Monthly Archives: Desember 2013

CERPEN” Doa kecil untuk Santa”

Standar

“Doa kecil untuk Santa”
By: Siska Purba

Aku tidak pernah percaya Santa itu ada, bahkan sekalipun dia ada aku akan mengutuknya habis-habisan setelah semua yang terjadi. Santa tidak lebih dari semua simbol pengharapan palsu, semua kisah kebahagiaan semua hanya itu yang dijanjikannya. Santa bisa apa?? Bahkan Santa tidak tahu apa pun tentang natal. Aku tidak peduli ketika orang mulai mengisahkan histori tentang si jenggot putih itu, bagi ku Santa tak lebih dari pembohong, yang anehnya tetap di dambakan manusia. Santa Bastard, . . .
“Maxy, . . . . . . .” suara yang sangat akrab bagiku itu memanggil nama ku dengan keras.
Secara refleks ku hentikan kegiatan mengetikku.
“Itu baru kutukan part I, lihat saja nanti aku masih punya seribu list kutukan untukmu si tua berjenggot putih, bahkan bila perlu aku akan menuliskan banyak buku untuk mengumumkan kebohonganmu , agar semua orang turut mengutukmu dan kau akan mati untuk selamanya di memori semua mahluk di dunia ini,“aku berbicara sendiri sambil menununjuk photo Santa di dinding kamarku.
Suara yang memanggil tadi adalah ibuku, salah satu dari 2 mahluk yang paling ku sayang di dunia ini. Bagiku ibu dan ayahku bagaikan malaikat yang selalu mendampingi hidupku. Mereka selalu mengajariku kesederhanaan dan selalu bersyukur dalam hidup ini, karena dengan itu lah kita bisa menikmati hidup. Aku sungguh menghormati apa pun yang mereka ucapkan dan aku mempercayainya, kecuali tentang Santa, aku tidak percaya pada si tua itu.
“Nak, lusa kan hari natal, kamu sudah siapin pakaian rapi dan bersihkan?”, tanya ibu ku sambil melihat ku dengan tatapan teduh.
“Apa kamu ingin ibu belikan baju baru? bilang saja, ibu masih punya simpanan,asalkan kamu datang natal ibu pasti belikan baju bagus” kata ibu lagi.
“Ayah sangat berharap nak kamu akan ikut acara natal besok, kamu kan sudah besar, harus bisa menghargai moment agama mu sendiri, tepatnya datang lah ke rumah ibadah untuk bersyukur,” ayah menimpali lagi.
“Akan kupikirkan ayah, ibu,” jawabku ketus dan terburu-buru.
Perlahan kukunyah kembali nasi yang sudah singgah di mulutku sambil memikirkan bujukan kedua malaikat itu.
“Apa hebatnya natal? Toh keadaan gereja tahun ini sangat buruk, aku benci natal tahun ini,”seruku dalam hati.
Acara makan malam tadi tidak seperti biasanya, suasana begitu hening, ayah dan ibuku hanya bisa terdiam memikirkan perubahan ku selama ini. Hal ini mulai terjadi tepatnya dua tahun lalu. Awalnya aku adalah anak yanng begitu menikmati semua ibadah kekristenan, mulai dar pelayanan yang sederhana hingga pelayanan yang membutuhkan kesungguhan telah kuikuti. Moment kristiani yang paling kusenangi adalah hari natal. Natal itu merah, pertanda seluruh kebahagiaan. Aku juga sangat mempercayai Santa claus sebagai moyang pembawa kebahagiaan. Banyak album yang mengabadikan moment kebersamaanku dengan orang yang berpakaian Santa Claus.
Akan tetapi, semua itu berakhir setelah bencana menimpa gerejaku. Awalnya para penatua di gerejaku berencana untuk memperbesar bangunan gereja karena umatnya sudah semakin banyak. Mereka pun mengurus perluasan lahan gereja ke pemerintah setempat untuk pembangunan gereja. Jemaat sungguh berharap pemerintah akan meringankan prosesnya, namun entah dari mana dan bagaimana hal itu terjadi begitu saja. Harapan kami di respon dengan pernyataan bahwa gereja yang kami bangun itu tidak memiliki ijin yang sah, bahkan kami tidak di perbolehkan beribadah disana. Seluruh jemaat terpukul, apa lagi aku yang saat itu akan merayakan natal sudah mempersiapkan segala bentuk variasi acara natal. Peristiwa ini terjadi sekitar bulan september sebelum natal datang.
Aku begitu sedih melihat aksi demo setiap minggu nya dilakukan oleh jemaat gerejaku. Mereka menyampaikan kesedihannya dan meneriakkan amarah nya yang tidak ada habisnya. Kutukan kepada pemerintah terus terucap. Mereka, kami hanya menginginkan satu hal agar pemerintah mengembalikan gereja kami.
“Santa claus seharusnya hadir untuk hal tersulit seperti ini, dia malaikat natal dan seharusnya hadir saat ini”seruku dalam benakku. Santa claus yang ku maksud bukan lah santa yang biasa di tampilkan di tempat-tempat hiburan maupun rumah ibadah. Aku sudah cukup berpikir sedikit ilmiah saat itu mengingat usiaku yang sudah menjelang 13 tahun. Santa yang kuinginkan adalah orang yang memiliki wewenang untuk mengiyakan keinginanku dan jemaatku. Sayangnya, dia tidak hadir bahkan sudah 2 tahun. Gereja ku tetap tidak bisa digunakan dan bangunan nya di paku seluruhnya dari bagian luar oleh aparat pemerintah. Itulah sebabnya aku membenci, tidak percaya, dan mengutuk Santa.
“Nak ini ibu belikan kemeja dan celana baru untuk natal besok, dipadukan dengan dasi hitam ayah pasti bagus”, ibuku memberikan bingkisan berisi kemeja merah dan celana hitam padaku dengan wajah berseri dan penuh pengharapan padaku.
Sebenarnya aku enggan menerima nya, tetapi melihat ketulusan malaikat itu aku pun menerimanya. Aku tahu ibu dan ayahku begitu bahagia setiap natal datang. Sesuai dengan nama ku “Maxy”, singkatan dari marry xmas, aku lahir di hari natal. Ini jugalah yang membuat mereka berhati besar aku bisa hadir di natal yang juga hari kelahiranku.
“Ibu, mungkin aku datang telat natal besok, jadi ibu dan ayah berangkat duluan saja” ucapku dengan suara pelan takut mengecewakannya. Ibuku hanya mengangguk sambil tersenyum lalu mengelus kepalaku.
Pagi ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki, sesudah dua tahun ke tempat yang kami sebut “gereja”. Bagaimana tidak sesudah dua tahun pemerintah tida merespon tuntutan kami, kami beribadah di bawah tenda biru, bak pengungsi yang tidak pernah mendapat tempat yang layak.
Kulihat satu persatu jemaat yang ada disana. Aneh, meskipun tempat ini tidak layak disebut sebagai rumah ibadah, tetapi jemaat yang datang semakin banyak saja.
Tiba-tiba kurasakan tarikan kecil dan perlahan dari arah bawah, seperti tarikan tangan kecil di celanaku. Benar saja seorang anak kecil berusaha menarik dan menggoyang-goyangkan bagian bawah celanaku sambil berteriak padaku.
“Kakak, kakak, selamat natal, jangan lupa doain Santa yah,” ucapnya sambil menyodorkan sebuah kertas merah dengan tulisan padaku. Aku menunduk dan menerima kertas itu.
“Emangnya santa nya kenapa dik? Santanya lupa ngasih hadiah buat kamu? Kamu maunya apa?’, tanya ku pada anak itu. Dia hanya menatapku tersenyum kemudian lari menghampiri ibunya.
Anak kedua dan ketiga pun berbuat demikian padaku. Memberi kertas merah, meminta agar Santa di doakan, lalu berlari mendapatkan ibunya.
“Dik, sudah mendoakan Santa??,” seorang ibu dan anak kecilnya dengan senyum kecil bertanya padaku. Akupun semakin kebingungan.

“Wah, kamu sudah dapat 3 kartu santa, pasti kamu pendoa yang baik,” mulainya berbicara.
“Aku tidak mengerti mengapa semua orang disini berdoa untuk santa, dia kan tidak melakukan apa-apa untuk kita, bahkan di saat kita terpuruk seperti ini, “ tiba-tiba aku berseru ketus.
Ibu itu tersenyum dan mulai bercerita lagi, “Awalnya kita, terutama orangtua sama sekali tidak bisa menerima kenyataan pahit ini, harus beribadah di bawah tenda yang tidak layak ini. Tetapi ternyata kita terlalu asyik dengan noda setitik di antara luasnya bagian putih kertas. Ketika kebaktian sekolah minggu kemarin, aku sungguh bergumul mengkhawatirkan berjalannya natal tahun ini. Aku tidak ingin meninggalkan memori sedih natal bagi anak-anak yang seharusnya menikmati seluruh moment penuh dengan kegembiaraan di natal ini.
Aku pun mulai antusias mendengarkan cerita ibu itu. Dia melanjutkannya kembali
“Ditengah-tengah kebingunganku seorang anak bertanya apa yang akan kita lakukan natal tahun ini. Aku hanya terdiam dan membisu mencari celah agar mereka tetap menghadirkan memori keindahan natal di benaknya. Tiba-tiba teman nya yang lain berseru “bagaimana kalau kita mendoakan santa? Tanyanya dengan mata berbinar. Aku membalas bertanya kembali dengan menanyakan ada apa dengan Santa.
Dengan mata berbinar dan senyum, dia melangkah pasti ke depan dan bercerita.
“Teman-teman tahu tidak santa sudah dua tahun tidak bisa mengantarkan bingkisan suka cita untuk kita. Makanya gereja kita belum bisa dibangun dan di paku dengan papan-papan yang kokoh. Mungkin saja keretanya sedang rusak atau rusa nya sedang sakit. Kita tidak tahu kan? Makanya kita doakan saja santa, “lanjutnya dengan wajah polos penuh kebahagiaan.
Semua anak di kelas itu terdiam dan seolah tersihir, kemudian mereka berseru. “Iya bu, kita doakan saja santa,”. Seperti baru mendapatkan sebuah mujijat tiba-tiba mereka melonjak kegirangan dan mulai membicarakan ide-ide untuk mendoakan santa.
“Aku tidak mengerti mengapa ibu juga turu antusias. Padahal Santa itu kan tokoh imajinai, tidak nyata. Dan itu ide anak kecil yang tidak tahu menahu tentang arti semua ini,” jawabku kembali.
“Kamu tahu, anak kecil itu sungguh murni dan pendoa yang baik. Mereka memang hanya tahu santa itu tidak bisa hadir natal ini dan membutuhkan doa. Tetapi mereka lebih tahu segalanya dibandingkan dengan kita. Santa yang mereka doakan sebenarnya adalah aparat pemerintah. Mereka mendoakan agar pemerintah mau membuka hati untuk mengijinkan kembali kita beribadah. Mereka tahu bahwa santa itu ilusi dan hanya memberi pengharapan yang entah kapan terwujud, sama seperti pemerintah yang secara duniawi, satu-satunya pengharapan kita yang kita tidaktahu kapan bisa mewujudkan permintaan kita. Hati anak-anak itu sungguh lembut. Mereka bilang santa sedang sakit, mereka bilang kereta nya rusak, mereka bilang rusanya sakit. Sama dengan pemerintah yang sedang di hinggapi penyakit dunia. Hebatnya anak-anak lebih tahu kalau doa itu tetap bekerja, kalau harapan masih ada, suatu saat Santa pasti sembuh. Doakan Santa ya dik, kamu pendoa yang baik, sama seperti anak kecil tadi”ujarnya menutup ceritanya sambil memberi kartu merah lagi kepadaku.
Kuterima kartu merah itu dengan hati bergetar hebat. Aku sungguh malu melihat diriku yang sekarang ini. Dibandingkan dengan anak kecil itu. Aku bukan pendoa yang baik, aku hanya pengumpat sejati.
Kutatap lagi kerumunan orang itu, di bawah tenda itu mereka sama-sama berdoa, untuk kedatangan Santa yang akan dikirimkan, mewujudkan harapanku, harapan kami. Anak-anak kecil itu masih berkeliaran dengan langkah kecil nan bahagianya, membagikan kartu merah sambil berseru,”Doakan santa yah, kamu pendoa yang baik”.
Malam ini aku akan menghapus kan tulisan tentang seribu kutukan santa. Mungkin kami akan beribadah di bawah tenda selamanya karena tulisan ku itu. Aku akan menuliskan dan mendoakan santa, layaknya pendoa yang baik.
Selamat natal, . . .

Santa-Claus-Christmas-Wallpaper-HD-300x187

Iklan

Standar

207944_1017855335270_7123588_n“GO HOME YOU ARE DRUNK”
“Hai kk, . .
Duluan ya kk, . .”
“Anak siapa mu itu?”
“Owh, kakak kelas ku kiannya itu pas SMA”
“lalap kakak kelas, yang segudang nya kalian disini?”
“Hahag, iya lah da, gak percuma pindah kampung dah kesini”
Percakapan singkat di atas banyak di alami beberapa dari kita dan jika hal ini terjadi banyak juga di antara kita yang merasakan rasa bangga yang terselip.
Sepuluh tahun sudah keluarga kita ini menggoreskan jejak di Yogyakarta ini. Menorehkan beribu warna cerita cinta kekluargaan.
Di mulai dari rencana berangkat ke Yogyakarta. Awalnya pasti banyak keraguan dan ketakutan, mulai dari membayangkan kondisi lingkungan yang asing, takut gak ada yang di kenal di Yogya, takut susah beradaptasi, takut susah move on dari makanan rumah, nambah lagi repetan mamak ungkapan kekhawatirannya (biasa lah mamak2 batak :D).
“Agah, betulnya di jemput nanti aku di bandara?
“Kenalnya nuaeng orang abg ma kk itu sama ku?
“kalau lupa orang itu kekmana? Mampus lah ak”
“atau ku telpon aja lah nanti memastikan bah, tapi segan aku, da aku yang minta jemput”

Hahag, . . .
Masih ingat ma kekhawatiran-kekhawatiran seperti di atas?
Kalau di ingat-ingat lagi sekarang jadi lucu pasti. Apa lagi kalau da sering ketemu ma kk atau abg yang menjemput kita yang awalnya kita kira sangar ternyata leluconable nya.
Kalau orang nanya apa yang bisa buat kita kangen ABUSYO? Aku mikirnya tinggal hadir kan aja kembali di ingatan kita semua moment tentang makrab. Kita bisa ketemu plus bersenang-senang sama orang-orang baru disini. Hal yang menyentuh itu waktu BPH membasuh kaki maba. Di paguyuban mana lagi atau di organisasi mana lagi kita temukan hal yang semenyentuh ini? Pendeta aja yang udah diakui jadi hamba Tuhan yang melayani semua kalangan masyarakat kalau membaptis kepala anak kecilnya nya ajanya di basuh. Mengharukan kan??
Sesudah makrab , udah banyak ngantri moment-moment yang menyenangkan dan mengejutkan. Di mulai dari kumpul angkatan, temu kangen, natal, taon baruan, paskah, sampe makrab lagi.
Kalau ditanya apa enaknya datang temu kangen tiap bulan? Aikh banyak x pun da gak terjejerkan lagi. Kalau datang pas temu kangen jadi nambah lagi skill pasang muka melas (pas ditagih uang kas ini :D), tambah pengetahuan tentang jenis snack kiloan (gak penting kali :D), nambah koleksi photo, karena kapan aja, dimana pun, pasti ada tiba-tiba yang inisiatif jadi photografer amatir (awalnya dah, sesudah 2x jepret jadi minta d poto lebih banyak lagi :D), gk lupa juga bisa menikmati kue ultahnya anggota ABUSYO yang ultah lainnya sambil kombur 24 SKS :D.
Di ABUSYO juga kita sama-sama menikmati event terupdate. Natal orang, natalnya kita, paskah orang, paskah nya kita, makrab orang makrabnya kita, update lah pokoknya. Uniknya kepanitiaan atau kesibukan pas mau dekat event besar di ABUSYO itu kegiatan danusnya lah. Karena danus ma ABSUYO lah banyak kita kenal variasi kegiatan danus.
Mulai dari jubung, ngamen, jual es teh ma bakpao, ma jual baju bekas. Lewat kegiatan-kegiatan ini lah muncul ke permukaan skill skil tersembunyi anak Abusyo, tiba-tiba banyak yang jadi ahli marketing semua trik di coba.
“ Mba, mau mawar birunya aj deh”
“ak punya uang Cuma 1000, bisa gk mbak?
Banyak dialog yang kita dapatkan waktu berjuang jubung di lampu merah., meskipun banyak dialog nya itu gak penting kali. Kadang ada yang minta mawar biru lagi padahal jelas-jelas yang di jual Cuma mawar merah, pink, ma putih. Ada yang nawar harganya 1000, modalnya pun gak nyampe. Tapi memang pengalaman yang di dapat lumayan lah menambah referensi kisah aneh bertemu pembeli, hahag.
Enaknya pas ngamen itu kalau yang datang rame. Apa lagi kalau lagi pas enak2 nya mood ank ABUSYO yang lain. Bisa satu album di satu tempat ikut sama jogetnya. Ngamen juga gak lepas dari trik. Kalau di liat banyakan orang kulit hitam pendengarnya di nyanyikan lah lagu “NYONG”, meskipun sebenarnya suaranya banyakan fals (untung lah ada alat musik yang menutupi), tapi peduli apa lah yang penting kebersamaan itu nya dah.
“Ikh, gk bisa gitu lah bu, sanggupnya ibu, modalnya pun gak nyampe. .”
“teganya ibu menawar segitu, tambah lah sikik buk, . .”
“Ini tiga-tiganya seribu aj deh mbak, ini karetnya udah molor, ini juga dah gak cerah lagi warnanya, ini resletingnya udah lepas, bla bla bla, “
“kalau gk mau ibu gak usah, beli di tempat lain aja lah”
“bereng hamu namboru na sadaon da etak beha ilarihon annon baju na di tanganna i, songon na asing do leak na”
“nenget2 dok bg, etak beha do boru silalahi muse i”
😀
Hahag, . .
Jual baju bekas memang danus yang agak capek sikik. Krna harus berangkat subuh ke pasar. Belum lagi harus adu mulut ma inang2 jawa, tapi intinya kayaknya “kalau di repeti, repeti balik lagi”. Memang modalnya gk ada dari panitia sendiri, tapi ngeri juga dengarnya, waktu di tawar 3 seribu kaos yang masih bagus dah bermerek, emosi lah da, secara kaos saudara awk ditawar murah, apa gk kumat batak awk
😀
Gak terasa da 10 tahun ABUSYO da banyak kisah yang ditorehkan dan orang yang dilibatkan. Abusyo memang rumah kita bersama. Bermula dari kisah kecil dan sederhana di rumah kecil kita ini, hingga akhirnya kita di berangkatkan ke gedung besar pekerjaan.
Meskipun banyak orang datang dan pergi, tetapi banyak juga yang tetap jaga rumah kita. Banyak abg2, kk2, kawan2 yang sayang sama ABUSYO. Walaupun banyak yang mencoba pergi, tapi banyak juga yang menjagai dan menunggui rumah kita ini sampe akhirnya datang lagi. Mereka gk pernah menuntut hal besar, sederhananya hanya mau bilang “Kalau pergi dari rumah, semoga kangen dan pulang lagi ke rumah”.
Bayang kan sepuluh tahun sudah, tapi tetap ada keluarga kita yang dengan setia menjagai rumah kita ini. Kecil kemungkinannya kalau mereka melakukan itu karena di bujuk oleh angkatan sebelumnya ((orang batak mana pintar membujuk) kalau pun ada gk kan mungkin punya dampak besar sampe buat mereka bertahun-tahun tetap setia. Intinya “ mereka puya modal awal cinta kecil untuk ABUSYO yang setiap saat beriplikasi hingga memenuhi hatinya”.
Kontribusi apa yang di tuntut untuk sepuluh tahun ini?
Sebenarnya bukan termasuk dalam klasifikasi tuntutan, karena kita basic nya keluarga, hanya berdasarkan asas rela. Ibarat anak sepuluh taon, ABUSYO juga kedepan nya akan melewati tahap pubertas yang penuh dengan kelabilan. Akan banyak pilihan dan godaan ke depan yang buat kita meninggalkan atau bahkan lupa total dengan ABUSYO.
Tapi intinya, mulai lah kita ngasih secuil saja cinta kita untuk ABUSYO, jadi waktu kita pernah mencoba pergi, kita akan kangen lagi ma rumah kita ini. Memang secara langsung ABUSYO gk ngasih dampak buat kita, tapi kyak kata abg kelas” jadi kan lah ABUSYO jadi tempat mu berinvestasi maka berkatnya akan datang dari luar”. Saling mengingatkan satu sama lain ketika rasa kangen itu mulai pudar.
SELAMAT ULTAH ABUSYO KU, . .
SELAMAT 10 TAHUN,makin ganteng, makin cantik, makin bijak, makin semua
:*

Standar

CIMG0067DENDANG LOGIKA
Kemarin aku menangis, menangisi pseudostupidity ku.
Jangan kan terpikirkan alasannya, euforia hati mempersuasi bak malaikat
Jiwa di banjiri dengan dilema feminisme hingga meluap
Apa kata atap ketika hujan bercerita?
Entah lah, tapi yang ku tahu siklus pseudostupidity ini hanya butuh satu setruman logika