungkiri; bahwa suatu lembaga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan primer orang-orang yang menggantungkan dirinya untuk pekerjaan upah, penghasilan barang dan jasa, serta kepuasan sosial dan spiritual.Prinsip pelayanan masyarakat ini merupakan dasar dari konsep modern humas.

Filsafat manajemen tersebut diakui sebagai revolusioner.Contoh organisasi perusahaan yang konsepnya dilandasi dasar pemikiran bahwa tujuan utama perusahaan bukanlah untuk menguntungkan para pemegang saham saja, tetapi juga untuk menguntungkan para konsumen, pemasok, penyalur, komunitas di sekitarnya, dan karyawan. Tujuan perusahaan yang nonlaba itu berhadapan langsung dengan publiknya.

Humas adalah suatu Filsafat Sosial yang Diungkapkan dalam Keputusan Kebijaksanaan.

            Setiap lembaga memiliki kebijaksanaan-kebijaksanaan yang menetapkan sejumlah tindakan yang harus diikuti dalam kegiatannya. Penciptaan kebijaksanaan ini yang meliputi sejumlah fungsi, merupakan tanggung jawab pokok dari manajemen. Keputusan-keputusan kebijaksanaan akan mencerminkan kepentingan publik dari organisasi itu. Keputusan kebijaksanaan humas suatu organisasi adalah suatu keputusan kebijaksanaan yang terpenting.

Humas Adalah Tindakan Sebagai Akibat dari Kebijaksanaan Sehat

Pernyataan kebijaksanaan, meskipun mencerminkan maksud manajemen untuk melayani kepentingan publik, tidaklah cukup. Agar lebih berarti, kebijaksanaan itu haruslah diungkapkan dalam tindakan-tindakan yang sesuai dengan kebijaksanaan itu.

Lembaga-lemabaga dinilai oleh apa yang mereka perbuat, bukan oleh apa yang mereka katakana dalam pernyataan kebijaksanaan.Paul Garett telah mengungkapkan keyakinannya bahwa humas merupakan filsafat dari tindakan yang disukai dengan cara melakukan tindakan adalah lebih penting daripada sekadar mengatakan.

Humas adalah Komunikasi

            Melalui kesaksamaan dalam mendengarkan opini publiknya, dan kepekaan dalam menginterprestasikan setiap kecenderungan kegagalan dalam komunikas dan mengevaluasi serta mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinana untuk mengubah sifat, pendekatan atau penekanan setiap fase kebijaksanaannya.

Melalui komunikasi kepada publik-publiknya, manajemen mengumumkan, menjelaskan, mempertahankan, atau mempromosikan kebijaksanaannya dengan maksud untuk mengukuhkan pengertian dan penerimaan.

Humas bukan hanya sekadar suatu filsafat sosial yang diungkapkan dalam kebijaksanaan dan tindakan; ia juga merupakan badan yang mengkomunikasikan filsafat ini dengan memperhatikan kepentingan publik-publiknya. Komunikasi tersebut esensial untuk saling pengertian.Intinya, komunikasi ini tidak seharusnya diinterprestasikan sebagai pertukaran gagasan dan konsep.

Kesalahan Konsep yang Lazim

Humas merupakan suatu disiplin ilmu untuk memahami, mengatur, dan memotivasi sikap kelompok. Humas berhubungan dengan berbagai hal yang tak mudah dipahami dan sifatnya berbeda-beda. Ini pulalah yang mengarahkan kepada suatu pemahaman fungsi yang tidak lengkap.

Humas bukan merupakan pengganti bagi manajemen yang baik atau”obat” bagi kebijaksanaan, produk, atau pelayanan yang kurang baik. Sebuah organisasi yang dikelola dengan jelek akan mendapati tiada manfaatnya suatu usaha untuk memperoleh reputasi yang menyenangkan melalui suatu program humas. Pembelanjaan sejumlah besar uang untuk hiburan tidak pernah  dapat menggantikan pelaksanaan program humas dengan berhasil.

Humas bukan merupakan suatu alat untuk memperdaya publik. Seringkali sebuah peristiwa yang dramatis akan mengarah kepada karakteristik suatu humas sebagai bagian dari suatu aktivitas yang tidak jujur atau sanagt meragukan. Di tahun-tahun belakangan ini, misalnya media massa telah meningkatkan peliputannya tentang energi nuklir, suatu kecenderungan yang ditingkatkan sejak kecelakaan proyek nuklir di Three Mile Island. Publik telah dibanjiri kisah-kisah yang tak pernah akurat atau tak menarik. Sebuah film, misalnya telah menggambarkan seorang direktur humas dari suatu proyek nuklir fiktif sebagaipenjahat. Jenis pesan komunikasi ini tidak terelakkan lagi, telah menimbulkan efek kepada publik.

Sebagai bantahan terhadap hal ini, Atomic Industrial Forum (AIF), sebuah perkumpulan dagang internasional dengan 600 buah organisasi yang tertarik oleh pemanfaatan energi nuklir untuk perdamaian, pengembangan listrik, obat-obatan, dan pengapalan, telah menyusun sebuah program informasi untuk memberikan penjelasan kepada public mengenai kegunaan energi nuklir. Para anggota AIF itu meliputi pengusaha pabrik, perusahaan-perusahaan umum, universitas-universitas, serikat dagang, kelompok-kelompok peneliti, perusahaan-perusahaan tambang dan penggilingan, dan lembaga finansial. Butir yang harus di ingat adalah program AIF, seperti juga setiap program humas lainnya, harus mendapatkan kepercayaan yang berdasarkan integritas agar efektif.

Humas bukan merupakan suatu aktivitas sesat yang sifatnya membela untuk mengimbangi kesalahan manajemen dalam hubungannya dengan publik. Ketika menghadapi suatu krisis seperti suatu pemogokan, pertentangan kekuasaan, atau penyelidikan pemerintah maka manajemen dapat menoleh ke organisasi humasnya.

Strategi menetralisasi opini publik yang tidak menyenangkan ini disebut  fire alarm atau perbaikan humas. Setiap pempraktek akan menghadapi kemungkinan timbulnya suatu krisis sewaktu-waktu, tetapi mungkin juga harus berjuang mengantisipasi berbagai hambatan melalui perencanaan, menekankan pelaksanaan humas secara preventif.

Humas yang efektif bukanlah suatu aktivitas secara darurat atau untuk sesaat, tetapi merupakan suatu usaha yang terus menerus untk mengterpretasikan suatu lembaga kepada publiknya dan untuk memperoleh pengertian serta itikad baik dari publiknya. Humas itu sendiri tidka akan memperoleh kepercayaan kepercayaan dan penghormatan begitu saja; suatu reputasi yang baik tidak dapat diperoleh dalam satu malam.

Organisasi-organisasi bisnis di Amerika semakin meluas menggunakan lebih banyak pekerja, melayani lebih baik banyak pelanggan, membeli dari lebih banyak pemasok, dan emmbayar lebih banyak keuntungan kepada pemegang saham manajemen telah mengakui pentingnya menjalin dan memelihara hubungan baik denagn para pekerja, pemegang saham, pemasok, penyalur dan penjual, masyarakat di sekitarnya, pembeli, dan pemerintah; hanya melalui hubungan-hubungan seperti itulah maka pengertian publik mengenai kebijaksanaan dan pelaksanaannya dapat dicapai. Sekarang, pentingnya manajemen humas setara dengan manajemen keuangan rekayasa, pemabrikan, dan pemasaran.

Humas tidak hanya terbatas pada perusahaan-perusahaan besar saja. Setiap organisasi yang berhubungan dengan publik akan merasakan perlunya fungsi ini. Organisasi bisnis kecil, organisasi yang nirlaba, lembaga agama, organisasi kesejahteraan, lembaga pendidikan, organisasi-organisasi pemerintahan dan politik, serikat buruh, dan organisasi militer, semuanya mengkehendaki suatu pengertian menangani publiknya dan suatu pengertian yang saksama mengenai dirinya sendiri berdasarkan opini publiknya.

Menanggapi Pers di Masa Krisis

Ada tiga langkah konsep dasar yang akan membantu tim public relation sebelum menghadapi pers di masa krisis:

  • Sebagai bagian dari manajemen, juru bicara dari organisasi atau perusahaan adalah orang public relation. Tekankan bahwa para kepala departemen akan memberitahukan bawahannya bahwa mereka tidak diperkenankan berbicara dengan wartawan selama masa krisis berlangsung. Public Relation sebagai juru bicara yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para wartawan.
  • Sebelum menjawab atau merespon media, tentukan secara cepat dan tepat fakta yang meliputi kejadian krisis itu.
  • Berinisiatiflah untuk menghubungi media jika ingin menyampaikan suatu berita karena dengan cara ini maka berita yang akan disampaikan akan lebih akurat dan mencerminkan bahwa organisasi atau perusahaan lebih kooperatif dengan media.

Tuntutan dalam menanggapi media di saat krisis

  • Jangan pernah katakana “Off the record” karena biasanya akan di ekspos di media.
  • Tunjukkan bahwa memegan atau menyimpan informasi adalah untuk menghormati hak privasi seseorang dan menjaga posisi hokum perusahaan.
  • Persiapkan pernyataan untuk pers dan katakana pula bahwa perusahaan telah berusaha mengatasi, menanggulangi, memerangi serta sedang menjalankan cara-cara untuk mengendalikannya. Dalam membuat pernyataan ini, ada baiknya bekerja sama dengan pihak penasihat hokum perusahaan.
  • Jawablah segala pertanyaan secara singkat dan cepat agar dapat segera tertayang
  • Tetaplah tenang, cobalah tetap melakukan sikap kooperatif dengan media.
  • Jangan katakan”No comment” dan pergi meninggalkan orang pers begitu saja. Jika tidak dapat memberikan komentar karena sedang dilakukan investigasi maka katakanlah itu di depan pers.
  • Buatlah kerja sama dengan pers menjadi mudah. Tugas mereka adalah memberitakan dan mengungkapkan apa cerita sebenarnya atas kejadian ini secepatnya kepada para pemirsa, pembaca, atau pendengarnya. Meskipun orang public relation tidak bisa menceritakan secara keseluruhan, usahakanlah ceritakan kejadian itu sebanyak mungkin.
  • Jika sudah saatnya membeberkan fakta yang terjadi, hanya beberkan yang telah dikonfirmasi kebenarannya, jangan lah membeberkan cerita spekulatif tentang segala hal, misalnya jumlah kerugian, jumlah korban, dan sebagainya.        Penanganan di situasi krisis:
    • Manajer puncak akan terus melakukan kontak dengan reporter media. Public Relation harus pastikan bahwa itu akan dilakukan di lokasi yang baik, misalnya di perusahaan dan dilakukan secepatnya.
    • Tanggung jawab atas fakta yang diberikan kepada pers dan kepada public akhirnya terletak pada manajer puncak atau seseorang dari organisasi lain.
    • Peliharalah kontak terus-menerus dengan media. Dengan begitu, media akan memberi tahu apa yang tidak diketahui sebelumnya. Usaha ini dilakukan agar informasi yang diberikan tidak keliru.
    • Kumpulkan setiap fakta yang didapatkan, termasuk dari surat kabar. Usaha ini untuk menghindari terjadinya duplikasi laporan dan kesimpangsiuran.
    • Ada banyak alasan mengapa Anda tidak diperkenankan menyebutkan nama.
    • Jangan pernah berargumen dengan wartawan tentang nilai sebuah berita.
    • Jangan pilih kasih dalam memberikan berita ke media.
    • Ungkapkan informasi meski tanpa penjelasan lebih lanjut.
    • Selalu sadar dengan siapa Anda berbicara.
    • Jangan salah, penuh sensasi, berbelit-belit, atau lama dalam menjawab pertanyaan. Reporter media akan melihat ini dan langsung akan menanggapi hal tersebut.
    • Waspada terhadap juru foto. Meski Anda tidak memiliko hak untuk melarang juru foto yang mengambil gambar dari luar, tetapi pada saat mereka mengambil gambar di dalam maka harus di atur.
    • Sadarilah ada jeda waktu pada saat Anda mendapatkan informasi dengan pada saat Anda memberikannya pada media.
    • Milikilah nama-nama yang selamat dan nama seluruh karyawan unruk referensi Anda jika sewaktu-waktu diperlukan.
    • Jika estimasi kerusakan harus diberikan kepada pers, buatlah pernyataan berdasar pada gambaran umum atas kerusakan.
    • Selalu menekankan kepada hal-hal yang positif. Jika fakta telah terungkap, jelaskan dan berikan kepada media.
    • Jangan mengucapkan nama korban tanpa mendapat persetujuan dari pihak keluarganya.Beritahukan kepada wartawan bahwa nama-nama korban baru akan diberikan jika sudah ada persetujuan

Contoh kasus di Indonesia yang melibatkan peran Humas (Public Relation):

Peran Humas PT.PERTAMINA (Persero) BBM Retail Region IV dalam menyelesaikan kasus kecelakaan gas elpiji 3 Kg yang terjadi di wilayah Jateng dan DIY.

PT.Pertamina merupakan perusahaan penyuplai bahan bakar terbesar di Indonesia. Akhir-akhir ini, perusahaan ini mendapatkan sebuah ujian besar dalam mempertahankan eksistensinya di hadapan seluruh masyarakat Indonesia.

Sejak tahun 2007 lalu, pemerintah mengajak serta PT.Pertamina untuk mengadakan program konversi minyak tanah ke gas elpiji 3 kg. Hal ini tentu mendapat banyak perhatian dari masyarakat Indonesia, karena hal ini merupakan kebutuhan yang pokok bagi manusia dalam mempertahankan hidupnya.

Dampak dari kegiatan konversi ini melibatkan sebagian besar masyarakat Indonesia. Baik masyarakat dari kelas menengah ke atas maupun masyarakat kelas bawah mau tidak mau harus merubah pola hidup mereka dari yang biasanya memasak dan melakukan kegiatan yang menggunakan bahan bakar minyak sekarang harus di ganti dengan menggunakan gas elpiji 3 kg.

Dari kegiatan konversi ini, pro dan  kontra pun akhirnya timbul dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Pada saat awal program konversi minyak tanah ke gas LPG diluncurkan tahun 2007, mendapat penolakan keras dari masyarakat dengan alasan tidak efektif dan efisien serta tidak aman karena bisa meledak. Akan tetapi setelah melalui sosialisasi secara berkesinambungan akhirnya masyarakat bisa menerima, bahkan sekarang permintaan akan gas LPG terus bertambah” tandas menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro ketika memberikan sambutan pada acara Pencanangan Percepatan Program Konversi minyak Tanah ke Gas LPG (http://temanggungcity.wordpress.com/2009/03/10/konversi-minyak-ke-gas/).

PT.Pertamina yang berperan sebagai penyedia dan pengatur pemasaran gas elpiji 3 kg mendapatkan dampak dari kejadian buruk yang banyak terjadi di masyarakat. Masyarakat cenderung menyalahkan mereka atas kecelakaan akibat ledakan tabung gas elpiji 3 kg. Karena masyarakat tahu bahwa yang mengatur dan memasarkan gas elpiji adalah PT.Pertamina. Sehingga PT. Pertamina dianggap harus bertanggung  jawab atas beberapa kecelakaan yang terjadi.

Masyarakat cenderung merasa takut menggunakan lagi produk PT. Pertamina terutama gas elpiji ukuran 3 kg. Karena banyaknya kasus-kasus gas elpiji yang  meledak di lingkungan masyarakat. Contohnya di wilayah Jateng & DIY ada sekitar 20 korban ledakan elpiji (Tempo, Selasa,13 Juli 2010). Dari banyaknya korban ini tentu memberikan dampak yang cukup berat bagi Humas PT. Pertamina (Persero) BBM Retail Region IV. Humas PT. Pertamina harus berusaha keras untuk dapat mempertahankan dan memulihkan lagi citra perusahaan yang mulai menurun di mata masyarakat. Karena citra perusahaan sangatlah penting bagi perusahaan agar konsumen bisa menjadi pelanggan yang loyal. Citra organisasi atau perusahaan adalah citra dari suatu organisasi secara keseluruhan,bukan hanya citra atas produk dan pelayanan. (Jefkins,Frank.1992:8).

Dalam pencapaian tujuan pelaksanaan konversi minyak ke gas PT. Pertamina harus berupaya maksimal untuk mengadakan kegiatan sosialisasi kepada masyarakat tentang pemakaian tabung gas elpiji yang benar. Namun karena ada sebagian dari masyarakat yang tidak mengerti dengan benar bagaimana pemakaian dan perawatan gas elpiji juga adanya oknum yang tidak bertanggung jawab, sehingga menimbulkan beberapa kasus terjadi akibat konversi gas elpiji 3 kg pada masyarakat Indonesia. Hal ini membuat PT.Pertamina mengalami krisis pada perusahaan dan berdampak langung pada reputasi, citra serta kepercayaan masyarakat terhadap existensi perusahaan.

Hal ini lah yang menjadikan humas PT.Pertamina berjuang lebih keras untuk mempertahankan sekaligus me-recovery kembali citra perusahaan melalui pemilihan cara penyelesaian masalah kasus ledakan elpiji ini.

Langkah yang dilakukan oleh Humas Pertamina dalam menangani kasus ini  adalah:

  • Humas Pertamina berperan sebagai Fasilitator Komunikasi (Communication Fasilitator)

Humas bertindak sebagai komunikator atau mediator untuk membantu medengar apa yang menjadi keinginan dan harapan publik. Biasanya dilakukan melalui contact pertamina maupun surat dari publik.

  • Fasilitator Pemecah Masalah (Problem Solving Process Fasilitator)

Humas bertindak sebagai membantu proses pemecahan masalah. Mulai dari ide sampai pada proses pelaksanaan penyelesaian kasus. Langkah – langkah tersebut sebagai kontribusi PT. Pertamina (Persero) BBM Retail Region IV dalam memberikan manfaat terhadap perusahaan dan publik, sesuai dengan visi perusahaan, yaitu menjadi unit usaha terbaik, tanggung jawab, dan terpercaya. Visi ini erat kaitannya dengan menjalin hubungan yang harmonis dengan publik sekitar karena publik adalah bagian yang penting untuk menunjang kelangsungan suatu perusahaan. Terutama adalah saat perusahaan mengalami suatu krisis dalam mempertahankan citranya dimata masyarakat karena suatu kasus yang berkaitan dengan produk dan hubungan perusahaan dengan public  secara langsung. Dalam hal inilah seorang Humas harus memberikan perannya secara maksimal dalam menyelesaikan kasus tersebut agar citra perusahaan tetap terjaga.

Sebagai seorang Humas dalam menghadapi kasus ini melakukan beberapa tindakan. Tindakan yang di lakukan telah sesuai dengan teori yang ada yaitu teori dari (Cutlip dan Center, Iriantara,2007:14) mengenai pendekatan manajerial. Pendekatan itu dengan cara:

1. Mencari penyebab kejadian

Humas biasanya mengetahui berita kecelakaan gas elpiji 3 kg dari pengaduan warga, media dan juga dari pemberitahuan karyawan PT.Pertamina sendiri. Setelah mendengar berita tersebut, Humas bekerjasama dengan pihak Gas Domestik yang merupakan penanggung jawab kegiatan konversi gas elpiji 3 kg turun kelapangan langsung untuk mengetahui fakta yang ada.

Kegiatan pencarian fakta untuk menanyakan tentang seluk beluk kejadian di lakukan dengan turun langsung ke lapangan dan dengan melakukan pendekatan persuasive melalui wawancara kepada korban langung maupun dengan tetangga-tetangga korban. Kegiatan tersebut biasanya dilakukan langung ke rumah korban dan apabila ada korban jiwa dalam kecelakaan ini, maka kegiatan wawancara dilakukan di rumah sakit tempat korban dilarikan untuk mendapatkan pertolongan.

Berdasarkan hasil penemuan fakta yang ada dilapangan, beberapa kecelakaan yang terjadi adalah dikarenakan kelalaian pemakaian, proses perawatan dan kebocoran tabung gas yang diakibatkan oleh beberapa agen yang melakukan kecurangan-kecurangan seperti yang telah banyak diberitakan di media.

2. Memberikan bantuan kepada korban

Dari penelusuran fakta yang ada, diketahui jumlah korban dan kerugian material yang harus ditanggung baik itu fisik rumah maupun perawatan kesembuhan korban. Dari hasil penilaian itulah, maka Pertamina merencanakan untuk memberikan suatu asuransi yang mana semua orang yang mendapatkan kompor dan tabung gas elpiji telah mendapatkan asuransi jiwa dari PT.Pertamina. Sedangkan jumlah dan saratnya telah di tentukan dan proses pemberian asuransinya harus sesuai dengan prosedur.

Bantuan yang disebut dengan tali asih ini merupakan program dari PT.Pertamina sebagai rencana yang telah diperhitungkan apabila suatu saat akan terjadi kecelakaan akibat pemakaian gas elpiji. Korban yang telah memenuhi prosedur tentunya langung diberikan bantuan sesuai dengan nominal asuransi yang telah di tentukan sebelumnya. Asuransi itu berkisar antara 1 juta sampai seluruh biaya perawatan rumah sakit untuk korban yang mengalami cedera badan, sedangkan yang korban meninggal dunia pihak keluarganya di berikan santunan. Perencanaan yang telah ditetapkan dan di ukur sesuai dengan jumlah kerugian segera diberikan langsung kepada korban agar mereka bisa langsung mendapatkan perawatan dan tidak merasa dirugikan atau merasa tidak mendapatkan perhatian dari pihak Pertamina

Tindakan berikutnya setelah perencanaan tentang jumlah bantuan dana tali asih ditentukan, maka pihak Pertamina dengan segera memberikannya kepada korban. Selain itu, tidak lupa diberikan pengetahuan tambahan cara penggunaan elpiji yang aman agar tidak terjadi lagi hal yang serupa. Serta, korban diberikan surat pernyataan yang isinya tidak melakukan penuntutan terhadap PT.Pertamina setelah proses tali asih dari PT.Pertamina telah berakhir.

Untuk membantu mengkomunikasikan kepada public luar, Humas PT.Pertamina juga bekerjasama dengan pihak media untuk melakukan pemberitaan kepada publik mengenai kasus ledakan gas elpiji dan tindakan penyelesaian kasus kecelakaan

3. Melakukan tindakan evaluasi

Tahap terakhir adalah evaluating. Setelah selesai pemberian bantuan kepada korban, pihak Pertamina mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan, apakah sudah bisa diterima baik oleh korban dan tindakan tersebut apakah telah mampu mengembalikan lagi citra perusahaan di mata korban.

4. Melakukan upaya pencegahan kasus agar tidak terjadi lagi.

Dengan beberapa jumlah kasus kecelakaan akibat gas elpiji yang terjadi maka

PT.Pertamina melakukan upaya guna mencegah kasus kecelakaan gas elpiji terjadi kembali. Upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan resosialisasi yang dilakukan di beberapa kecamatan yang ada di seluruh wilayah Jateng dan DIY. Proses resosialisasi ini bertujuan untuk menciptakan kader-kader yang nantinya akan dapat memberikan pengetahuan yang lebih kepada pihak-pihak konsumen agar lebih mengerti bagaimana cara pemakaian dan perawatan yang benar sesuai prosedur yang ada. Selain itu juga resosialisasi juga diberikan kepada pramuka-pramuka agar mereka bisa membantu menyalurkannya kepada pihak-pihak keluarga ataupun tetangga-tetangga mereka yang lain.

Selain itu dilakukan pula Quality Control kepada SPBE setiap harinya dengan

melakukan pengecekan terhadap tabung elpiji, mulai dari proses kelayakan pakai tabung gas, perlengkapan dan aksesoris tabung hingga proses pendistribusian ke agen-agen. Proses ini dilakukan untuk mengurangi kelalaian SPBE agar tidak mendistribusikan tabung yang tidak layak pakai dan dapat mengakibatkan kecelakaan terjadi lagi.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Menjadi seorang Public Relation  yang sukses pada dasarnya di dasari oleh keahlian komunikasi, pengetahuan media dan manajemen, kemampuan memecahkan masalah, motivasi, dan kemampuan intelektual yang mengagumkan.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Moore, Frazier. 2005. Humas. Bandung. PT. REMAJA ROSDAKARYA BANDUNG

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s