Monthly Archives: September 2013

MEDIA CETAK, FORUM KOLONIALISME WANITA

Standar

Pada hakekatnya pekerjaan media adalah merepresentasikan realitas, dan isi media adalah hasil karya para pekerja media mengonstruksi berbagai realitas yang dipilihnya . Media juga memainkan peran khusus dalam memengaruhi atau mempertahankan suatu budaya tertentu melalui informasi yang diproduksinya (Sobur, 2001).
Salah satu media massa yang mempunyai kemampuan untuk menyampaikan pesan kepada khalayaknya adalah media cetak. Artikel di media cetak mampu menghasilkan sebuah representasi realitas yang sengaja dikonstruksi untuk memberikan sebuah gambaran lewat kode-kode, foto, mitos, ideologi-ideologi dari kebudayaannya.
Pada penerbitan sebuah berita di media cetak melibatkan prosedural ekonomi yang berdampak pada keuntungan dan kerugian. Hal ini menjadi momok dengan adanya kebebasan pers sesudah orde baru di Indonesia yang memunculkan jurnalis-jurnalis amatiran yang berkecimpung dalam dunia pemberitaan.
Kedua hal ini mengakibatkan pemberitaan di Indonesia yang seharusnya merepresentasikan realitas sosial menjadi market oriented manakala dalam mekanisme operasional media cetak terkena kerugian.
Media cetak sebagai media yang lebih menjangkau khalayak karena sifatnya yang konvensional pun menghalalkan banyak cara untuk memposisikan brand masing-masing di tengah khalayak yang nantinya mendatangkan profit bagi mereka. Salah satu hal yang dilakukan adalah dengan merekonstruksi realitas masyarakat dalam pemberitaannya.
Rekonstruksi realitas media di Indonesia dewasa ini yang sedang booming adalah pemberitaan media yang mengeksploitasi banyak hal tentang wanita.
Persentasi penjajahan wanita secara fisik memang sudah mengalami penurunan, tetapi hal ini juga lah yang memotivasi lahirnya forum baru penjajahan wanita, yaitu lewat media cetak. Pemberitaan dengan mengeksploitasi wanita dalam media cetak berhasil mengisi pundi-pundi uang pengelolanya. Berita tentang wanita menjadi suguhan teraktual media cetak akhir-akhir ini.
Bisnis media cetak merupakan bisnis yang mudah dimasuki oleh siapa pun, jurnalis amatiran sekalipun.
Ini lah yang menyebabkan bisnis media cetak mudah mengalami kebangkrutan. Kondisi ini menyebabkan beberapa media cetak yang awalnya melakukan pemberitaan dengan topik yang menyeluruh mulai mengikuti media cetak lainnya yang menghadirkan isu seputar wanita agar bisa bertahan hidup .
Isi
Pemenuhan kebutuhan masyarakat akan informasi dewasa ini merupakan tugas utama yang di emban media cetak. Oleh karena itu, kebebasan dalam pemberitaan menjadi semakin longgar di Indonesia saat ini, terutama sejak kejatuhan orde baru.
Akan tetapi, hal ini jugalah yang menyebabkan para pengelola media cetak ‘bermain berita’ dan menjadikan representasi realitas masyarakat mengalami konstruksi. Konstruksi ini dilakukan untuk memperoleh profit. Di Indonesia, perwujudannya dilakukan dengan mengangkat isu ‘wanita’ yang dieksplor secara habis-habisan.
Eksploitasi wanita akan media cetak di Indonesia dapat dilihat dengan hadirnya berbagai jenis media cetak yang menjadikan isu seputar wanita menjadi highlight dalam pemberitaan, terutama dalam bentuk tabloid dan majalah. Contohnya: majalah Femina, Kartini, Pupular, dan lain-lain.
Distribusi majalah dan tabloid menempati angka yang besar dalam pers Indonesia karena adanya intervensi pers amatiran (Firmanzah, 2008 :20). Dengan kerja jurnalis yang sering kali menumbalkan wanita dalam pemberitaan yang buruk dengan alasan bisnis, menjadikan pelabelan yang buruk pula akan kaum wanita.
Majalah wanita adalah komoditas ekonomi yang berkewajiban menunjang komoditas lainnya. Secara ekonomis, majalah wanita suatu bisnis yang sebagai lembaga kapitalis yang sehat dan sejati bertujuan mencari keuntungan dari konsumen, pembacanya (Idi &Hanif, 1998:112).
Jika dilihat dari pekembangan dan gejala majalah wanita Indonesia berkaitan dengan kontes perkembangan masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Sejak boom di tahun 1970 dan 1980-an, akibat dibukanya pintu ekonomi Indonesia pada investasi asing, majalah wanita mengalami perkembangan yang pesat dari segi jumlah dan penampilan.
Bahkan, di tahun 1990-an,banyakyang bepenampilan artistik-visualnya tak kalah canggih dari majalah wanita di Barat yang memang menjadi acuan rekaannya di Indonesia.
Perkembangan ekonomi Indonesia yang sejak 1970 menuju kapitalisme, membutuhkan media yang tepat untuk mengiklankan komoditi hasil produksi kapitalisme tersebut dan majalah wanita menjadi wadah untuk hal tersebut.
Beberapa tabloid dan majalah melakukan segmentasi pasar berita dengan melakukan klasifikasi-klasifikasi yang lebih detail, seperti adanya tabloid dan majalah khusus wanita remaja.
Didalamnya terdapat konstruksi-konstruksi wanita yang biasanya berupa perihal masak-memasak, bonus makanan, konsultasi kesehatan, konsultasi psikologi, dan konsultasi etiket (Wiratmo dan Ghiffari 2008:101-119).
Dari segi kuantitas wanita yang lebih banyak dari pria mendatangkan profit yang lebih besar lagi dilihat dari segi jumlah konsumennya dengan menggunakan konstruksi-konstruksi di atas.
Tragisnya lagi, media cetak mensyaratkan wanita yang layak dalam pemberitaan, seperti yang disebutkan Susan Brownmiller (1975) dalam bukunya Against Our Will-Men, Women and Rape menulis bahwa ada tiga cara jitu seorang perempuan menjadi layak berita di harian-harian populer: sebagai istri atau putri pembesar, sebagai korban (pemerkosaan, pembunuhan, atau kejahatan lainnya) yang tak bersalah dan atau tak bernama, atau sebagai pelaku kejahatan sendiri (dalam Idi & Hanif, 1998:138)
Masih dalam konteks penjajahan media cetak, wanita Indonesia sekarang ini lebih banyak dieksplore dengan pemberitaan yang berfokus pada body shape dan life style .Perlahan-lahan media cetak menanamkan standarisasi bentuk tubuh wanita yang ideal dan cantik (biasanya bertubuh ramping, kulit putih, rambut lurus). Dalam hal ini, audiens wanita dicoba dijerat oleh media cetak agar mengonsumsi produk-produk yang mengidentifikasikannya dengan sebutan wanita cantik dan ideal.
Citra yang ditampilkan di media cetak, khususnya dari majalah fashion, akan model-model wanita yang ramping menunjukkan efek negatif yang berkaitan dengan berat badan, ketidakpuasan tubuh, kesadaran diri, suasana hati yang negatif dan penurunan persepsi ketidakmenarikan diri . Kondisi seperti ini juga lah yang mendatangkan tawaran-tawaran pemuatan iklan berbagai produk kecantikan di media cetak.
Sudah tidak jarang lagi di berbagai media cetak kita menemui foto-foto wanita sensual yang dianggap dapat menarik khalayak untuk membeli. Bermodalkan itu, media cetak memperoleh keuntungan besar dan mampu bersaing di tengah maraknya media cetak yang beredar di Indonesia (Moammar Emka, 2006 :58).
Penjajahan wanita di media cetak semakin terlihat dengan munculnya banyak majalah pria dewasa yang mengeksploitasi perempuan sebagai objek erotisme pemberitaan mereka, seperti Playboy, Lipstick, Male Emporium, FHM Magazine, X-File, Popular dan lain-lain (Bungin, 2003:139-140).
Media cetak yang awalnya sumber informasi perlahan-lahan menjadi wadah baru yang memberlakukan objektivikasi pada wanita dengan mengkomersilkan mereka dalam pemberitaan.
Objektivikasi pada wanita berarti kegiatan menjadikan perempuan sebagai hal perkara atau orang yang menjadi pokok pikiran, sasaran, tujuan, pelengkap atau tujuan penderita. Objektivikasi terjadi, ketika seseorang, melalui sarana-sarana sosial direndahkan derajatnya, dijadikan benda atau komoditas, dibeli atau dijual. (Syarifah, 2006:153).
Objektivikasi hasil bentukan media cetak ini mulai merambah berbagai budaya dan mencoba menyisipkan nilai-nilai baru dalam bentukan wanita. Contoh yang paling menonjol adalah aksi media cetak yang telah banyak mengubah citra kecantikan wanita dalam budaya-budaya tersebut dengan memasukkan kriteria tubuh yang ramping sebagai salah satu cirri kecantikan modern (Mulyana, 2005).
Perlahan-lahan media cetak menjadikan wanita sebagai etalase berita dengan penyisipan konsep kecantikan versinya dalam pemberitaan baik dalam tabloid hingga majalah lux. Para cheft wanita ditampilkan dalam tatanan wanita cantik dengan tubuh yang ramping. Nilai rasa makanan bukan menjadi suatu hal yang diutamakan lagi.

Pengelola media cetak berusaha meraup keuntungan lewat eksploitasi wanita dalam pemberitaan tidak hanya lewat sajian foto, tetapi juga dalam format judul berita. Judul yang penuh sensasional marak digunakan sejumlah surat kabar. Topik kekerasan terhadap wanita khususnya pemerkosaan menjadi favorit di kalangan jurnalis. Perkosaan hasil kemasan jurnalistik mengalami pergeseran pandangan yang awalnya dipandang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Tindakan perkosaan dimanfaatkan jurnalis sebagai strategi pasar karena sajian tersebut mendapat apresiasi publik yang cukup besar. Media cukup tanggap dengan ambiguinitas publik yaitu publik seolah-olah menolak tindakan pemerkosaan namun sebenarnya cukup menikmati sajian itu.
Berlanjut dari judul berita, pada bagian isi berita di media cetak para jurnalis berusaha melakukan diksi yang mengundang titik perhatian. Pilihan kosakata digunakan dalam menggambarkan aktor atau agen yang terlibat dalam suatu peristiwa. Seperti penggunaan pilihan kata “wanita cantik”, “pekerja malam” yang secara eksplisit memberi pelabelan negatif yang merugikan kaum wanita.Pemberitaan dengan bumbu marjinalisasi wanita di umbar secara berulang-ulang oleh media cetak meskipun dalam bentuk narasi yang lebih variatif dalam penyajiannya.
Iklan di media cetak juga tidak ketinggalan menambah warna eksploitasi wanita di media cetak dengan variasi masing-masing. Tamrin Amal Tomagola mengkategorikan citra perempuan pada iklan di media massa sebagai berikut (Tanesia 2011):
1. citra pigura: perempuan sebagai sosok yang sempurna dengan bentuk tubuh ideal
2. citra pilar: perempuan sebagai penyangga keutuhan dan piñata rumah tangga
3. citra peraduan: perempuan sebagai objek seksual
4. citra pinggan: perempuan sebagai sosok yang identik dengan
dunia dapur
5. citra pergaulan: perempuan sebagai sosok yang kurang percaya
diri dalam pergaulan.

Konstruksi-konstruksi citra ini memberi pengaruh negatif yang besar bagi wanita di Indonesia. Banyak di antara mereka mulai melakukan banyak hal yang mengidentikkan mereka pada salah satu citra tersebut. Ketika mereka melihat foto wanita dengan citra pinggan yang digambarkan melalui pose seorang artis cantik yang sedang menyajikan makanan didapur, wanita yang tertarik dengan foto itu akan mulai mengategorikan dirinya dalam citra pinggan dengan mencoba menghilangkan citra yang lain pada dirinya. Misalnya wanita yang juga seorang wanita karir (termasuk citra pilar) merasa kebingungan ketika mencoba menjalankan citra pinggan. Hal ini disebabkan iklan di dalam media seperti majalah wanita dan remaja adalah acuan berpikir, bertindak, dan merasakan bagi masyarakat (Giaccardi,1995).

Bisnis media cetak di Indonesia saat ini sedang dalam puncak persaingan yang menstimulus pengelolanya untuk melegalkan seluruh konstruksi nya sebagai sebuah realitas lewat pemberitaannya.Demikian juga dengan pengeskploitasian wanita yang dilakukan oleh media.
Mengetahui perspektif media yang mengedepankan berita yang berorientasikan pasar maka para konsumen juga harus semakin selektif dalam mengkonsumsinya. Baik pengemasan berita dalam balutan unsur seks yang erat dengan ekploitasi wanita maupun iklan yang beredar. Hal ini terutama pada konsumen wanita yang menjadi bidikan besar pasar bisnis media cetak saat ini.

DAFTAR PUSTAKA

Buku
Bungin, Burhan. 2003. Pornomedia: Konstruksi Sosial Teknologi Telematika dan Perayaan Seks di Media Massa. Jakarta: Prenada Media.
Emka, Moammar. 2006. Top Secret Model Face Off: In Bed With Models. Jakarta: Gagas Media.
Firmanzah. 2008.Marketing Politk-antara pemahaman dan realitas. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Mulyana, Deddy. 2005. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.
Sobur, Alex. 2001. Analisis Teks Media. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Subandi Ibrahim, Idi dan Hanif Suranto (Ed). 1998. Wanita dan Media Konstruksi 560851_497627720330594_1226606447_nIdeologi Gender Dalam Ruang Publik Orde Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Syarifah. 2006. Kebertubuhan Perempuan Dalam Pornogarfi. Jakarta: Yayasan Kota Kita

Publikasi Online
Giaccardi, Chiara. 1995. Television Advertising and The Representation of Social Reality: A Comparative Study”, dalam Theory, Culture & Sociaty, edited by Mike Featherstone, Vol. 12.
Tanesia, Ade. 2011. Representasi Perempuan dalam Media, Pusat Sumber Daya Media Komunitas .(http://www.antaranews . com/berita/1269598504/sumur-kasur-dapur-citra-perempuandimedia- Massa).
Wiratmo, Liliek Budiastuti dan Mohammad Ghiffari. 2008. Representasi Perempuan dalam Majalah Wanita, Jurnal Studi Gender dan Anak, PSG STAIN Purwokerto, Vol. 3, No.1.

Iklan