FEATURE: “Nama, Citra Kepribadian”

Standar

image201303050008

NAMA, CITRA KEPRIBADIAN

 

Saat lonceng masuk kelas dibunyikan, seorang gadis manis dan periang bergegas memasuki kelas sembari mengucapkan salam kepada teman-teman ku lainnya.Sesungging senyum selalu yang memancarkan semangat selalu ada menghias wajahnya.Pagi ini hujan sedang turun sebab musim penghujan telah tiba.Namun, hal ini tak menyurutkan semangat belajar gadis itu.

Sebelum kesekolah rupanya Rannywati Hutajulu telah mencari rumput untuk makanan kerbau.Rutinitas ini dilakukannya setiap harinya.Akan tetapi, hal ini memberi semangat tersendiri untuk mewujudkan cita-citanya sebagai insinyur pertanian.

Selain berwajah manis, gadis suku batak ini juga memiliki prestasi yang memuaskan di bidang akademik.Selama menjalani bangku SMP kelas 1 di SMP Negeri 1 Laguboti, dia selalu meraih peringkat 1.Benar-benar pribadi idaman.

Ketika ditanya apa rahasia sukses belajarnya, dia hanya tersenyum dan berkata,”Saya sama seperti kalian, selalu mencoba menikmati proses pembelajaran, hanya saja mungkin kali ini saya sedang beruntung”.

Setelah mengakrabkan diri dengan nya, saya baru mengetahui bahwa Rannywati tidak memiliki ibu lagi.Sejak kecil dia di rawat dan dibesarkan oleh nenek dan ayahnya.Anehnya, kemalangan yang menimpanya itu seperti mengkonversikan diri menjadi motivasi untuknya.

“Saya tidak ingin menambah kesedihan lagi untuk nenek,ayah, dan saudaraku, saya harus bisa semanis,setabah,dan sepintar ibu”, katanya lagi menambahkan.

Ayah dan nenek Ranny bekerja sebagai petani sewaan, mereka mengolah lahan tetangga secara bergiliran demi sesuap nasi.Itulah sebab nya gadis ini memiliki rutinitas yang padat selain disekolah, untuk meringankan beban kedua orang yang disayangnya itu.

“Setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, pukul 05.00 -06.00 WIB, saya mencari rumput untuk makanan kerbau.Kemudian, saya merebus singkong dan ikan asin untuk sarapan pagi,”kata nya lagi sambil tersenyum.

Upah yang diperoleh ayah dan neneknya setiap harinya rata-rata Rp 20.000,00.Sementara dia memiliki dua orang saudara yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.Dalam satu hari mereka hanya makan nasi satu kali saja.Pagi dan malam mereka makan singkong rebus yang dibubuhi garam agar penghasilan ayah dan neneknya cukup untuk membeli lauk dan beras esok harinya.

“Hal yang paling saya senangi adalah makan dengan lauk.Apalagi jika melihat wajah saudaraku yang kegirangan saat disajikan nasi,tempe,sambal bawang,dan daun singkong rebus di meja.Kita seperti sedang menikmati makanan enak di hotel berbintang rasanya,” tambahnya seraya tertawa kembali.

Upah yang sangat pas-pasan menyebabkan rumah keluarga Ranny tidak dialiri listrik.Neneknya beranggapan bahwa memasang listrik di rumah hanya akan menambah pengeluaran mengingat pekerjaan nenek dan ayahnya yang pergi ke sawah pada saat matahari sudah terbit dan pulang dari sawah langsung berbasuh,makan,dan tidur sehingga tidak terlalu membutuhkan listrik.

Ranny selalu berusaha belajar disiang hari karena keadaan penerangan.Dia duduk di punggung kerbau membaca buku sambil menggembalakan hewan itu.Tak jarang ia menyisihkan setiap minggu uang sakunya untuk membeli lilin sebagai penerangan ketika belajar dimalam hari.”Saya sangat menyukai lilin berwarna seolah warnanya memberi semangat baru untuk belajar,”tukasnya lagi.

Menjelang akhir semester 2, gadis ini menemukan 5 butir telur bebek ketika sedang mencari rumput.Dia menemukan telur tanpa pemilik itu di antara rerumputan.Akhirnya, dia memutuskan untuk mengeramkan telur itu hingga menetas.

Peternakan kecilnya dapat menambah penghasilan keluarga mereka dan menambah lauk mereka tentunya.Per butirnya telur tersebut di jual dengan harga Rp 75,00 ( tahun 1973).Akan tetapi, neneknya memprioritaskan telur-teur itu untuk di jual sehingga ketika mereka makan dengan berlaukkan telur setiap orang mendapatkan setengah bagian.

Ranny memiliki cerita lucu tentang telur-telur ini.”Saudara ku yang masih duduk di bangku SD selalu merasa keheranan ketika disajikan nasi dengan telur setengah bagian.Pada saat itu dia masih baru belajar berhitung.Akhirnya dia mengajarkan hitungan kepada bebeknya seperti yang diajarkan gurunya,”kata Ranny memulai.Kemudian saudaranya memaksa  semua bebek  di kandang berdiri menghadap papan tulis usang.Saudaranya itu mulai memberi penerangan.”Bebek-bebek dengar, jika kamu semua bertelur, bertelur lah dengan ukuran bulat penuh,”katanya sambil menggambar lingkaran utuh.

Neneknya yang tidak sengaja melihatnya pun mewujudkannya dengan memberi telur dengan ukuran penuh kepada setiap piring makanan mereka.

“Adik ku sangat bangga akan hal itu.Dia mengatakan kepada nenek bahwa bebeknya telah pandai bertelur.Banyak cerita lucu dan bahagia yang saya jalani bersama saudara,nenek,dan ayahku sehingga tak ada lagi alasan bagiku untuk hidup sedih dan berkeluh kesah.Saya sangat menikmati hidupku,”ujarnya menutup ceritanya hari itu.

Pada tanggal 17 November 1992 , saya melahirkan anak ketiga, seorang putri yang nantinya saya harapkan berkepribadian seperti Ranny.Hanya saja memberi nama Rannywati sebagai nama pertama terkesan janggal karena terdiri dari satu kata.Satu kontribusi nama dari suami saya adalah ‘SISKA’.Nama ini terdengar manis, bersahabat, tidak condong terhadap apa pun (nama suku atau daerah kelahiran).Saat itu saya memutuskan memberi namanya,”SISKA RANNYWATI”.

 

Iklan

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s