Monthly Archives: April 2014

Standar

siskailkom12

hujan-1

“Haloo”, sapaku kembali padanya, namun dia yang juga merupakan bagian dari mereka hanya menoleh kemudia terjatuh kembaliimage201311110046

“Hi”,ujarku kepada dia yang satu, aku berharap mengubah ucapan sapaanku akan membuatnya bertahan, akan tetapi sayang sekali, seperti yang lainnya terjatuh kembali.

“Hei”, ucapku pada dia yang berbeda. Ajaib, dia belum terjatuh.

Aku pun melanjutkan percakapanku,”bisakah aku berbagi cerita denganmu?”.

Dengan sekuat tenaga dia mencoba untuk tidak terjatuh dan mengiyakanku. Sayang sekali angin, si murder datang dan dia yang berbeda terjatuh dan terbagi menjadi beberapa tetesan.

Aku sedih telah membuatnya merasakan itu.

“Maaf”, kataku dengan suara mengecil.

Aku tahu dia tidak akan pernah bisa mendengarkan dan merasakan rasa maafku, tetapi setidaknya aku mencoba meyatakan simpatiku pada dia dan mereka.

Dia-dia yang lainnya datang dan terhempas semakin cepat dan membunyikan suara yang keras.

“Dia”, tiba-tiba terjatuh tepat diatas hidungku. Aku pun tertegun sejenak. Tidak butuh 3 detik adegan itu terjadi.

Hanya hitungan kedua dia…

Lihat pos aslinya 164 kata lagi

Standar

hujan-1

“Haloo”, sapaku kembali padanya, namun dia yang juga merupakan bagian dari mereka hanya menoleh kemudia terjatuh kembaliimage201311110046

“Hi”,ujarku kepada dia yang satu, aku berharap mengubah ucapan sapaanku akan membuatnya bertahan, akan tetapi sayang sekali, seperti yang lainnya terjatuh kembali.

“Hei”, ucapku pada dia yang berbeda. Ajaib, dia belum terjatuh.

Aku pun melanjutkan percakapanku,”bisakah aku berbagi cerita denganmu?”.

Dengan sekuat tenaga dia mencoba untuk tidak terjatuh dan mengiyakanku. Sayang sekali angin, si murder datang dan dia yang berbeda terjatuh dan terbagi menjadi beberapa tetesan.

Aku sedih telah membuatnya merasakan itu.

“Maaf”, kataku dengan suara mengecil.

Aku tahu dia tidak akan pernah bisa mendengarkan dan merasakan rasa maafku, tetapi setidaknya aku mencoba meyatakan simpatiku pada dia dan mereka.

Dia-dia yang lainnya datang dan terhempas semakin cepat dan membunyikan suara yang keras.

“Dia”, tiba-tiba terjatuh tepat diatas hidungku. Aku pun tertegun sejenak. Tidak butuh 3 detik adegan itu terjadi.

Hanya hitungan kedua dia terjatuh dan tercerai berai menjadi beberapa tetesan. Aku tertegun lagi.

Aku pun mencoba cara lain. Kurapatkan kedua tanganku, kemudian mencoba menampung dia.

Sia-sia lagi. Dia berhasil kugapai, demikian juga dengan dia-dia yang lainnya. Mereka pun bergabung di tanganku.

Sama saja mereka tidak bisa mengerti dalam wujud seperti itu.

Perlahan kuganti posisi kedua tanganku, dan membiarkan mereka menetes ke tempat yang seharusnya. Kuamati satu persatu mereka, Dari dia,dia yang satu, dia yang berbeda, dan dia yang lainnya.

“HHHHHahhhhhh,”kutarik napas panjang.

“Memang mereka ditakdirkan untuk itu”, aku berbicara sendiri sambil menghibur diri.

“Bagaimana mungkin aku bisa bercerita, jika mereka hanya datang bak kilat, sekalipun ada yang mencoba bertahan, tidak akan pernah ada yang bisa hingga akhirnya mendengarkanku” kataku dalam hati.

Akhirnya, aku memutuskan untuk berhenti, berhenti menyapa tetesan hujan sore tadi, berhenti mencoba mengeluarkan keluh kesah ku kepada mereka. Mereka tidak cukup manusiawi untuk mendengar dan aku tidak cukup hujani untuk mengerti mereka, dalam bentuk dia yang satu, dia yang berbeda, dan dia-dia yang lainnya
*******