Monthly Archives: Mei 2013

Sona dosa bolon gabe halak batak, jadi boasa ikkon maila?

Gambar

Sona dosa bolon gabe halak batak, jadi boasa ikkon maila?

Iklan

CERPEN: “HANYA AKU & BANGKU TUAKU”

Standar

557901_432193030207397_1816875639_n

CERPEN

HANYA AKU & BANGKU TUAKU

                Pagi ini aku terbangun oleh panasnya udara pagi di Jogja. Tidak seperti sebelumnya suhu kota tempat hidup ku ini semakin panas saja, entah karena banyak nya pendatang yang berdomisili disini atau karena perubahan cuaca. Aku sudah tidak terlalu peduli akan itu yang aku tahu aku sangat senang karena pagi ini aku bangun tepat sebelum jam 07.00 wib.

Jujur, sebenarnya aku belum ingin beranjak dari tempat tidur tuaku, rasanya efek penuaan tulang sudah mulai menjangkitku. Terkadang, tiba-tiba saja aku terbangun dengan rasa linu.

Kualihkan pandangan ku menuju tempat tidur tuaku. Meskipun usianya hanya berbeda 10 tahun dengan usiaku, tetapi tempat tidur ini selalu saja bisa memberi kenikmatan tidur untukku setiap harinya.

Beberapa kali aku menguap sambil menatap jam dinding. Kupaksa mataku terbuka lebar memastikan jarum jam mununjuk ke angka berapa.

“Mungkin aku bisa tidur beberapa menit lagi”, ucapku sambil merebahkan badan kembali setelah memastikan waktu saat itu.

Beberapa menit yang terdengar hanya lah bunyi gerak jarum jam tuaku. Sesaat merebahkan badan aku merasa seperti melupakan sesuatu pagi ini, hanya saja aku tidak dapat mengingatnya dengan baik. Kucoba mengingat kembali dan aku pun tersentak lalu duduk di tepian tempat tidur.

“Bukankah hari ini hari senin?”, aku berbicara sambil berjalan melihat kalender yang tertempel di dinding.

Tahu bahwa pagi ini adalah hari Senin, bergegas aku beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi.

Kubasuh wajahku perlahan, kemudian menggosok gigiku. Sesekali aku bersenandung lagu jawa kesukaanku di masa mudaku dulu. Aku sungguh bersemangat karena ini adalah hari senin.

“Jam pinten iki neng?”, tanyaku pada seorang gadis yang sedang melintasi teras rumahku. Gadis itu menghentikan langkahnya, menghadapkan wajahnya pada ku, tetapi tidak menjawab pertanyaanku. Tampak keningnya berkerut, seperti berpikir keras.

“Maaf mbah, saya bukan orang jawa, saya tidak mengerti arti pertanyaan mbah”, katanya dengan wajah menyesal.

“Oh, tidak apa-apa neng, sekarang sudah jam berapa ya”, seruku kembali menegaskan pertanyaanku. Kemudian dia menjawab pertanyaanku dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Ternyata gadis itu berasal dari pulau sumatera dan belum lama berdomisili di Jogja. Tetapi entah kenapa hatiku merasa dia gadis yang baik, aku sungguh menyukai senyum tulusnya. Pagi ini aku sangat bahagia, bahagia karena telah bertambah orang yang ku kenal dan bertegur sapa denganku. Detakan jantungku pun berirama turut berbahagia.

Sambil menunggu pelintas jalan selanjutnya, kutarik bangku panjang tuaku dan duduk kembali. Senandung lagu jawa yang tadi nya terhenti kulanjutkan kembali sambil sesekali menggoyangkan kepalaku mengikuti irama lagu. Aku menanti dengan bahagia, menanti mereka yang memerdekakanku, pembawa bahagiaku.

Ini lah hal yang setiap harinya kulakukan. Pagi dan siang duduk di bangku panjang tuaku, menanti mereka yang melintas dari depan teras rumahku. Aku selalu menyukai hari senin dan hari-hari kerja lainnya. Banyak mahasiswa dan masyarakat yang akan melintas di hari itu. Aku akan berusaha bangun pagi agar sempat menyapa mereka. Jadwal jam kuliah mahasiswa di sekitar rumahku kuhapal benar, sehingga tidak ada hari yang terlewatkan tanpa menyapa mereka.

Mungkin mereka akan dan sudah muak akan kelakuanku yang selalu menanyakan jam pada mereka. Atau mungkin mereka akan berpikir aku sudah pikun. Apa pun anggapan mereka adanya aku hanya kesepian. Aku membutuhkan teman bicara dan berbagi.

“Sudah lah, toh mereka kususahkan hanya berbagi beberapa kalimat saja”, kataku sambil menghibur diriku sendiri.

“Baru pulang toh neng”, tanyaku kepada seorang mahasiswi yang melintas. Seperti nya dia baru saja melewati hari yang panjang dan kurang menyenangkan, terlihat dari raut wajahnya dan gerakan tangannya yang berusaha menutupi matanya agar terhindar cahaya matahari. Aku ingin sekali dia bisa berbagi kekecewaan dengan ku, aku akan sangat bahagia bila dia bercerita, sungguh.

Seperti anak kecil yang berharap diberi permen lollipop, kutatap matanya dengan berbinar-binar dan penuh harapan.

“Jam, . .”, belum sempat aku bertanya dia sudah memotong perkataanku.

Dengan wajah sangar, sambil melirik telephone genggamnya dia menjawab,”Jam 2 kurang 15, mbah”.

Kemudian dia berlalu, melangkah secepatnya, hingga hilang dari sudut mataku.

Aku tertegun sejenak. Belum sempat kuucapkan terima kasih, mengapa dia berlalu begitu saja? tanya ku dalam hati, penuh kesedihan. Tangan yang tadinya kulambaikan memanggilnya untuk berterima kasih, kuturunkan perlahan. Aku sedih sungguh sangat sedih. Memang cuaca siang ini sangat terik sehingga membuat pejalan kaki kepanasan dan penuh emosi. Tetapi tahukah mereka, tidak ada hal yang paling menyiksa di dunia ini selain kesepian.

Aku belum bisa melupakan perlakuan mahasiswa tadi. Aku sungguh mengasihinya, tetapi mengapa dia menyakitiku? Sungguh, aku tidak habis pikir. Terpikir kah olehnya bahwa dia  akan bertemu dengan teman-teman nya, berbagi cerita kekesalan nya, hingga akhir nya kekecewaan itu hilang. Sedangkan aku?

Aku akan tetap seperti ini, berjuang di dalam kejamnya penjajahan sepi. Aku merindukan sapaan, meski hanya sebatas jawaban jam.

Aku duduk kembali di bangku panjang tuaku, sembari menatap dan mengelusnya. Khayalku melambung jauh. Sesekali memori ku singgah pada sosok almarhum suamiku, kemudian berlabuh pada bayangan anak-anak ku yang sudah dewasa. Anak yang dulunya begitu lucu, tetapi sekarang sudah menjajahku dengan menambah kesepianku. Mereka jarang berkunjung, menelpon pun tidak.

“Yahhhh, mereka sudah tidak membutuhkan tua bangka seperti ku lagi,” seruku dalam hati sambil menarik napas panjang.

Kumainkan untaian rambut panjang ku dengan membaginya menjadi gulungan-gulungan kecil. Sesekali kutarik, kemudian ku ulur kembali. Memoriku dipenuhi rasa sepi. Rasanya aku berada di dunia tanpa manusia.

Kutatap awan di atas. Awan yang tadinya cerah, sekarang berganti awan hitam.

“Mereka memang awan hitam, tetapi lihat, mereka masih memiliki teman. Ada awan lainnya tempat mereka berbagi. Mereka lebih beruntung daripadaku”, seruku sambil menarik napas panjang.

Tatapan mahasiswi tadi masih hadir membayang dibenakku. Melankolis ketuaanku meliputiku. Hatiku sangat perih, tersiksa oleh sepi, terjajah oleh tatapan itu.

“Nak, tahu kah kau, di masa tua mu, kau akan mengerti mengapa aku seprti ini, mengapa ada manusia seperti ku. Tetapi nak, aku berharap masa tua mu tidak seperti ku, tidak perlu mengundang benci pelintas jalan dengan pertanyaan usang tentang jam. Nak, sepi itu menyiksa,”seruku dalam hati, tak terasa air mata ku pun menetes.

Sore itu kuhabiskan dengan menangis. Dadaku sesak, rasanya ingin meledak, Tidak ada yang peduli karena sekarang sedang hujan lebat. Tidak ada yang tahu rasanya sepi, hanya aku dan bangku tuaku yang tahu. Aku hanya berharap waktu dapat memerdekakanku dari rasa sepi ini.

 

****