Hanging Out

Standar

Signature Moms

By: Heather Desmond O’Neill

I love hanging out with my kids.

Just the other day I came home exhausted from work and my little guy (3-years-old) asked me if I wanted to have a tickle party.  How could I refuse?  We giggled and laughed for 45 minutes.  It was the best part of my day.

Holding handsLast weekend I had to run a few errands and my older son (5-years-old) wanted to tag along.  I had a blast conversing with him and appreciating the independence he was exhibiting.  He’s growing into such a little man with so much personality …. It was the most fun I’d had running errands in a long time.

Typically after dinner we snuggle up on the couch and alternate who gets to choose a TV show (usually on Disney Junior) to watch. The boys make a big production of setting the pillows on the couch and…

Lihat pos aslinya 156 kata lagi

Iklan

Next Up: Possession

Standar
Next Up: Possession

101 Books

The title of today’s post sounds a little like you guys should be expect an exorcism on the blog soon. But let’s hope things don’t get that dramatic.

Possession is a “romance” novel between two Victorian poets! How fabulous!

That’s what I get with A.S. Byatt’s Possession, my next novel from the list. But, really, there’s much more to it than that.

The novel was written as a response to John Fowles’ The French Lieutenant’s Woman, a novel I reviewed back in August 2011.

So here are a few facts about Possession and its author, A.S. Byatt:

Lihat pos aslinya 146 kata lagi

CERPEN” Doa kecil untuk Santa”

Standar

“Doa kecil untuk Santa”
By: Siska Purba

Aku tidak pernah percaya Santa itu ada, bahkan sekalipun dia ada aku akan mengutuknya habis-habisan setelah semua yang terjadi. Santa tidak lebih dari semua simbol pengharapan palsu, semua kisah kebahagiaan semua hanya itu yang dijanjikannya. Santa bisa apa?? Bahkan Santa tidak tahu apa pun tentang natal. Aku tidak peduli ketika orang mulai mengisahkan histori tentang si jenggot putih itu, bagi ku Santa tak lebih dari pembohong, yang anehnya tetap di dambakan manusia. Santa Bastard, . . .
“Maxy, . . . . . . .” suara yang sangat akrab bagiku itu memanggil nama ku dengan keras.
Secara refleks ku hentikan kegiatan mengetikku.
“Itu baru kutukan part I, lihat saja nanti aku masih punya seribu list kutukan untukmu si tua berjenggot putih, bahkan bila perlu aku akan menuliskan banyak buku untuk mengumumkan kebohonganmu , agar semua orang turut mengutukmu dan kau akan mati untuk selamanya di memori semua mahluk di dunia ini,“aku berbicara sendiri sambil menununjuk photo Santa di dinding kamarku.
Suara yang memanggil tadi adalah ibuku, salah satu dari 2 mahluk yang paling ku sayang di dunia ini. Bagiku ibu dan ayahku bagaikan malaikat yang selalu mendampingi hidupku. Mereka selalu mengajariku kesederhanaan dan selalu bersyukur dalam hidup ini, karena dengan itu lah kita bisa menikmati hidup. Aku sungguh menghormati apa pun yang mereka ucapkan dan aku mempercayainya, kecuali tentang Santa, aku tidak percaya pada si tua itu.
“Nak, lusa kan hari natal, kamu sudah siapin pakaian rapi dan bersihkan?”, tanya ibu ku sambil melihat ku dengan tatapan teduh.
“Apa kamu ingin ibu belikan baju baru? bilang saja, ibu masih punya simpanan,asalkan kamu datang natal ibu pasti belikan baju bagus” kata ibu lagi.
“Ayah sangat berharap nak kamu akan ikut acara natal besok, kamu kan sudah besar, harus bisa menghargai moment agama mu sendiri, tepatnya datang lah ke rumah ibadah untuk bersyukur,” ayah menimpali lagi.
“Akan kupikirkan ayah, ibu,” jawabku ketus dan terburu-buru.
Perlahan kukunyah kembali nasi yang sudah singgah di mulutku sambil memikirkan bujukan kedua malaikat itu.
“Apa hebatnya natal? Toh keadaan gereja tahun ini sangat buruk, aku benci natal tahun ini,”seruku dalam hati.
Acara makan malam tadi tidak seperti biasanya, suasana begitu hening, ayah dan ibuku hanya bisa terdiam memikirkan perubahan ku selama ini. Hal ini mulai terjadi tepatnya dua tahun lalu. Awalnya aku adalah anak yanng begitu menikmati semua ibadah kekristenan, mulai dar pelayanan yang sederhana hingga pelayanan yang membutuhkan kesungguhan telah kuikuti. Moment kristiani yang paling kusenangi adalah hari natal. Natal itu merah, pertanda seluruh kebahagiaan. Aku juga sangat mempercayai Santa claus sebagai moyang pembawa kebahagiaan. Banyak album yang mengabadikan moment kebersamaanku dengan orang yang berpakaian Santa Claus.
Akan tetapi, semua itu berakhir setelah bencana menimpa gerejaku. Awalnya para penatua di gerejaku berencana untuk memperbesar bangunan gereja karena umatnya sudah semakin banyak. Mereka pun mengurus perluasan lahan gereja ke pemerintah setempat untuk pembangunan gereja. Jemaat sungguh berharap pemerintah akan meringankan prosesnya, namun entah dari mana dan bagaimana hal itu terjadi begitu saja. Harapan kami di respon dengan pernyataan bahwa gereja yang kami bangun itu tidak memiliki ijin yang sah, bahkan kami tidak di perbolehkan beribadah disana. Seluruh jemaat terpukul, apa lagi aku yang saat itu akan merayakan natal sudah mempersiapkan segala bentuk variasi acara natal. Peristiwa ini terjadi sekitar bulan september sebelum natal datang.
Aku begitu sedih melihat aksi demo setiap minggu nya dilakukan oleh jemaat gerejaku. Mereka menyampaikan kesedihannya dan meneriakkan amarah nya yang tidak ada habisnya. Kutukan kepada pemerintah terus terucap. Mereka, kami hanya menginginkan satu hal agar pemerintah mengembalikan gereja kami.
“Santa claus seharusnya hadir untuk hal tersulit seperti ini, dia malaikat natal dan seharusnya hadir saat ini”seruku dalam benakku. Santa claus yang ku maksud bukan lah santa yang biasa di tampilkan di tempat-tempat hiburan maupun rumah ibadah. Aku sudah cukup berpikir sedikit ilmiah saat itu mengingat usiaku yang sudah menjelang 13 tahun. Santa yang kuinginkan adalah orang yang memiliki wewenang untuk mengiyakan keinginanku dan jemaatku. Sayangnya, dia tidak hadir bahkan sudah 2 tahun. Gereja ku tetap tidak bisa digunakan dan bangunan nya di paku seluruhnya dari bagian luar oleh aparat pemerintah. Itulah sebabnya aku membenci, tidak percaya, dan mengutuk Santa.
“Nak ini ibu belikan kemeja dan celana baru untuk natal besok, dipadukan dengan dasi hitam ayah pasti bagus”, ibuku memberikan bingkisan berisi kemeja merah dan celana hitam padaku dengan wajah berseri dan penuh pengharapan padaku.
Sebenarnya aku enggan menerima nya, tetapi melihat ketulusan malaikat itu aku pun menerimanya. Aku tahu ibu dan ayahku begitu bahagia setiap natal datang. Sesuai dengan nama ku “Maxy”, singkatan dari marry xmas, aku lahir di hari natal. Ini jugalah yang membuat mereka berhati besar aku bisa hadir di natal yang juga hari kelahiranku.
“Ibu, mungkin aku datang telat natal besok, jadi ibu dan ayah berangkat duluan saja” ucapku dengan suara pelan takut mengecewakannya. Ibuku hanya mengangguk sambil tersenyum lalu mengelus kepalaku.
Pagi ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki, sesudah dua tahun ke tempat yang kami sebut “gereja”. Bagaimana tidak sesudah dua tahun pemerintah tida merespon tuntutan kami, kami beribadah di bawah tenda biru, bak pengungsi yang tidak pernah mendapat tempat yang layak.
Kulihat satu persatu jemaat yang ada disana. Aneh, meskipun tempat ini tidak layak disebut sebagai rumah ibadah, tetapi jemaat yang datang semakin banyak saja.
Tiba-tiba kurasakan tarikan kecil dan perlahan dari arah bawah, seperti tarikan tangan kecil di celanaku. Benar saja seorang anak kecil berusaha menarik dan menggoyang-goyangkan bagian bawah celanaku sambil berteriak padaku.
“Kakak, kakak, selamat natal, jangan lupa doain Santa yah,” ucapnya sambil menyodorkan sebuah kertas merah dengan tulisan padaku. Aku menunduk dan menerima kertas itu.
“Emangnya santa nya kenapa dik? Santanya lupa ngasih hadiah buat kamu? Kamu maunya apa?’, tanya ku pada anak itu. Dia hanya menatapku tersenyum kemudian lari menghampiri ibunya.
Anak kedua dan ketiga pun berbuat demikian padaku. Memberi kertas merah, meminta agar Santa di doakan, lalu berlari mendapatkan ibunya.
“Dik, sudah mendoakan Santa??,” seorang ibu dan anak kecilnya dengan senyum kecil bertanya padaku. Akupun semakin kebingungan.

“Wah, kamu sudah dapat 3 kartu santa, pasti kamu pendoa yang baik,” mulainya berbicara.
“Aku tidak mengerti mengapa semua orang disini berdoa untuk santa, dia kan tidak melakukan apa-apa untuk kita, bahkan di saat kita terpuruk seperti ini, “ tiba-tiba aku berseru ketus.
Ibu itu tersenyum dan mulai bercerita lagi, “Awalnya kita, terutama orangtua sama sekali tidak bisa menerima kenyataan pahit ini, harus beribadah di bawah tenda yang tidak layak ini. Tetapi ternyata kita terlalu asyik dengan noda setitik di antara luasnya bagian putih kertas. Ketika kebaktian sekolah minggu kemarin, aku sungguh bergumul mengkhawatirkan berjalannya natal tahun ini. Aku tidak ingin meninggalkan memori sedih natal bagi anak-anak yang seharusnya menikmati seluruh moment penuh dengan kegembiaraan di natal ini.
Aku pun mulai antusias mendengarkan cerita ibu itu. Dia melanjutkannya kembali
“Ditengah-tengah kebingunganku seorang anak bertanya apa yang akan kita lakukan natal tahun ini. Aku hanya terdiam dan membisu mencari celah agar mereka tetap menghadirkan memori keindahan natal di benaknya. Tiba-tiba teman nya yang lain berseru “bagaimana kalau kita mendoakan santa? Tanyanya dengan mata berbinar. Aku membalas bertanya kembali dengan menanyakan ada apa dengan Santa.
Dengan mata berbinar dan senyum, dia melangkah pasti ke depan dan bercerita.
“Teman-teman tahu tidak santa sudah dua tahun tidak bisa mengantarkan bingkisan suka cita untuk kita. Makanya gereja kita belum bisa dibangun dan di paku dengan papan-papan yang kokoh. Mungkin saja keretanya sedang rusak atau rusa nya sedang sakit. Kita tidak tahu kan? Makanya kita doakan saja santa, “lanjutnya dengan wajah polos penuh kebahagiaan.
Semua anak di kelas itu terdiam dan seolah tersihir, kemudian mereka berseru. “Iya bu, kita doakan saja santa,”. Seperti baru mendapatkan sebuah mujijat tiba-tiba mereka melonjak kegirangan dan mulai membicarakan ide-ide untuk mendoakan santa.
“Aku tidak mengerti mengapa ibu juga turu antusias. Padahal Santa itu kan tokoh imajinai, tidak nyata. Dan itu ide anak kecil yang tidak tahu menahu tentang arti semua ini,” jawabku kembali.
“Kamu tahu, anak kecil itu sungguh murni dan pendoa yang baik. Mereka memang hanya tahu santa itu tidak bisa hadir natal ini dan membutuhkan doa. Tetapi mereka lebih tahu segalanya dibandingkan dengan kita. Santa yang mereka doakan sebenarnya adalah aparat pemerintah. Mereka mendoakan agar pemerintah mau membuka hati untuk mengijinkan kembali kita beribadah. Mereka tahu bahwa santa itu ilusi dan hanya memberi pengharapan yang entah kapan terwujud, sama seperti pemerintah yang secara duniawi, satu-satunya pengharapan kita yang kita tidaktahu kapan bisa mewujudkan permintaan kita. Hati anak-anak itu sungguh lembut. Mereka bilang santa sedang sakit, mereka bilang kereta nya rusak, mereka bilang rusanya sakit. Sama dengan pemerintah yang sedang di hinggapi penyakit dunia. Hebatnya anak-anak lebih tahu kalau doa itu tetap bekerja, kalau harapan masih ada, suatu saat Santa pasti sembuh. Doakan Santa ya dik, kamu pendoa yang baik, sama seperti anak kecil tadi”ujarnya menutup ceritanya sambil memberi kartu merah lagi kepadaku.
Kuterima kartu merah itu dengan hati bergetar hebat. Aku sungguh malu melihat diriku yang sekarang ini. Dibandingkan dengan anak kecil itu. Aku bukan pendoa yang baik, aku hanya pengumpat sejati.
Kutatap lagi kerumunan orang itu, di bawah tenda itu mereka sama-sama berdoa, untuk kedatangan Santa yang akan dikirimkan, mewujudkan harapanku, harapan kami. Anak-anak kecil itu masih berkeliaran dengan langkah kecil nan bahagianya, membagikan kartu merah sambil berseru,”Doakan santa yah, kamu pendoa yang baik”.
Malam ini aku akan menghapus kan tulisan tentang seribu kutukan santa. Mungkin kami akan beribadah di bawah tenda selamanya karena tulisan ku itu. Aku akan menuliskan dan mendoakan santa, layaknya pendoa yang baik.
Selamat natal, . . .

Santa-Claus-Christmas-Wallpaper-HD-300x187

Standar

207944_1017855335270_7123588_n“GO HOME YOU ARE DRUNK”
“Hai kk, . .
Duluan ya kk, . .”
“Anak siapa mu itu?”
“Owh, kakak kelas ku kiannya itu pas SMA”
“lalap kakak kelas, yang segudang nya kalian disini?”
“Hahag, iya lah da, gak percuma pindah kampung dah kesini”
Percakapan singkat di atas banyak di alami beberapa dari kita dan jika hal ini terjadi banyak juga di antara kita yang merasakan rasa bangga yang terselip.
Sepuluh tahun sudah keluarga kita ini menggoreskan jejak di Yogyakarta ini. Menorehkan beribu warna cerita cinta kekluargaan.
Di mulai dari rencana berangkat ke Yogyakarta. Awalnya pasti banyak keraguan dan ketakutan, mulai dari membayangkan kondisi lingkungan yang asing, takut gak ada yang di kenal di Yogya, takut susah beradaptasi, takut susah move on dari makanan rumah, nambah lagi repetan mamak ungkapan kekhawatirannya (biasa lah mamak2 batak :D).
“Agah, betulnya di jemput nanti aku di bandara?
“Kenalnya nuaeng orang abg ma kk itu sama ku?
“kalau lupa orang itu kekmana? Mampus lah ak”
“atau ku telpon aja lah nanti memastikan bah, tapi segan aku, da aku yang minta jemput”

Hahag, . . .
Masih ingat ma kekhawatiran-kekhawatiran seperti di atas?
Kalau di ingat-ingat lagi sekarang jadi lucu pasti. Apa lagi kalau da sering ketemu ma kk atau abg yang menjemput kita yang awalnya kita kira sangar ternyata leluconable nya.
Kalau orang nanya apa yang bisa buat kita kangen ABUSYO? Aku mikirnya tinggal hadir kan aja kembali di ingatan kita semua moment tentang makrab. Kita bisa ketemu plus bersenang-senang sama orang-orang baru disini. Hal yang menyentuh itu waktu BPH membasuh kaki maba. Di paguyuban mana lagi atau di organisasi mana lagi kita temukan hal yang semenyentuh ini? Pendeta aja yang udah diakui jadi hamba Tuhan yang melayani semua kalangan masyarakat kalau membaptis kepala anak kecilnya nya ajanya di basuh. Mengharukan kan??
Sesudah makrab , udah banyak ngantri moment-moment yang menyenangkan dan mengejutkan. Di mulai dari kumpul angkatan, temu kangen, natal, taon baruan, paskah, sampe makrab lagi.
Kalau ditanya apa enaknya datang temu kangen tiap bulan? Aikh banyak x pun da gak terjejerkan lagi. Kalau datang pas temu kangen jadi nambah lagi skill pasang muka melas (pas ditagih uang kas ini :D), tambah pengetahuan tentang jenis snack kiloan (gak penting kali :D), nambah koleksi photo, karena kapan aja, dimana pun, pasti ada tiba-tiba yang inisiatif jadi photografer amatir (awalnya dah, sesudah 2x jepret jadi minta d poto lebih banyak lagi :D), gk lupa juga bisa menikmati kue ultahnya anggota ABUSYO yang ultah lainnya sambil kombur 24 SKS :D.
Di ABUSYO juga kita sama-sama menikmati event terupdate. Natal orang, natalnya kita, paskah orang, paskah nya kita, makrab orang makrabnya kita, update lah pokoknya. Uniknya kepanitiaan atau kesibukan pas mau dekat event besar di ABUSYO itu kegiatan danusnya lah. Karena danus ma ABSUYO lah banyak kita kenal variasi kegiatan danus.
Mulai dari jubung, ngamen, jual es teh ma bakpao, ma jual baju bekas. Lewat kegiatan-kegiatan ini lah muncul ke permukaan skill skil tersembunyi anak Abusyo, tiba-tiba banyak yang jadi ahli marketing semua trik di coba.
“ Mba, mau mawar birunya aj deh”
“ak punya uang Cuma 1000, bisa gk mbak?
Banyak dialog yang kita dapatkan waktu berjuang jubung di lampu merah., meskipun banyak dialog nya itu gak penting kali. Kadang ada yang minta mawar biru lagi padahal jelas-jelas yang di jual Cuma mawar merah, pink, ma putih. Ada yang nawar harganya 1000, modalnya pun gak nyampe. Tapi memang pengalaman yang di dapat lumayan lah menambah referensi kisah aneh bertemu pembeli, hahag.
Enaknya pas ngamen itu kalau yang datang rame. Apa lagi kalau lagi pas enak2 nya mood ank ABUSYO yang lain. Bisa satu album di satu tempat ikut sama jogetnya. Ngamen juga gak lepas dari trik. Kalau di liat banyakan orang kulit hitam pendengarnya di nyanyikan lah lagu “NYONG”, meskipun sebenarnya suaranya banyakan fals (untung lah ada alat musik yang menutupi), tapi peduli apa lah yang penting kebersamaan itu nya dah.
“Ikh, gk bisa gitu lah bu, sanggupnya ibu, modalnya pun gak nyampe. .”
“teganya ibu menawar segitu, tambah lah sikik buk, . .”
“Ini tiga-tiganya seribu aj deh mbak, ini karetnya udah molor, ini juga dah gak cerah lagi warnanya, ini resletingnya udah lepas, bla bla bla, “
“kalau gk mau ibu gak usah, beli di tempat lain aja lah”
“bereng hamu namboru na sadaon da etak beha ilarihon annon baju na di tanganna i, songon na asing do leak na”
“nenget2 dok bg, etak beha do boru silalahi muse i”
😀
Hahag, . .
Jual baju bekas memang danus yang agak capek sikik. Krna harus berangkat subuh ke pasar. Belum lagi harus adu mulut ma inang2 jawa, tapi intinya kayaknya “kalau di repeti, repeti balik lagi”. Memang modalnya gk ada dari panitia sendiri, tapi ngeri juga dengarnya, waktu di tawar 3 seribu kaos yang masih bagus dah bermerek, emosi lah da, secara kaos saudara awk ditawar murah, apa gk kumat batak awk
😀
Gak terasa da 10 tahun ABUSYO da banyak kisah yang ditorehkan dan orang yang dilibatkan. Abusyo memang rumah kita bersama. Bermula dari kisah kecil dan sederhana di rumah kecil kita ini, hingga akhirnya kita di berangkatkan ke gedung besar pekerjaan.
Meskipun banyak orang datang dan pergi, tetapi banyak juga yang tetap jaga rumah kita. Banyak abg2, kk2, kawan2 yang sayang sama ABUSYO. Walaupun banyak yang mencoba pergi, tapi banyak juga yang menjagai dan menunggui rumah kita ini sampe akhirnya datang lagi. Mereka gk pernah menuntut hal besar, sederhananya hanya mau bilang “Kalau pergi dari rumah, semoga kangen dan pulang lagi ke rumah”.
Bayang kan sepuluh tahun sudah, tapi tetap ada keluarga kita yang dengan setia menjagai rumah kita ini. Kecil kemungkinannya kalau mereka melakukan itu karena di bujuk oleh angkatan sebelumnya ((orang batak mana pintar membujuk) kalau pun ada gk kan mungkin punya dampak besar sampe buat mereka bertahun-tahun tetap setia. Intinya “ mereka puya modal awal cinta kecil untuk ABUSYO yang setiap saat beriplikasi hingga memenuhi hatinya”.
Kontribusi apa yang di tuntut untuk sepuluh tahun ini?
Sebenarnya bukan termasuk dalam klasifikasi tuntutan, karena kita basic nya keluarga, hanya berdasarkan asas rela. Ibarat anak sepuluh taon, ABUSYO juga kedepan nya akan melewati tahap pubertas yang penuh dengan kelabilan. Akan banyak pilihan dan godaan ke depan yang buat kita meninggalkan atau bahkan lupa total dengan ABUSYO.
Tapi intinya, mulai lah kita ngasih secuil saja cinta kita untuk ABUSYO, jadi waktu kita pernah mencoba pergi, kita akan kangen lagi ma rumah kita ini. Memang secara langsung ABUSYO gk ngasih dampak buat kita, tapi kyak kata abg kelas” jadi kan lah ABUSYO jadi tempat mu berinvestasi maka berkatnya akan datang dari luar”. Saling mengingatkan satu sama lain ketika rasa kangen itu mulai pudar.
SELAMAT ULTAH ABUSYO KU, . .
SELAMAT 10 TAHUN,makin ganteng, makin cantik, makin bijak, makin semua
:*

Standar

CIMG0067DENDANG LOGIKA
Kemarin aku menangis, menangisi pseudostupidity ku.
Jangan kan terpikirkan alasannya, euforia hati mempersuasi bak malaikat
Jiwa di banjiri dengan dilema feminisme hingga meluap
Apa kata atap ketika hujan bercerita?
Entah lah, tapi yang ku tahu siklus pseudostupidity ini hanya butuh satu setruman logika

CERPEN (Hari Ayah) : “Ucapan awal dan terakhir”

Standar

CERPEN
Ucapan Awal dan Terakhir
By : Siska Purba
Tuhan Yesus, . .
Besok Rani ulangtahun, aku ingin besok ayah bisa ngomong dan ucapin selamat ulang tahun padaku, . .
Amin
Terdiam aku sejenak ketika kenangan itu hadir kembali di memoriku pagi ini. Kenangan ketika aku berdoa berkali-kali dengan list doa yang sama setiap tahunnya, sejak aku berusia 5 tahun.
Saat itu memang sewajarnya anak-anak seusiaku sering diberi surprise oleh orangtuanya terutama ketika ulang tahun. Sayangnya, aku terlahir di dunia tanpa ibu, dan seorang ayah yang bisu. Mendengar ucapan selamat ultah dari ayahku sendiri adalah hal yang mustahil bagiku.
Setiap ulangtahun ku tiba, aku selalu mengucapkan doa seperti di atas dengan harapan akan terjadi keajaiban. Akan tetapi, hingga sekarang aku berusia 21 tahun yang kutemui hanyalah sesosok ayah tunasuara.
Aku masih ingat ketika malam aku akan berusia 7 tahun. Malam itu aku menghabiskan waktuku dengan menatap setiap gerak jarum jam, mataku seolah ikut berputar mengikut irama putarannya.
“Hari ini aku harus berdoa tepat jam 12.00 malam, haruss harusss” ucapku menyemangati diriku.
Waktu yang kunantikan pun tiba. Jam weker yang sudah kusetel pun berbunyi. Lalu aku mendoakan ayah ku yang bisu agar ketika ku terbangun nanti, beliau bisa mengucapkan selamat ulang tahun padaku.
“Amin . . “ucapku menutup doaku malam itu. Detik demi detik, menit demi menit pun berlalu. Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00, sudah dua jam aku menanti pikirku. Mataku yang sudah berat kupaksa untuk terbuka, dan aku pun berbicara dengan volume berbisik berulang-ulang.”Malaikat,malaikat, Rani mau ayah bisa berbicara”.
Hal yang kupercayai,malaikat Tuhan pasti melewati pintu kamarku, mendengar doaku dan menyampaikannya kepada Tuhan. Akhirnya, aku pun tertidur lelap dan lagi-lagi ketika ku terbangun penantianku berakhir sia-sia.
SELAMAT ULANG TAHUN RANI, AYAH MENYAYANGIMU
Kubaca tulisan di karton itu sambil menatap pria itu dengan tatapan hambar dan muak. Aku jenuh dengan keadaan ini. Ayah ku hanya bisa menuliskan kalimat ucapan selamat ulang tahun tanpa bisa mengucapkannya padaku. Berkali-kali di angkatnya karton dengan tulisan di atas dan menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri, ekspresi ceria terlukis diwajahnya dengan harapan aku akan menyukainya. Saat karton itu terangkat, sepertinya ada tulisan kecil di bagian bawah, namun aku sudah jenuh dengan keadaan yang sama setiap tahunnya maka kuabaikan begitu saja tulisan itu.
Aku tidak mengucapkan apa-apa pagi itu, terimakasih pun tidak.
“Untuk apa mengucapkan terimakasih, toh setiap tahun tidak ada yang berubah. Dia hanya bisa menggoyang-goyangkan kertas tanpa ada suara. Aku sudah terlalu lama melewatkan banyak tahun dengan hal konyol itu”, ucapku dalam hati.
Dengan langkah lunglai, kuambil tas di atas meja bambu buatan ayahku dan berangkat ke kampus. Di tengah jalan aku masih merenungkan hidupku dengan ayah tunasuara. Aku memaki kehidupanku sekarang. Betapa banyak dan beratnya hari-hari yang kulalui hanya karena tidak adanya suara ayahku.
“Apa indahnya hidup ini? Tidak ada satu bagian pun indahnya. Aku dilahirkan di dunia dengan ayah bisu. Ibu aku tidak punya. Selain bisu, ayahku juga hanya seorang pegawai door smeer. Mungkin lebih indah jika aku hidup sebatang kara”, ucapku dalam hati.
Tak terasa langkahku sudah tiba di dalam kelas. Sayangnya hari itu dosen tidak bisa hadir dan kelas akan di ganti pada jadwal mata kuliah pengganti yang sudah ditentukan dosen. Aku enggan menghabiskan satu hari ini dengan smua hal yang berbau rumah dan ayah, sehingga aku pun setuju dengan ajakan temanku pergi bermain bersamanya.Kampusku berada di daerah pusat kota kelahiranku dengan banyak toko dan bangunan besar berdiri disekitarnya.
“Hei Ran, temani beli roti ya, itu diseberang ada toko roti”, ajak temanku sambil menunjuk sebuah toko roti. Aku hanya mengangguk saja tanda setuju.
Ketika menyeberangi jalan kulihat seseorang yang sepertinya kukenali. Lelaki tua itu baru saja keluar dari sebuah toko roti dengan menenteng sebuah kue tart, di pangkuannya terdapat alat untuk menyemir sepatu seperti yang digunakan oleh pedagang asongan. Dia tampak kesusahan berjalan karena barang-barang bawaannya itu.
Tiba-tiba temanku berkata” sepertinya lelaki tua itu seorang penyemir yang baik. Aku akan anjurkan agar dia menyemir sepatu di rumahku”.
Awalnya aku hanya bersikap cuek saja dengan ucapannya. Akan tetapi, tunggu sepertinya aku mengenal sosok itu, seruku lagi dalam hati dan mencoba mengamatinya kembali. Dan akupun tersadar, ternyata lelaki tua itu adalah ayahku. Kupanggil namanya dari seberang. Dia pun menoleh dan melambaikan tangan dengan wajah sangat gembira sambil mengeluarkan bahasa isyarat. Kondisi kendaraan lalu lalang dengan cepat menyebabkan aku tidak mengerti maksud ayahku.
Sadar akan kondisi tersebut ayahku pun berinisiatif menyeberang dan menemuiku. Penuh semangat ayahku menyeberang tanpa melihat kekanan dan kiri.Tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang dan menabrak ayahku. Beliau terlempar keras ke trotoar. Kepalanya berdarah akibat terbentur keras.
Aku sungguh terkejut dan tidak peduli lagi dengan kendaraan yang melaju kencang. Kakiku kuayunkan berlari menemui ayahku. Kudapati ayahku dalam kondisi terluka berat. Darah dari kepalanya tidak berhenti mengalir. Aku sangat panik . Aku histeris,tangiskupun pecah, aku berteriak minta tolong kepada setiap orang yang berlalu dihadapanku.
Kubopong badan ayahku, darah pun semakin mengalir deras menutupi wajahnya. Kurobek bajuku dan kucoba menghentikan pendarahan ayah ku dengan kaos itu. Akan tetapi ini jakarta bung, yang mana arti nyawa seorang miskin bukan lah berarti bahkan mereka berharap agar orang seperti kami banyak meninggal yang dianggap dapat mengurangi kotornya jalanan.
Aku nekat membopong ayahku menuju rumah sakit terdekat dengan tetap berteriak minta tolong, tetapi tetap saja yang miskin dianggap hanyalah seonggok sampah di pinggiran, tidak ada yang menolong. Sekuat tenaga kupapah beliau yang bersimbah darah. Langkahnya yang berat dan cucuran darah itu membuatku tangisku tidak berhenti. Aku sungguh tidak ingin kehilangan beiau.
Ayahku pun tersungkur tidak kuat karena kehilangan banyak darah.
“Ayahhh, bertahanlahhh, kita hampir sampai ayah teriakku sambil menangis. Kutatap lagi ayahku, tangannya yang lemah menyentuh lenganku sebagai isyarat agar aku berhenti sejenak. Kududukkan ayahku dengan harapan ada keajaiban terjadi padanya.
Diambil ayahku kembali karton yang bertuliskan ucapan selamat itu. Tangannya yang lemah dicoba di gerakkannya, meskipun dengan gerakan terputus-putus. Sekuat tenaga beliau menggoyang-goyangkan kertas itu. Hatiku remuk melihat ayahku yang masih berusaha membahagiakanku dengan wajah yang tersenyum dalam kesakitan. Kutatap sosok itu dengan tangisan. Kuraih tangannya kupeluk erat, kulihat wajahnya tersenyum.
Aku sungguh tidak ingin melepaskan pelukan itu, berulang ulang aku berdoa agar terjadi keajaiban yang menolong ayahku. Beberapa menit pun berlalu, aku masih memeluknya dengan erat dan sangat kencang, air mataku mengalir, aku menangis terisak isak. Kemudian saat itu aku kehilangan detakan, detakan jantung orang yang paling kusayang. Kuguncang tubuh ayahku meyakinkan bahwa beliau masih memiliki detakan itu. Sunyi dan berhenti, tidak ada detakan. Beliau telah meninggal. Tidak ada hal yang lebih menyedihkan lagi selain menangis dengan jiwa yang terguncang melepasnya. Tangisku pecahhhh.
Beberapa jam sesudah melepas kepergiannya, ku amati kembali karton ucapan pemberiannya. Ternyata di bawahnya ada tulisan “kejutan awal”. Aku pun terkejut. Didalam nya kutemui lipatan kertas kecil yang bertuliskan
Rani, ayah menyayangimu setulus hati ayah, ayah sungguh sedih tidak pernah bisa mengucapkan selama ulang tahun kepadamu, tetapi jangan sedih hari ini kita tidak akan makan kue yang terbuat dari ubi lagi, ayah akan belikan tart terbaik untukmu, maaf kan ayahmu yang bisu.
Kudatangi toko kue tempat pembelian ayahku. Dia bercerita sudah sebulan ayahku bekerja sebagai tukang semir di tokonya untuk menambah penghasilannya. Uang tambahan yang diperolehnya dibelikan alat rekaman dan kue tart. Dia juga meminta tolong pemilik kue untuk mengucapkan kata selamat ulang tahun yang direkamnya untuk di berikan kepadaku, tetapi sudah terlambat karena beliau telah berpulang dahulu.
Selamat ulang tahun, . .
Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun Rani anak ayah tersayang
Selamat ulang tahun Rani, . .
Ayah selalu mendengarkan doamu setiap kamu meminta Tuhan agar ayah bisa berbicara, tetapi maaf ayah tidak bisa nak. Ayah terlahir bisu. Saya tidak bisa berbicara seperti ayah lainnya. Tetapi ayah ingin kamu tahu bahwa ayah menyayangimu sepenuh hati ayah. Tidak ada ayah yang sempurna di dunia ini nak, tetapi cinta ayah sempurna untukmu.
Selamat ulang tahun sayang, . .
Tangisku pecah saat mendengar rekaman itu. Ucapan yang paling indah yang pernah kudengar selama aku berulang tahun. Aku menangis sambil mengerang, mengingat betapa kejam dan bodohnya hal yang kulakukan selama ini. Air mata ku mengalir deras membasahi wajah dan bajuku. Tubuhku terguncang hebat dan tanganku bergetar memegang karton itu Aku hanya bisa menyesali, kebodohanku dalam tangis.
Terimakasih ayah, terimakasih buat segalanya
Terimakasih Tuhan Yesus, buat ucapan awal dan terakhir ayahku.
***

D: Siska
U: Among parsinuan se Abusyo
DU: selamat hari bapa Among, sai lam marhabapaon na uli ma di bagasan Ibana tu joloanon, Debata mamasu masu
1001826_674196862607220_210592990_n^_^

MEDIA CETAK, FORUM KOLONIALISME WANITA

Standar

Pada hakekatnya pekerjaan media adalah merepresentasikan realitas, dan isi media adalah hasil karya para pekerja media mengonstruksi berbagai realitas yang dipilihnya . Media juga memainkan peran khusus dalam memengaruhi atau mempertahankan suatu budaya tertentu melalui informasi yang diproduksinya (Sobur, 2001).
Salah satu media massa yang mempunyai kemampuan untuk menyampaikan pesan kepada khalayaknya adalah media cetak. Artikel di media cetak mampu menghasilkan sebuah representasi realitas yang sengaja dikonstruksi untuk memberikan sebuah gambaran lewat kode-kode, foto, mitos, ideologi-ideologi dari kebudayaannya.
Pada penerbitan sebuah berita di media cetak melibatkan prosedural ekonomi yang berdampak pada keuntungan dan kerugian. Hal ini menjadi momok dengan adanya kebebasan pers sesudah orde baru di Indonesia yang memunculkan jurnalis-jurnalis amatiran yang berkecimpung dalam dunia pemberitaan.
Kedua hal ini mengakibatkan pemberitaan di Indonesia yang seharusnya merepresentasikan realitas sosial menjadi market oriented manakala dalam mekanisme operasional media cetak terkena kerugian.
Media cetak sebagai media yang lebih menjangkau khalayak karena sifatnya yang konvensional pun menghalalkan banyak cara untuk memposisikan brand masing-masing di tengah khalayak yang nantinya mendatangkan profit bagi mereka. Salah satu hal yang dilakukan adalah dengan merekonstruksi realitas masyarakat dalam pemberitaannya.
Rekonstruksi realitas media di Indonesia dewasa ini yang sedang booming adalah pemberitaan media yang mengeksploitasi banyak hal tentang wanita.
Persentasi penjajahan wanita secara fisik memang sudah mengalami penurunan, tetapi hal ini juga lah yang memotivasi lahirnya forum baru penjajahan wanita, yaitu lewat media cetak. Pemberitaan dengan mengeksploitasi wanita dalam media cetak berhasil mengisi pundi-pundi uang pengelolanya. Berita tentang wanita menjadi suguhan teraktual media cetak akhir-akhir ini.
Bisnis media cetak merupakan bisnis yang mudah dimasuki oleh siapa pun, jurnalis amatiran sekalipun.
Ini lah yang menyebabkan bisnis media cetak mudah mengalami kebangkrutan. Kondisi ini menyebabkan beberapa media cetak yang awalnya melakukan pemberitaan dengan topik yang menyeluruh mulai mengikuti media cetak lainnya yang menghadirkan isu seputar wanita agar bisa bertahan hidup .
Isi
Pemenuhan kebutuhan masyarakat akan informasi dewasa ini merupakan tugas utama yang di emban media cetak. Oleh karena itu, kebebasan dalam pemberitaan menjadi semakin longgar di Indonesia saat ini, terutama sejak kejatuhan orde baru.
Akan tetapi, hal ini jugalah yang menyebabkan para pengelola media cetak ‘bermain berita’ dan menjadikan representasi realitas masyarakat mengalami konstruksi. Konstruksi ini dilakukan untuk memperoleh profit. Di Indonesia, perwujudannya dilakukan dengan mengangkat isu ‘wanita’ yang dieksplor secara habis-habisan.
Eksploitasi wanita akan media cetak di Indonesia dapat dilihat dengan hadirnya berbagai jenis media cetak yang menjadikan isu seputar wanita menjadi highlight dalam pemberitaan, terutama dalam bentuk tabloid dan majalah. Contohnya: majalah Femina, Kartini, Pupular, dan lain-lain.
Distribusi majalah dan tabloid menempati angka yang besar dalam pers Indonesia karena adanya intervensi pers amatiran (Firmanzah, 2008 :20). Dengan kerja jurnalis yang sering kali menumbalkan wanita dalam pemberitaan yang buruk dengan alasan bisnis, menjadikan pelabelan yang buruk pula akan kaum wanita.
Majalah wanita adalah komoditas ekonomi yang berkewajiban menunjang komoditas lainnya. Secara ekonomis, majalah wanita suatu bisnis yang sebagai lembaga kapitalis yang sehat dan sejati bertujuan mencari keuntungan dari konsumen, pembacanya (Idi &Hanif, 1998:112).
Jika dilihat dari pekembangan dan gejala majalah wanita Indonesia berkaitan dengan kontes perkembangan masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Sejak boom di tahun 1970 dan 1980-an, akibat dibukanya pintu ekonomi Indonesia pada investasi asing, majalah wanita mengalami perkembangan yang pesat dari segi jumlah dan penampilan.
Bahkan, di tahun 1990-an,banyakyang bepenampilan artistik-visualnya tak kalah canggih dari majalah wanita di Barat yang memang menjadi acuan rekaannya di Indonesia.
Perkembangan ekonomi Indonesia yang sejak 1970 menuju kapitalisme, membutuhkan media yang tepat untuk mengiklankan komoditi hasil produksi kapitalisme tersebut dan majalah wanita menjadi wadah untuk hal tersebut.
Beberapa tabloid dan majalah melakukan segmentasi pasar berita dengan melakukan klasifikasi-klasifikasi yang lebih detail, seperti adanya tabloid dan majalah khusus wanita remaja.
Didalamnya terdapat konstruksi-konstruksi wanita yang biasanya berupa perihal masak-memasak, bonus makanan, konsultasi kesehatan, konsultasi psikologi, dan konsultasi etiket (Wiratmo dan Ghiffari 2008:101-119).
Dari segi kuantitas wanita yang lebih banyak dari pria mendatangkan profit yang lebih besar lagi dilihat dari segi jumlah konsumennya dengan menggunakan konstruksi-konstruksi di atas.
Tragisnya lagi, media cetak mensyaratkan wanita yang layak dalam pemberitaan, seperti yang disebutkan Susan Brownmiller (1975) dalam bukunya Against Our Will-Men, Women and Rape menulis bahwa ada tiga cara jitu seorang perempuan menjadi layak berita di harian-harian populer: sebagai istri atau putri pembesar, sebagai korban (pemerkosaan, pembunuhan, atau kejahatan lainnya) yang tak bersalah dan atau tak bernama, atau sebagai pelaku kejahatan sendiri (dalam Idi & Hanif, 1998:138)
Masih dalam konteks penjajahan media cetak, wanita Indonesia sekarang ini lebih banyak dieksplore dengan pemberitaan yang berfokus pada body shape dan life style .Perlahan-lahan media cetak menanamkan standarisasi bentuk tubuh wanita yang ideal dan cantik (biasanya bertubuh ramping, kulit putih, rambut lurus). Dalam hal ini, audiens wanita dicoba dijerat oleh media cetak agar mengonsumsi produk-produk yang mengidentifikasikannya dengan sebutan wanita cantik dan ideal.
Citra yang ditampilkan di media cetak, khususnya dari majalah fashion, akan model-model wanita yang ramping menunjukkan efek negatif yang berkaitan dengan berat badan, ketidakpuasan tubuh, kesadaran diri, suasana hati yang negatif dan penurunan persepsi ketidakmenarikan diri . Kondisi seperti ini juga lah yang mendatangkan tawaran-tawaran pemuatan iklan berbagai produk kecantikan di media cetak.
Sudah tidak jarang lagi di berbagai media cetak kita menemui foto-foto wanita sensual yang dianggap dapat menarik khalayak untuk membeli. Bermodalkan itu, media cetak memperoleh keuntungan besar dan mampu bersaing di tengah maraknya media cetak yang beredar di Indonesia (Moammar Emka, 2006 :58).
Penjajahan wanita di media cetak semakin terlihat dengan munculnya banyak majalah pria dewasa yang mengeksploitasi perempuan sebagai objek erotisme pemberitaan mereka, seperti Playboy, Lipstick, Male Emporium, FHM Magazine, X-File, Popular dan lain-lain (Bungin, 2003:139-140).
Media cetak yang awalnya sumber informasi perlahan-lahan menjadi wadah baru yang memberlakukan objektivikasi pada wanita dengan mengkomersilkan mereka dalam pemberitaan.
Objektivikasi pada wanita berarti kegiatan menjadikan perempuan sebagai hal perkara atau orang yang menjadi pokok pikiran, sasaran, tujuan, pelengkap atau tujuan penderita. Objektivikasi terjadi, ketika seseorang, melalui sarana-sarana sosial direndahkan derajatnya, dijadikan benda atau komoditas, dibeli atau dijual. (Syarifah, 2006:153).
Objektivikasi hasil bentukan media cetak ini mulai merambah berbagai budaya dan mencoba menyisipkan nilai-nilai baru dalam bentukan wanita. Contoh yang paling menonjol adalah aksi media cetak yang telah banyak mengubah citra kecantikan wanita dalam budaya-budaya tersebut dengan memasukkan kriteria tubuh yang ramping sebagai salah satu cirri kecantikan modern (Mulyana, 2005).
Perlahan-lahan media cetak menjadikan wanita sebagai etalase berita dengan penyisipan konsep kecantikan versinya dalam pemberitaan baik dalam tabloid hingga majalah lux. Para cheft wanita ditampilkan dalam tatanan wanita cantik dengan tubuh yang ramping. Nilai rasa makanan bukan menjadi suatu hal yang diutamakan lagi.

Pengelola media cetak berusaha meraup keuntungan lewat eksploitasi wanita dalam pemberitaan tidak hanya lewat sajian foto, tetapi juga dalam format judul berita. Judul yang penuh sensasional marak digunakan sejumlah surat kabar. Topik kekerasan terhadap wanita khususnya pemerkosaan menjadi favorit di kalangan jurnalis. Perkosaan hasil kemasan jurnalistik mengalami pergeseran pandangan yang awalnya dipandang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Tindakan perkosaan dimanfaatkan jurnalis sebagai strategi pasar karena sajian tersebut mendapat apresiasi publik yang cukup besar. Media cukup tanggap dengan ambiguinitas publik yaitu publik seolah-olah menolak tindakan pemerkosaan namun sebenarnya cukup menikmati sajian itu.
Berlanjut dari judul berita, pada bagian isi berita di media cetak para jurnalis berusaha melakukan diksi yang mengundang titik perhatian. Pilihan kosakata digunakan dalam menggambarkan aktor atau agen yang terlibat dalam suatu peristiwa. Seperti penggunaan pilihan kata “wanita cantik”, “pekerja malam” yang secara eksplisit memberi pelabelan negatif yang merugikan kaum wanita.Pemberitaan dengan bumbu marjinalisasi wanita di umbar secara berulang-ulang oleh media cetak meskipun dalam bentuk narasi yang lebih variatif dalam penyajiannya.
Iklan di media cetak juga tidak ketinggalan menambah warna eksploitasi wanita di media cetak dengan variasi masing-masing. Tamrin Amal Tomagola mengkategorikan citra perempuan pada iklan di media massa sebagai berikut (Tanesia 2011):
1. citra pigura: perempuan sebagai sosok yang sempurna dengan bentuk tubuh ideal
2. citra pilar: perempuan sebagai penyangga keutuhan dan piñata rumah tangga
3. citra peraduan: perempuan sebagai objek seksual
4. citra pinggan: perempuan sebagai sosok yang identik dengan
dunia dapur
5. citra pergaulan: perempuan sebagai sosok yang kurang percaya
diri dalam pergaulan.

Konstruksi-konstruksi citra ini memberi pengaruh negatif yang besar bagi wanita di Indonesia. Banyak di antara mereka mulai melakukan banyak hal yang mengidentikkan mereka pada salah satu citra tersebut. Ketika mereka melihat foto wanita dengan citra pinggan yang digambarkan melalui pose seorang artis cantik yang sedang menyajikan makanan didapur, wanita yang tertarik dengan foto itu akan mulai mengategorikan dirinya dalam citra pinggan dengan mencoba menghilangkan citra yang lain pada dirinya. Misalnya wanita yang juga seorang wanita karir (termasuk citra pilar) merasa kebingungan ketika mencoba menjalankan citra pinggan. Hal ini disebabkan iklan di dalam media seperti majalah wanita dan remaja adalah acuan berpikir, bertindak, dan merasakan bagi masyarakat (Giaccardi,1995).

Bisnis media cetak di Indonesia saat ini sedang dalam puncak persaingan yang menstimulus pengelolanya untuk melegalkan seluruh konstruksi nya sebagai sebuah realitas lewat pemberitaannya.Demikian juga dengan pengeskploitasian wanita yang dilakukan oleh media.
Mengetahui perspektif media yang mengedepankan berita yang berorientasikan pasar maka para konsumen juga harus semakin selektif dalam mengkonsumsinya. Baik pengemasan berita dalam balutan unsur seks yang erat dengan ekploitasi wanita maupun iklan yang beredar. Hal ini terutama pada konsumen wanita yang menjadi bidikan besar pasar bisnis media cetak saat ini.

DAFTAR PUSTAKA

Buku
Bungin, Burhan. 2003. Pornomedia: Konstruksi Sosial Teknologi Telematika dan Perayaan Seks di Media Massa. Jakarta: Prenada Media.
Emka, Moammar. 2006. Top Secret Model Face Off: In Bed With Models. Jakarta: Gagas Media.
Firmanzah. 2008.Marketing Politk-antara pemahaman dan realitas. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Mulyana, Deddy. 2005. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.
Sobur, Alex. 2001. Analisis Teks Media. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Subandi Ibrahim, Idi dan Hanif Suranto (Ed). 1998. Wanita dan Media Konstruksi 560851_497627720330594_1226606447_nIdeologi Gender Dalam Ruang Publik Orde Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Syarifah. 2006. Kebertubuhan Perempuan Dalam Pornogarfi. Jakarta: Yayasan Kota Kita

Publikasi Online
Giaccardi, Chiara. 1995. Television Advertising and The Representation of Social Reality: A Comparative Study”, dalam Theory, Culture & Sociaty, edited by Mike Featherstone, Vol. 12.
Tanesia, Ade. 2011. Representasi Perempuan dalam Media, Pusat Sumber Daya Media Komunitas .(http://www.antaranews . com/berita/1269598504/sumur-kasur-dapur-citra-perempuandimedia- Massa).
Wiratmo, Liliek Budiastuti dan Mohammad Ghiffari. 2008. Representasi Perempuan dalam Majalah Wanita, Jurnal Studi Gender dan Anak, PSG STAIN Purwokerto, Vol. 3, No.1.