Opini: ALASAN BUKAN AGUNAN BANGSA INDONESIA

Standar

182636_193737343981463_193737157314815_569274_3956276_a

ALASAN BUKAN AGUNAN BANGSA INDONESIA

Menyandang status sebagai Warga Negara Indonesia, tak selalu dilandasi alasan yang memberi keuntungan, baik secara material dan rohani. Sering kita bertanya apa hal yang menahan kita untuk tetap berbaur dengan masyarakat lainnya di negeri ini. Bukan kah seharusnya semua ini menyedihkan?

Di saat masyarakat di negeri lain sibuk berurusan dengan inovasi-inovasi tekhnologi dan informasi, kita sedang menyibukkan diri dengan urusan muatan perut yang sejengkal. Akan tetapi, lihat saja kita selalu punya inovasi untuk tersenyum setiap hari.

Tidak jarang kita disuguhi pemandangan di sudut jalan, anak kecil berjualan koran dan menyemir sepatu setiap hari. Mereka bisa saja  menjadikan jeratan ekonomi sebagai alasan. Namun, semuanya dijalaninya dengan keikhlasan yang indah, keikhlasan menikmati porsi hidup.

Banyak pula generasi penerus  bangsa yang berjuang mengejar ilmu dengan fasilitas lampu seadanya, di saat anak di negeri lain berfasilitaskan tekhnologi terbaru. Ajaibnya, mereka dapat mengolah semangat nya menjadi tekhnologi tersirat, penunjang pembelajaran.

Setiap upacara di hari senin, anak-anak bernyanyi dengan penuh rasa nasionalisme yang berakar, tak peduli dengan kakinya yang sakit saat berjalan jauh kesekolah atau sepatunya yang basah saat menyeberangi sungai. Dengan berdiri tegap di bawah terik matahari, mereka nyanyikan lagu kebangsaan.

Kajian histori juga tidak memberi alasan kuat bagi pulau-pulau di Indonesia terintegrasi. Sekali pun ada perjanjian terlegitimasi yang menyatukannya, bukan tidak mungkin penduduk dari sabang sampai merauke memilih berpisah dari Indonesia. Masyarakat bisa saja memilih kembali ke jaman sebelum kemerdekaan, ketika mereka membentuk kerajaan-kerajaan besar yang lebih menguntungkan.

Sudah menjadi hal lumrah bagi masyarakat Indonesia menolong masyarakat yang mengalami kecelakaan. Terdorong oleh kasih, tidak jarang mereka membawa korban ke rumah sakit hingga membayar seluruh biaya pengobatan nya.

Di beberapa negara di luar negeri bahkan membuat peraturan bahwa menolong masyarakat yang mengalami kecelakaan dan tindakan kriminal, adalah kewajiban pihak yang berwajib. Mereka hanya berhak melaporkan peristiwanya kepada yang berwajib,tersiratnya rakyat dibatasi untuk berbagi kasih. Masyarakat yang hanya lalu lalang di depan korban kecelakaan atau kejahatan kriminal menjadi hal yang biasa karena dipicu peraturan di atas. Untuk peristiwa seperti ini, masih kah kita butuh alasan?  Sepantasnya tidak.

Terdengar hebat dan aneh, Indonesia memiliki banyak jenis suku dan bangsa tetapi terintegrasi dalam jangka waktu panjang. Bahkan masih banyak masyarakat Indonesia yang hanya mengetahui bahasa asli daerahnya tetapi masih bisa bangga akan merah putihnya. Sulit dibayangkan interaksi yang terjadi ketika penduduk Indonesia yang berbeda suku bertemu yang terpikirkan hanya lah konflik dan saling mencurigai. Akan tetapi, tatapan kebangsaan yang sama menghantarkan mereka berkomunikasi simbolik.

Para ibu di luar negeri mungkin akan mencemooh dan menganggap remeh ibu-ibu di Indonesia dengan asumsi memiliki kebiasaan menghabiskan waktu dengan percuma.

Memasak makanan instant oleh ibu di luar negeri menjadi pilihan menghemat waktu. Sementara ibu di Indonesia masih punya waktu mengulek sambal terasi, menumis sayuran, menyajikan pepes ikan, dan makanan sehat lainnya. Dapur menjadi surga mereka, seolah waktu yang mereka punya tidak akan berlalu.

Wanita di luar negeri juga tidak habis pikir mengapa wanita-wanita di tanah air ini sering boros waktu dengan berbincang-bincang, bukan kah waktu adalah uang?

Ketika mereka menyebut waktu adalah uang, wanita di Indonesia akan menyebut dengan manis waktu adalah kasih. Berbincang tidak akan mengorek saku. Jika ditanyai, wanita-wanita itu akan tersenyum dan menjawab bahwa mereka sedang berbagi kasih. Kasih untuk menyelesaikan masalah wanita lainnya, kasih untuk membebaskan kepenatan, kasih untuk merangkul satu dengan yang lainnya, bukankah ini kebiasaan yang indah?

Ruang keluarga di negeri ini adalah surganya rumah. Canda, tawa, cerita bahagia, cerita keluh kesah, semuanya terumbar oleh setiap anggota keluarga.Berkumpul dengan anggota keluarga selalu menjadi moment yang ditunggu-tunggu. Berbeda dengan keluarga di luar negeri, mereka memang berada pada ruang yang sama, tetapi tidak ada perbincangan, semua sibuk dengan alat elektronik masing-masing.

Jika krisis moneter terulang kembali, Indonesia akan menjadi negara yang bertahan lama. Masyarakat sudah terlatih dengan apa yang masyarakat luar negeri katakan kepahitan hidup. Penduduk negeri ini selalu mempersiapkan senyum pertahanan di setiap moment.

Di negara lain, perekonomian selalu masalah utama yang menyelimuti penduduk karena menyangkut kebutuhan badaniah yang harus segera dipenuhi. Akan tetapi, menemukan seorang pedagang makanan yang  tetap tersenyum meskipun barang dagangannya yang laku setengah harga sama banyaknya dengan investor di negara lain yang jatuh sakit karena sahamnya merugikan.

Negara atau belahan dunia mana lagi seperti negeri ini? Kebudayaan yang paling modern hingga yang paling primitif bersarang disini. Masyarakat yang mengandalkan ilmu gaib dan pengguna tekhnologi modern hidup berdampingan di daratan yang sama. Uniknya, paradigma yang berbeda tidak merusak hubungan mereka.

Banyak fakta, menurut versi masyarakat luar negeri yang mengasumsikan kita tidak punya kebahagiaan di negeri ini. Bahagia atau tidak nya kita di negeri ini adalah pilihan anggapan setiap pribadi. Indonesia adalah wadah kebahagiaan, kita tidak perlu selalu mencari alasan dengan menumbalkan negeri ini untuk bahagia  karena ini indonesiaku, Indonesia kita semua. Tak ada alasan untuk mempertanyakan keindonesiaan lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIODATA

Nama penulis              : Siska Purba

Tempat tanggal lahir   : Kecamatan Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara, 17 Desember 1992

Nomor ponsel              : 085270508586

Nama kampus             : Universitas Gajah Mada,  Yogyakarta

Alamat rumah              : Jalan Kaliurang Km 5, Gang gayam Sari IV H1B, Asrama Putri Rahayu

Twitter                                    : @Siskapurba1

Facebook                    : Siska Purba

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s