CERPEN” Doa kecil untuk Santa”

Standar

“Doa kecil untuk Santa”
By: Siska Purba

Aku tidak pernah percaya Santa itu ada, bahkan sekalipun dia ada aku akan mengutuknya habis-habisan setelah semua yang terjadi. Santa tidak lebih dari semua simbol pengharapan palsu, semua kisah kebahagiaan semua hanya itu yang dijanjikannya. Santa bisa apa?? Bahkan Santa tidak tahu apa pun tentang natal. Aku tidak peduli ketika orang mulai mengisahkan histori tentang si jenggot putih itu, bagi ku Santa tak lebih dari pembohong, yang anehnya tetap di dambakan manusia. Santa Bastard, . . .
“Maxy, . . . . . . .” suara yang sangat akrab bagiku itu memanggil nama ku dengan keras.
Secara refleks ku hentikan kegiatan mengetikku.
“Itu baru kutukan part I, lihat saja nanti aku masih punya seribu list kutukan untukmu si tua berjenggot putih, bahkan bila perlu aku akan menuliskan banyak buku untuk mengumumkan kebohonganmu , agar semua orang turut mengutukmu dan kau akan mati untuk selamanya di memori semua mahluk di dunia ini,“aku berbicara sendiri sambil menununjuk photo Santa di dinding kamarku.
Suara yang memanggil tadi adalah ibuku, salah satu dari 2 mahluk yang paling ku sayang di dunia ini. Bagiku ibu dan ayahku bagaikan malaikat yang selalu mendampingi hidupku. Mereka selalu mengajariku kesederhanaan dan selalu bersyukur dalam hidup ini, karena dengan itu lah kita bisa menikmati hidup. Aku sungguh menghormati apa pun yang mereka ucapkan dan aku mempercayainya, kecuali tentang Santa, aku tidak percaya pada si tua itu.
“Nak, lusa kan hari natal, kamu sudah siapin pakaian rapi dan bersihkan?”, tanya ibu ku sambil melihat ku dengan tatapan teduh.
“Apa kamu ingin ibu belikan baju baru? bilang saja, ibu masih punya simpanan,asalkan kamu datang natal ibu pasti belikan baju bagus” kata ibu lagi.
“Ayah sangat berharap nak kamu akan ikut acara natal besok, kamu kan sudah besar, harus bisa menghargai moment agama mu sendiri, tepatnya datang lah ke rumah ibadah untuk bersyukur,” ayah menimpali lagi.
“Akan kupikirkan ayah, ibu,” jawabku ketus dan terburu-buru.
Perlahan kukunyah kembali nasi yang sudah singgah di mulutku sambil memikirkan bujukan kedua malaikat itu.
“Apa hebatnya natal? Toh keadaan gereja tahun ini sangat buruk, aku benci natal tahun ini,”seruku dalam hati.
Acara makan malam tadi tidak seperti biasanya, suasana begitu hening, ayah dan ibuku hanya bisa terdiam memikirkan perubahan ku selama ini. Hal ini mulai terjadi tepatnya dua tahun lalu. Awalnya aku adalah anak yanng begitu menikmati semua ibadah kekristenan, mulai dar pelayanan yang sederhana hingga pelayanan yang membutuhkan kesungguhan telah kuikuti. Moment kristiani yang paling kusenangi adalah hari natal. Natal itu merah, pertanda seluruh kebahagiaan. Aku juga sangat mempercayai Santa claus sebagai moyang pembawa kebahagiaan. Banyak album yang mengabadikan moment kebersamaanku dengan orang yang berpakaian Santa Claus.
Akan tetapi, semua itu berakhir setelah bencana menimpa gerejaku. Awalnya para penatua di gerejaku berencana untuk memperbesar bangunan gereja karena umatnya sudah semakin banyak. Mereka pun mengurus perluasan lahan gereja ke pemerintah setempat untuk pembangunan gereja. Jemaat sungguh berharap pemerintah akan meringankan prosesnya, namun entah dari mana dan bagaimana hal itu terjadi begitu saja. Harapan kami di respon dengan pernyataan bahwa gereja yang kami bangun itu tidak memiliki ijin yang sah, bahkan kami tidak di perbolehkan beribadah disana. Seluruh jemaat terpukul, apa lagi aku yang saat itu akan merayakan natal sudah mempersiapkan segala bentuk variasi acara natal. Peristiwa ini terjadi sekitar bulan september sebelum natal datang.
Aku begitu sedih melihat aksi demo setiap minggu nya dilakukan oleh jemaat gerejaku. Mereka menyampaikan kesedihannya dan meneriakkan amarah nya yang tidak ada habisnya. Kutukan kepada pemerintah terus terucap. Mereka, kami hanya menginginkan satu hal agar pemerintah mengembalikan gereja kami.
“Santa claus seharusnya hadir untuk hal tersulit seperti ini, dia malaikat natal dan seharusnya hadir saat ini”seruku dalam benakku. Santa claus yang ku maksud bukan lah santa yang biasa di tampilkan di tempat-tempat hiburan maupun rumah ibadah. Aku sudah cukup berpikir sedikit ilmiah saat itu mengingat usiaku yang sudah menjelang 13 tahun. Santa yang kuinginkan adalah orang yang memiliki wewenang untuk mengiyakan keinginanku dan jemaatku. Sayangnya, dia tidak hadir bahkan sudah 2 tahun. Gereja ku tetap tidak bisa digunakan dan bangunan nya di paku seluruhnya dari bagian luar oleh aparat pemerintah. Itulah sebabnya aku membenci, tidak percaya, dan mengutuk Santa.
“Nak ini ibu belikan kemeja dan celana baru untuk natal besok, dipadukan dengan dasi hitam ayah pasti bagus”, ibuku memberikan bingkisan berisi kemeja merah dan celana hitam padaku dengan wajah berseri dan penuh pengharapan padaku.
Sebenarnya aku enggan menerima nya, tetapi melihat ketulusan malaikat itu aku pun menerimanya. Aku tahu ibu dan ayahku begitu bahagia setiap natal datang. Sesuai dengan nama ku “Maxy”, singkatan dari marry xmas, aku lahir di hari natal. Ini jugalah yang membuat mereka berhati besar aku bisa hadir di natal yang juga hari kelahiranku.
“Ibu, mungkin aku datang telat natal besok, jadi ibu dan ayah berangkat duluan saja” ucapku dengan suara pelan takut mengecewakannya. Ibuku hanya mengangguk sambil tersenyum lalu mengelus kepalaku.
Pagi ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki, sesudah dua tahun ke tempat yang kami sebut “gereja”. Bagaimana tidak sesudah dua tahun pemerintah tida merespon tuntutan kami, kami beribadah di bawah tenda biru, bak pengungsi yang tidak pernah mendapat tempat yang layak.
Kulihat satu persatu jemaat yang ada disana. Aneh, meskipun tempat ini tidak layak disebut sebagai rumah ibadah, tetapi jemaat yang datang semakin banyak saja.
Tiba-tiba kurasakan tarikan kecil dan perlahan dari arah bawah, seperti tarikan tangan kecil di celanaku. Benar saja seorang anak kecil berusaha menarik dan menggoyang-goyangkan bagian bawah celanaku sambil berteriak padaku.
“Kakak, kakak, selamat natal, jangan lupa doain Santa yah,” ucapnya sambil menyodorkan sebuah kertas merah dengan tulisan padaku. Aku menunduk dan menerima kertas itu.
“Emangnya santa nya kenapa dik? Santanya lupa ngasih hadiah buat kamu? Kamu maunya apa?’, tanya ku pada anak itu. Dia hanya menatapku tersenyum kemudian lari menghampiri ibunya.
Anak kedua dan ketiga pun berbuat demikian padaku. Memberi kertas merah, meminta agar Santa di doakan, lalu berlari mendapatkan ibunya.
“Dik, sudah mendoakan Santa??,” seorang ibu dan anak kecilnya dengan senyum kecil bertanya padaku. Akupun semakin kebingungan.

“Wah, kamu sudah dapat 3 kartu santa, pasti kamu pendoa yang baik,” mulainya berbicara.
“Aku tidak mengerti mengapa semua orang disini berdoa untuk santa, dia kan tidak melakukan apa-apa untuk kita, bahkan di saat kita terpuruk seperti ini, “ tiba-tiba aku berseru ketus.
Ibu itu tersenyum dan mulai bercerita lagi, “Awalnya kita, terutama orangtua sama sekali tidak bisa menerima kenyataan pahit ini, harus beribadah di bawah tenda yang tidak layak ini. Tetapi ternyata kita terlalu asyik dengan noda setitik di antara luasnya bagian putih kertas. Ketika kebaktian sekolah minggu kemarin, aku sungguh bergumul mengkhawatirkan berjalannya natal tahun ini. Aku tidak ingin meninggalkan memori sedih natal bagi anak-anak yang seharusnya menikmati seluruh moment penuh dengan kegembiaraan di natal ini.
Aku pun mulai antusias mendengarkan cerita ibu itu. Dia melanjutkannya kembali
“Ditengah-tengah kebingunganku seorang anak bertanya apa yang akan kita lakukan natal tahun ini. Aku hanya terdiam dan membisu mencari celah agar mereka tetap menghadirkan memori keindahan natal di benaknya. Tiba-tiba teman nya yang lain berseru “bagaimana kalau kita mendoakan santa? Tanyanya dengan mata berbinar. Aku membalas bertanya kembali dengan menanyakan ada apa dengan Santa.
Dengan mata berbinar dan senyum, dia melangkah pasti ke depan dan bercerita.
“Teman-teman tahu tidak santa sudah dua tahun tidak bisa mengantarkan bingkisan suka cita untuk kita. Makanya gereja kita belum bisa dibangun dan di paku dengan papan-papan yang kokoh. Mungkin saja keretanya sedang rusak atau rusa nya sedang sakit. Kita tidak tahu kan? Makanya kita doakan saja santa, “lanjutnya dengan wajah polos penuh kebahagiaan.
Semua anak di kelas itu terdiam dan seolah tersihir, kemudian mereka berseru. “Iya bu, kita doakan saja santa,”. Seperti baru mendapatkan sebuah mujijat tiba-tiba mereka melonjak kegirangan dan mulai membicarakan ide-ide untuk mendoakan santa.
“Aku tidak mengerti mengapa ibu juga turu antusias. Padahal Santa itu kan tokoh imajinai, tidak nyata. Dan itu ide anak kecil yang tidak tahu menahu tentang arti semua ini,” jawabku kembali.
“Kamu tahu, anak kecil itu sungguh murni dan pendoa yang baik. Mereka memang hanya tahu santa itu tidak bisa hadir natal ini dan membutuhkan doa. Tetapi mereka lebih tahu segalanya dibandingkan dengan kita. Santa yang mereka doakan sebenarnya adalah aparat pemerintah. Mereka mendoakan agar pemerintah mau membuka hati untuk mengijinkan kembali kita beribadah. Mereka tahu bahwa santa itu ilusi dan hanya memberi pengharapan yang entah kapan terwujud, sama seperti pemerintah yang secara duniawi, satu-satunya pengharapan kita yang kita tidaktahu kapan bisa mewujudkan permintaan kita. Hati anak-anak itu sungguh lembut. Mereka bilang santa sedang sakit, mereka bilang kereta nya rusak, mereka bilang rusanya sakit. Sama dengan pemerintah yang sedang di hinggapi penyakit dunia. Hebatnya anak-anak lebih tahu kalau doa itu tetap bekerja, kalau harapan masih ada, suatu saat Santa pasti sembuh. Doakan Santa ya dik, kamu pendoa yang baik, sama seperti anak kecil tadi”ujarnya menutup ceritanya sambil memberi kartu merah lagi kepadaku.
Kuterima kartu merah itu dengan hati bergetar hebat. Aku sungguh malu melihat diriku yang sekarang ini. Dibandingkan dengan anak kecil itu. Aku bukan pendoa yang baik, aku hanya pengumpat sejati.
Kutatap lagi kerumunan orang itu, di bawah tenda itu mereka sama-sama berdoa, untuk kedatangan Santa yang akan dikirimkan, mewujudkan harapanku, harapan kami. Anak-anak kecil itu masih berkeliaran dengan langkah kecil nan bahagianya, membagikan kartu merah sambil berseru,”Doakan santa yah, kamu pendoa yang baik”.
Malam ini aku akan menghapus kan tulisan tentang seribu kutukan santa. Mungkin kami akan beribadah di bawah tenda selamanya karena tulisan ku itu. Aku akan menuliskan dan mendoakan santa, layaknya pendoa yang baik.
Selamat natal, . . .

Santa-Claus-Christmas-Wallpaper-HD-300x187

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s