CERPEN (Hari Ayah) : “Ucapan awal dan terakhir”

Standar

CERPEN
Ucapan Awal dan Terakhir
By : Siska Purba
Tuhan Yesus, . .
Besok Rani ulangtahun, aku ingin besok ayah bisa ngomong dan ucapin selamat ulang tahun padaku, . .
Amin
Terdiam aku sejenak ketika kenangan itu hadir kembali di memoriku pagi ini. Kenangan ketika aku berdoa berkali-kali dengan list doa yang sama setiap tahunnya, sejak aku berusia 5 tahun.
Saat itu memang sewajarnya anak-anak seusiaku sering diberi surprise oleh orangtuanya terutama ketika ulang tahun. Sayangnya, aku terlahir di dunia tanpa ibu, dan seorang ayah yang bisu. Mendengar ucapan selamat ultah dari ayahku sendiri adalah hal yang mustahil bagiku.
Setiap ulangtahun ku tiba, aku selalu mengucapkan doa seperti di atas dengan harapan akan terjadi keajaiban. Akan tetapi, hingga sekarang aku berusia 21 tahun yang kutemui hanyalah sesosok ayah tunasuara.
Aku masih ingat ketika malam aku akan berusia 7 tahun. Malam itu aku menghabiskan waktuku dengan menatap setiap gerak jarum jam, mataku seolah ikut berputar mengikut irama putarannya.
“Hari ini aku harus berdoa tepat jam 12.00 malam, haruss harusss” ucapku menyemangati diriku.
Waktu yang kunantikan pun tiba. Jam weker yang sudah kusetel pun berbunyi. Lalu aku mendoakan ayah ku yang bisu agar ketika ku terbangun nanti, beliau bisa mengucapkan selamat ulang tahun padaku.
“Amin . . “ucapku menutup doaku malam itu. Detik demi detik, menit demi menit pun berlalu. Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00, sudah dua jam aku menanti pikirku. Mataku yang sudah berat kupaksa untuk terbuka, dan aku pun berbicara dengan volume berbisik berulang-ulang.”Malaikat,malaikat, Rani mau ayah bisa berbicara”.
Hal yang kupercayai,malaikat Tuhan pasti melewati pintu kamarku, mendengar doaku dan menyampaikannya kepada Tuhan. Akhirnya, aku pun tertidur lelap dan lagi-lagi ketika ku terbangun penantianku berakhir sia-sia.
SELAMAT ULANG TAHUN RANI, AYAH MENYAYANGIMU
Kubaca tulisan di karton itu sambil menatap pria itu dengan tatapan hambar dan muak. Aku jenuh dengan keadaan ini. Ayah ku hanya bisa menuliskan kalimat ucapan selamat ulang tahun tanpa bisa mengucapkannya padaku. Berkali-kali di angkatnya karton dengan tulisan di atas dan menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri, ekspresi ceria terlukis diwajahnya dengan harapan aku akan menyukainya. Saat karton itu terangkat, sepertinya ada tulisan kecil di bagian bawah, namun aku sudah jenuh dengan keadaan yang sama setiap tahunnya maka kuabaikan begitu saja tulisan itu.
Aku tidak mengucapkan apa-apa pagi itu, terimakasih pun tidak.
“Untuk apa mengucapkan terimakasih, toh setiap tahun tidak ada yang berubah. Dia hanya bisa menggoyang-goyangkan kertas tanpa ada suara. Aku sudah terlalu lama melewatkan banyak tahun dengan hal konyol itu”, ucapku dalam hati.
Dengan langkah lunglai, kuambil tas di atas meja bambu buatan ayahku dan berangkat ke kampus. Di tengah jalan aku masih merenungkan hidupku dengan ayah tunasuara. Aku memaki kehidupanku sekarang. Betapa banyak dan beratnya hari-hari yang kulalui hanya karena tidak adanya suara ayahku.
“Apa indahnya hidup ini? Tidak ada satu bagian pun indahnya. Aku dilahirkan di dunia dengan ayah bisu. Ibu aku tidak punya. Selain bisu, ayahku juga hanya seorang pegawai door smeer. Mungkin lebih indah jika aku hidup sebatang kara”, ucapku dalam hati.
Tak terasa langkahku sudah tiba di dalam kelas. Sayangnya hari itu dosen tidak bisa hadir dan kelas akan di ganti pada jadwal mata kuliah pengganti yang sudah ditentukan dosen. Aku enggan menghabiskan satu hari ini dengan smua hal yang berbau rumah dan ayah, sehingga aku pun setuju dengan ajakan temanku pergi bermain bersamanya.Kampusku berada di daerah pusat kota kelahiranku dengan banyak toko dan bangunan besar berdiri disekitarnya.
“Hei Ran, temani beli roti ya, itu diseberang ada toko roti”, ajak temanku sambil menunjuk sebuah toko roti. Aku hanya mengangguk saja tanda setuju.
Ketika menyeberangi jalan kulihat seseorang yang sepertinya kukenali. Lelaki tua itu baru saja keluar dari sebuah toko roti dengan menenteng sebuah kue tart, di pangkuannya terdapat alat untuk menyemir sepatu seperti yang digunakan oleh pedagang asongan. Dia tampak kesusahan berjalan karena barang-barang bawaannya itu.
Tiba-tiba temanku berkata” sepertinya lelaki tua itu seorang penyemir yang baik. Aku akan anjurkan agar dia menyemir sepatu di rumahku”.
Awalnya aku hanya bersikap cuek saja dengan ucapannya. Akan tetapi, tunggu sepertinya aku mengenal sosok itu, seruku lagi dalam hati dan mencoba mengamatinya kembali. Dan akupun tersadar, ternyata lelaki tua itu adalah ayahku. Kupanggil namanya dari seberang. Dia pun menoleh dan melambaikan tangan dengan wajah sangat gembira sambil mengeluarkan bahasa isyarat. Kondisi kendaraan lalu lalang dengan cepat menyebabkan aku tidak mengerti maksud ayahku.
Sadar akan kondisi tersebut ayahku pun berinisiatif menyeberang dan menemuiku. Penuh semangat ayahku menyeberang tanpa melihat kekanan dan kiri.Tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang dan menabrak ayahku. Beliau terlempar keras ke trotoar. Kepalanya berdarah akibat terbentur keras.
Aku sungguh terkejut dan tidak peduli lagi dengan kendaraan yang melaju kencang. Kakiku kuayunkan berlari menemui ayahku. Kudapati ayahku dalam kondisi terluka berat. Darah dari kepalanya tidak berhenti mengalir. Aku sangat panik . Aku histeris,tangiskupun pecah, aku berteriak minta tolong kepada setiap orang yang berlalu dihadapanku.
Kubopong badan ayahku, darah pun semakin mengalir deras menutupi wajahnya. Kurobek bajuku dan kucoba menghentikan pendarahan ayah ku dengan kaos itu. Akan tetapi ini jakarta bung, yang mana arti nyawa seorang miskin bukan lah berarti bahkan mereka berharap agar orang seperti kami banyak meninggal yang dianggap dapat mengurangi kotornya jalanan.
Aku nekat membopong ayahku menuju rumah sakit terdekat dengan tetap berteriak minta tolong, tetapi tetap saja yang miskin dianggap hanyalah seonggok sampah di pinggiran, tidak ada yang menolong. Sekuat tenaga kupapah beliau yang bersimbah darah. Langkahnya yang berat dan cucuran darah itu membuatku tangisku tidak berhenti. Aku sungguh tidak ingin kehilangan beiau.
Ayahku pun tersungkur tidak kuat karena kehilangan banyak darah.
“Ayahhh, bertahanlahhh, kita hampir sampai ayah teriakku sambil menangis. Kutatap lagi ayahku, tangannya yang lemah menyentuh lenganku sebagai isyarat agar aku berhenti sejenak. Kududukkan ayahku dengan harapan ada keajaiban terjadi padanya.
Diambil ayahku kembali karton yang bertuliskan ucapan selamat itu. Tangannya yang lemah dicoba di gerakkannya, meskipun dengan gerakan terputus-putus. Sekuat tenaga beliau menggoyang-goyangkan kertas itu. Hatiku remuk melihat ayahku yang masih berusaha membahagiakanku dengan wajah yang tersenyum dalam kesakitan. Kutatap sosok itu dengan tangisan. Kuraih tangannya kupeluk erat, kulihat wajahnya tersenyum.
Aku sungguh tidak ingin melepaskan pelukan itu, berulang ulang aku berdoa agar terjadi keajaiban yang menolong ayahku. Beberapa menit pun berlalu, aku masih memeluknya dengan erat dan sangat kencang, air mataku mengalir, aku menangis terisak isak. Kemudian saat itu aku kehilangan detakan, detakan jantung orang yang paling kusayang. Kuguncang tubuh ayahku meyakinkan bahwa beliau masih memiliki detakan itu. Sunyi dan berhenti, tidak ada detakan. Beliau telah meninggal. Tidak ada hal yang lebih menyedihkan lagi selain menangis dengan jiwa yang terguncang melepasnya. Tangisku pecahhhh.
Beberapa jam sesudah melepas kepergiannya, ku amati kembali karton ucapan pemberiannya. Ternyata di bawahnya ada tulisan “kejutan awal”. Aku pun terkejut. Didalam nya kutemui lipatan kertas kecil yang bertuliskan
Rani, ayah menyayangimu setulus hati ayah, ayah sungguh sedih tidak pernah bisa mengucapkan selama ulang tahun kepadamu, tetapi jangan sedih hari ini kita tidak akan makan kue yang terbuat dari ubi lagi, ayah akan belikan tart terbaik untukmu, maaf kan ayahmu yang bisu.
Kudatangi toko kue tempat pembelian ayahku. Dia bercerita sudah sebulan ayahku bekerja sebagai tukang semir di tokonya untuk menambah penghasilannya. Uang tambahan yang diperolehnya dibelikan alat rekaman dan kue tart. Dia juga meminta tolong pemilik kue untuk mengucapkan kata selamat ulang tahun yang direkamnya untuk di berikan kepadaku, tetapi sudah terlambat karena beliau telah berpulang dahulu.
Selamat ulang tahun, . .
Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun Rani anak ayah tersayang
Selamat ulang tahun Rani, . .
Ayah selalu mendengarkan doamu setiap kamu meminta Tuhan agar ayah bisa berbicara, tetapi maaf ayah tidak bisa nak. Ayah terlahir bisu. Saya tidak bisa berbicara seperti ayah lainnya. Tetapi ayah ingin kamu tahu bahwa ayah menyayangimu sepenuh hati ayah. Tidak ada ayah yang sempurna di dunia ini nak, tetapi cinta ayah sempurna untukmu.
Selamat ulang tahun sayang, . .
Tangisku pecah saat mendengar rekaman itu. Ucapan yang paling indah yang pernah kudengar selama aku berulang tahun. Aku menangis sambil mengerang, mengingat betapa kejam dan bodohnya hal yang kulakukan selama ini. Air mata ku mengalir deras membasahi wajah dan bajuku. Tubuhku terguncang hebat dan tanganku bergetar memegang karton itu Aku hanya bisa menyesali, kebodohanku dalam tangis.
Terimakasih ayah, terimakasih buat segalanya
Terimakasih Tuhan Yesus, buat ucapan awal dan terakhir ayahku.
***

D: Siska
U: Among parsinuan se Abusyo
DU: selamat hari bapa Among, sai lam marhabapaon na uli ma di bagasan Ibana tu joloanon, Debata mamasu masu
1001826_674196862607220_210592990_n^_^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s