“Media Sosial, Kanvas Baru Menorehkan Seni iklan di Indonesia”

Standar

 

“Media Sosial, Kanvas Baru Menorehkan Seni iklan di Indonesia”

1(Berdasarkan  Jurnal Seni Rupa & Desain Vol.1 No.1 2012 mahasiswa STISI Telkom, Program Studi DKV,  “Tranformasi Media Periklanan dalam Sosial Media : Analisis Iklan pada Fan Page Facebook WRP”,  Ilhamsyah 2012 )

Sebagai mahluk estetis, kehidupan manusia tidak terlepas dari aspek-aspek  yang bernilai keindahan. Keindahan tersebut identik dengan seni. Untuk menikmati sekarya seni, manusia menjadikan dirinya menjadi pelaku maupun objek dari seni itu sendiri yang diilhami oleh insting manusia itu sendiri.

Hal ini ditegaskan Van Baal,“Manusia dapat membedakan mana yang indah dan mana yang jelek dan selalu menyatakan dirinya dalam simbol-simbol: dalam perkataan, dalam mitos, dan juga dalam seni, dimana ia menemukan pernyataan yang murni dari dorongan hatinya sendiri untuk bebas menciptakan” (J. Van Baal,1986: 46).

 

Aspek cakupan seni di dalam hidup manusia tidak hanya sebatas karya konvensional yang sudah sering kali kita dengar, lihat, sentuh,dimiliki, bahkan diciptakan. Karya konvensional yang sering kita temukan yaitu berupa musik, tarian, patung, dan lain-lain.

Sebagai pelaku seni, manusia berusaha menciptakan dan mengekspresikan temuan-temuan seni lainnya melalui media disekitarnya. Salah satu seni tersebut adalah seni berkomunikasi.

 

Komunikasi sebagai aktivitas fundamental manusia dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung lewat  bantuan media. Salah Media tersebut antara lain adalah iklan yang merupakan bentuk seni dalam berkomunikasi.

 

Sandra Moriarty (2011:346) menggambarkan dengan jelas dalam bukunya yang berjudul Advertising bahwa periklanan adalah bentuk komunikasi yang kompleks yang beroperasi untuk mengejar tujuan dan menggunakan strategi untuk mempengaruhi pikiran, perasaan, dan tindakan konsumen.

Dalam hal ini pesan yang dikomunikasikan iklan membutuhkan interpretasi secara individual oleh komunikan. Disini lah konsep sederhana seni komunikasi yang disajikan iklan. Interpretasi individual yang dilakukan komunikan memberikan kepuasan tersendiri baginya. Mereka dapat menghadirkan, melukiskan, mengimajinasikan kehadiran sebuah iklan dalam benak masing-masing dengan kedalam tafsiran yang dibubuhi intuisi pribadi.

Komunikasi oleh iklan semakin indah dan mudah karena pesan yang disampaikan ditargetkan  pada kebutuhan barang dan jasa komunikan. Sederhanya, iklan membidik komunikan untuk mengkonsumsi produk yang telah dikemas dalam pesan-pesan iklan.

Seperti yang diungkapkan oleh Roman, Maas & Nisenholtz , iklan adalah seni menyampaikan apa yang ditawarkan atau dijual untuk mendapatkan perhatian dan menempatkan produk secara unik kedalam pikiran konsumen dengan alat bantu (2005:44).

Seni komunikasi yang unik sebagai tuntutan bagi iklan menuntut adanya perubahan performansinya sesuai kebutuhan komunikan. Hal ini diwujudkan dengan memulai perubahan dari konsep iklan yang paling sederhana.

 

1Diunduh dari  http://repository.stisitelkom.ac.id/46/2/Ilhamsyah%28Tranformasi_Media_Periklanan_dalam_Sosial_Media%29.pdf

 

Transformasi iklan semakin kuat dan inovatif karena didukung oleh kehadiran media sosial, terutama jejaring sosial. Keberadaan media sosial menunjang kebutuhan komunikasi manusia terkait interaksinya dengan individu lain.

 Adapun defenisi media sosial  adalah platform yang mampu memfasilitasi berbagai kegiatan seperti mengintegrasikan situs web, interaksi sosial, dan pembuatan konten berbasis komunitas. Layanan media sosial dapat memfasilitasi konten, komunikasi dan percakapan . Pemakai dapat membuat/co-create, mengatur, mengedit, mengomentari, mentag, mendiskusikan, menggabungkan, mengkoneksikan dan berbagi konten(O’Reilly, 2005)

 

Perubahan yang paling sederhana dapat dilihat dari  iklan adalah berubahnya asumsi iklan sebagai komunikasi satu arah (dari pengiklan ke konsumen)  menjadi two ways communication semenjak abad-21.  Konsumen mulai memberikan  feed back terhadap pesan yang disampaikan iklan, seperti  mengontak perusahaan lewat website atau telepon, untuk menanyakan produk yang dibicarakan di jejaring sosial.

Pemenuhan kebutuhan berinteraksi dengan sesama dipenuhi dalam media sosial dengan pembentuan komunitas online oleh para pengguna untuk berbagi dengan sesama anggota lainnya .S timulus khalayak yang ramai tanpa batas geografis bertemu di jejaring sosial mendatangkan gairah untuk berbagi.

Berkumpul dan berbincang dengan orang lain, secara umum merupakan kegemaran masyarakat kita dalam dunia nyata .Kondisi ini  diadaptasi oleh mereka dalam dunia maya lewat pembentukan komunitas online.

Defenisi komunitas adalah sekelompok orang yang saling berbagi lingkungan, perhatian, masalah, serta memiliki ketertarikan atau kegemaran yang sama terhadap suatu topik, dan dapat memperdalam pengetahuan serta keahliannya dengan berinteraksi secara terus menerus.(Wenger, 2002:4).

Dari defenisi di atas dapat diketahui bahwa komunitas  merupakan sekelompok individu yang terlibat secara emosi.Melalui media sosial, aktivitas pengungkapan diri (penghargaan, pengaruh, dan persepsi) dapat dilakukan tanpa hambatan psikologis, karena sifatanya yang tidak bertatap muka dalam komunitas online.

Keinginan untuk berbagi ini menjadi alasan kuat beriklan di jejaring sosial efektif diterapkan di Indonesia. Pernyataan ini di dasari fakta bahwa pengguna jejaring sosial di negara Indonesia menempati posisi tertinggi dari berbagai jejaring sosial media yang ada saat ini, (terutama  penggunaan  facebook )berada pada  posisi ke-3 di seluruh dunia (Kasali, 2011:37).  Hal ini dikarenekan facebook merupakan situs pertemanan yang dapat digunakan manusia untuk bertukar informasi, berbagi foto, video, dan lainnya (Madcoms, 2010:1)

 Selain itu, menurut kebiasaan dan perilakunya pengguna internet di Indonesia  81,9 % penduduk Indonesia  sudah memiliki akun dan meng- up date status mereka di situs jejaring sosial.

 

Rhenald Kasali dalam bukunya berjudul Cracking Zone juga mengungkapkan bahwa para pelaku jejaring sosial saling membentuk opini, mengekspresikan diri, mencari kawan, saling memberikan informasi kejadian-kejadian sehari-hari, merekomendasikan produk atau jasa yang mereka gunakan, dan lain sebagainya (Rhenald Kasali , 2011:38).

 

Salah fitur di jejaring sosial facebook yang disenangi penggunanya dan merupakan alat yang efektif menyampaikan pesan iklan adalah istilah People Talking About This  lebih dikenal dengan istilah word-of-mouth. Modifikasi jejaring sosial akan fitur ini mengundang ketertarikan penggunanya  karena angka People Talking About This dapat dilihat oleh publik sehingga publik akhirnya bisa menilai hidup atau tidaknya sebuah komunitas di fanpage melalui seberapa banyak orang membicarakan konten dari brand tersebut. Penilaian ini juga berangkat dari asumsi pengguna jejaring sosial di dunia nyata bahwa masyarakat kita, secara general tidak ingin ketinggalan  informasi  terutama  trending topic di lingkungan sekitarnya. 

Fitur ini juga dimanfaatkan oleh perusahan-perusahaan di Indonesia sebagai salah satu bentuk komunikasi periklanannya melalui alamat facebook  perusahaan. Lima contoh alamat facebook  perusahaan dengan jumlah people talking about this lebih dari 1.0000.0000. adalah www.facebook/blackberryind ,http://www.facebook/ilovesurfer girl,  www.facebook/yamaholiganwww.facebook/AXE.ID, dan www.facebook/chocolatos.

Sebagai jejaring sosial yang banyak digunakan,  facebook dan twitter menjadi media  pesan iklan yang yang efektif untuk memperoleh feed back komunikan karena  jejaring ini  memungkinkan orang bisa berbicara, berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan jaringan komunikasi  secara online .

Periklanan modern adalah komunikasi strategis yang dimaksudkan untuk mendapatkan sesuatu untuk menciptakan dampak, yakni respon konsumen, seperti memahami informasi atau membujuk seseorang untuk melakukan sesuatu.

Fenomena yang menarik dengan adanya komunikasi yang terjalin antara pengguna jejaring sosial dapat kita lihat dalam potret generasi muda saat ini.Dengan teknologi informasi, segerombolan anak-anak perempuan minta dilayani cream bath terkemuka di Pondok Indah Mall. Dalam sekejap salah seorang anak sudah menggoogling dengan perangkat I Padnya sambil berkata “Aku mau wangi seperti ini, Gossip Girl,” tidak lama kemudian salah satu temannya dengan perangkat I Phonenya menunjukan gambar layanan cream bath lainnya sambil berkata,”Kalau aku pengen seperti ini!”.

Mereka adalah bagian dari komunitas global dan dikenal dengan sebutan Gen C (ConnectedGeneration). Penelitian Dan Pankraz (Australia) C disini bisa disebut content, connected, digital creative, cocreation, customize, curiousty, dan cybrog. Kasali menambahkan C tersebut dengan chameleon(bunglon), karena terekspos terus menerus oleh jaringan informasi, maka ia pun cepat berubah, constanly changing, persis seperti bunglon (Kasali, 2011:29).

Kemampuan berubah dan beradaptasi inilah yang diadopsi oleh iklan sebagai gaya seni berkomunikasinya. Perubahan ini diharapkan komunikator dapat menjangkau kebutuhan komunikan.

Kehadiran iklan yang membanjiri aktivitas keseharian kita menimbulkan kebingungan bagi kita sebagai konsumen sehingga seringkali kita memilih menghindar dari iklan-iklan di sekitar kita. Dalam hal ini lah, aktivitas komunikasi dalam jejaring sosial memegang peranan penting.

Kegiatan utama berbagi di dalam jejaring sosial menjadi media untuk mengkomunikasikan suatu produk yang diketahui melalui iklan. Ikatan emosional sesama pengguna jejaring sosial melahirkan kepercayaan sesama anggota sehingga tidak jarang muncul kesepakatan untuk mengkonsumsi suatu produk atas dasar rekomendasi seorang anggota karena merasa tertarik dengan iklan di jejaring sosial. Pikiran emosional anggota  bermain dalam keputusan pembelian produk yang diiklankan di jejaring sosial ( Martin Lindstorm, 2011:22)

Penyampaian pesan iklan di jejaring sosial hadir dalam format yang sangat halus. Berupa pesan persuasi di sampaikan kepada pengguna jejaring sosial, hadir layaknya teman  meskipun dengan data rasional . Ini memacu pikiran emosional mereka.

Contoh konkret dapat kita lihat pada jejaring sosial facebook  yang  menggambarkan tubuh langsing pada tampilan iklan WRP di facebook  (Picture wall) membangkitan pesan yang sangat emosional, ingin dihargai, percaya diri, seksi, dan menarik hati. Unsur biologis manusia dimainkan dalam hal ini. Martin Lindstorm menjelaskan bahwa dalam otak kita terdapat neuro cermin, yaitu bagian otak yang bertugas merespon tingkah laku kita yang meniru orang lain tanpa sadar. Neuron-neuron cermin ini bisa menjelaskan mengapa ketika kita tersenyum saat melihat orang lain gembira, atau perasaan ingin menguap ketika melihat orang lain menguap.Hal ini pula dapat menjelaskan mengapa ada dalam diri kita untuk memiliki tubuh ideal, sesuai dengan yang ditampilkan pada visual iklan WRP di wall facebook.

Pesan visual yang disenangi pelaku jejaring sosial di manfaatkan oleh periklanan dalam menyampaikan pesan produk yang diiklankan. Tidak jarang kita melihat visualisasi sebuah produk di jejaring sosial di tampilkan dengan begitu menarik. Ketertarikan ini dapat kita bagikan dengan sesama dan menjadi topik pembicaraan dalam komunitas online. Perbincangan secara intensif lewat komentar di jejaring sosial, secara perlahan menstimulus mereka untuk memberikan feed back atas pesan iklan tersebut. Beberapa di antara mereka akan merespon dengan berinisiatif menanyaakan detail produk bahkan memesan produk yang diiklankan kepada produsen terkait.

Periklanan yang diartikan sebagai proses penyampaian pesan tentang produk,  akan efektif jika menggunakan  elemen sesedikit mungkin namun iklan kita itu harus mampu berbicara semaksimal mungkin (Budiman Hakim, 2005 :51). Logika ini di dasarkan oleh penikmat iklan di jejaring sosial merupakan konsumen yang tidak menyukai pesan yang berbelit-belit. Iklan yang smart akan menjadi out standing dan tentu akan menuai trending topic dalam pembicaraan anggota jejaring sosial.

 

Sebagai seni penyampaian pesannya, produsen iklan selalu berusaha menyisipkan unsur entertainment dalam sebuah iklan dengan harapan penikmat iklan (yaitu mereka pengguna jejaring sosial) mengangkat sismpati terhadap brand produk yang diiklankan.

 

Entertaining dalam iklan di lakukan dengan mempermainkan emosi konsumennya nya, sehingga tidak jarang ketika pegguna jejaring sosial menikmati iklan mereka mengeluarkan ekspresi yang berbeda, ada yang terharu, tertawa, dan lain-lain.

 

Pesan yang disampaikan dalam iklan di jejaring sosial membidik konsumen dengan menyampaikan pesan iklan yang memunculkan consumer insight- nya, yaitu perasaan, keinginan, filosofi di dalam diri manusia yang tidak muncul kepermukaan (Budiman Hakim, 2005 :146), disinilah keindahan seni iklan itu berada.

 

 Interaksi secara berkesinambungan  dengan sesama pengguna jejaring sosial menghadirkan individualisme semu yang menstimulus mereka untuk menyeragamkan selera. Penyeragaman selera ini dilakukan mulai dari memperbincangan produk yang sama yang diiklankan di jejaring sosial. (Benny.H.Hoed, 2001:164).

 

Seiring perjalanan waktu dan perkembangan tekhnologi, ilan akan mengalami transformasi sebagai seni komunikasi dengan sisipan-sisian aspek keindahan lainnya yang memenuhi kebutuhan dan merangkul hasrat manusia akan keindahan itu sendiri.

Seperti perkembangan tekhnologi yang kemutakhirannya tidak dapat di prediksi secara pasti demikianlah perkembangan seni iklan dalam mengkomunikasikan pesannya yang akan hadir lebih estetis dalam seluruh bidang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Baal, J. Van, 1988, Sejarah dan Pertemuan Teori Antropologi Budaya (Hingga

Dekade 1970), jilid 2, Gramedia, Jakarta.

Roman, Maas & Nisenholtz. 2005.  How to Advertise. St Martin Press, New York.

H.Hoed, Benny. 2001 Dari Logika Tuyul ke Erotisme. Magelang: Yayasan INDONESIATERA Anggota IKAPI

Hakim, Budiman. 2005. Lanturan Tapi Relevan. Yogyakarta: Galang Press.

Wenger, 2002:4) Wenger, E (et.al.). 2002. Cultivatting communities of practice: a guide to managing knowledge. Boston: Harvard Business School Press.

 

http://repository.stisitelkom.ac.id/46/2/Ilhamsyah%28Tranformasi_Media_Periklanan_dalam_Sosial_Media%29.pdf

 

 O’Reilly. 2005.  What is Web 2.0 Design patterns and Business Model for the Next

Generation of Software,http://www.oreillynet.com/pub/a/oreilly/../what-is-web2.0.h

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TUGAS TEKHNOLOGI KOMUNIKASI

 

“Media Sosial, Kanvas Baru Melukiskan Seni iklan di Indonesia”

 

DOSEN PENGAMPU: SYAFRIZAL

 

 

 

SISKA.R.PURBA

25470

 

 

Iklan

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s