Study oriented bukan alibi yang menjadikan kita budak pengetahuan

Standar

429607_450364375032824_1451816585_n.jpg

Study oriented bukan alibi yang menjadikan kita  budak pengetahuan

Menyandang status sebagai pelajar atau mahasiswa atau pun status yang di sandang saat berkecimpung di dunia pendidikan selalu memberi dilema. Ranah dilema itu semakin merambah luas ketika menduduki bangku kuliah.

Siswa dengan embel-embel “maha” memberi warna mau pun beban tertentu bagi kita. Warna, ketika kita bisa menjadi output (lulusan) yang memberi warna sosial yang indah bagi sesama. Kemudian, beban ketika tersesat di dunia kemahasiswaan yang bercabang.

Dua pilihan sederhana menjadi reward yang men-generalisasi di dunia kuliah, yaitu menjadi mahasiswa  study oriented atau humble person? Saya tidak menambahkan opsi aktivis karena realita yang ditekankan pada tulisan ini bukan serentetan embel-embel kegiatan di luar aktivitas konvensional kampus.

Study oriented menjadi pilihan umum para mahasiswa yang berkecimpung di dunia eksakta. Kehidupan yang dipenuhi dengan penulisan laporan, responsi, dan praktikum menjadi santapan mingguan dan kebiasaan mengandalkan logika sudah mendarah daging.

Pilihan study oriented bukan lah sebuah dosa atau kesalahan besar, toh kita menjadi mahasiswa harus memprioritaskan kuliah bukan?  Pilihan ini dikatakan kurang tepat ketika kita mencoba menjadikan pilihan ini menjadi  cover status yang kita sandang, tanpa sebelumnya mengetahui desain  study oriented seperti apa yang dapat menge-mix antara hakikat kita sebagai mahluk sosial dan kita sebagai bagian budak pengetahuan.

Contoh sederhananya, sepulang praktikum atau saat mengerjakan laporan sering kali kita lupa atau bahkan enggan menyapa sesama. Sebenarnya hal ini tidak selalu memberi kenyamanan dalam diri kita, darah mahluk sosial kita tetap hidup dan mengalir. Kita butuh tersenyum kepada sesama, kita butuh say greeting kepada orang di sekitar kita.

Jika suatu saat kita mulai lupa caranya tersenyum dan sering mengerutkan kening maka kita akan menyalahkan siapa? Ingin menjadikan study oriented sebagai alibi? Kita yang sudah di sebut sebagai mahasiswa sudah terlalu kekanak-kanakan menjadi fenomena seperti ini sebagai akibat study oriented.

Cover study oriented tidak selamanya menghasilkan isi study oriented pula. Setiap hari kita menjalani hidup sebagai budak pengetahuan tanpa menyadari ada kebutuhan sosial yang memberi kenyamanan dan motivasi baru ketika kita memulai kembali rutinitas praktikum, responsi, atau pun mengerjakan laporan.

Berkutat di dunia study oriented dengan cara yang salah hanya akan memberi kepenatan bagi kita. Kemudian ketika kita merasa jenuh, seringkali kita lebih suka bersosialisasi di dunia maya. Coba bayangkan, betapa bodohnya kita yang lebih memilih menghabiskan waktu 2-3 jam chat atau twitteran dengan orang lain (bahkan orang yang tidak kita kenal betul) tetapi kita tidak punya waktu memberi sesungging senyum pada orang yang kita temui.

Tahukah kamu senyum itu menular?

Sederhananya, ketika kamu berpapasan dengan sesama pejalan kaki di area penyeberangan, kamu akan menemui banyak ekspresi wajah. Saat kamu berpapasan dengan mereka yang memancarkan wajah gembira dan melemparkan sesungging senyum pada mu maka akan ada sinyal yang menggerakkan otot wajah kita untuk tersenyum, setidaknya kita merasa tenang. Hal ini akan memberi stimulus bagi tubuh mu untuk tetap semangat saat menjalankan kehidupan study oriented mu.

Akan menjadi sangat lucu ketika seorang mahasiswa berkata “saya pikir study oriented menjadikan saya menjadi pribadi yang bersyukur karena saya menikmati kehidupan pendidikan saya”. Sering kali mind set seperti ini muncul di benak kita masing-masing.

Kita tak butuh teori atau penelitian panjang untuk mengulas statement seperti ini, jelas saja hal ini tidak tepat. Anehnya, kita sering mempublikasikan diri kita sebagai pribadi yang bersyukur karena memilih study oriented¸tanpa menjalankan hakikat sosial kita.

Kita tidak perlu mendefenisikan syukur dengan versi atau formula yang panjang. Serderhananya, ketika kamu memberi sesungging senyum buat sesama mu, itu sudah menjadi bukti kamu bersyukur di dalam hidup mu. Lebih fantastis nya lagi effect senyum yang kamu beri akan mendatangkan berkat untuk mu.

Tidak percaya?

Orang yang menerima sinyal hasil dari ekspresi senyum mu akan terstimulus juga untuk tersenyum, paling tidak mereka akan merasa nyaman. Tersiratnya, kamu akan menerima berkat secara tidak langsung karena telah mengkontribusikan senyum mu untuk keindahan hidup orang lain. Cukup sederhana dan menguntungkan bukan?

Menyandang status sebagai mahasiswa tidak selamanya menjadikan kita hidup di bawah bayang-bayang budak pengetahuan, untuk itu mari ubah desain study oriented mu dengan menambah ramuan mujarab hakikat sosial kita.

:))

😀

Iklan

2 responses »

  1. Suka dengan opinimu ini Siska.
    Study Oriented membuat mahasiswa kelihatan semakin bodoh. Menutupi kepintaranya dengan kebodohanya. inteligensia harus dibarengi dengan rasa, empati, kepekaan, sosial, rohani, dll. ada banyak mahasiswa di indonesia yang pintar tapi pada akhirnya kepintaran mereka hanya diganjar dengan selembar ijasah, dengan nilai cum laude…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s