Tag Archives: wanita

Let Our Humanity talk

Standar

poor_woman_by_yumemi_chan-d6u7bep
Kecantikan dan Rasa Sakit: Berapakah Arti Sebuah Iklan?
Penonton di studio Super Jockey, suatu program tv populr di Jepang, menunggu dengan penuh harap. Mereka pernah melihatnya sebelumnya dan mereka tidak pernah merasa puas. Seorang perempuan muda yang mengenakan bikini yang sangat mini berjalan ke atas panggung. Sambil menangis ketakutan, ia diturunkan kedalam suatu tangki kaca berisi air panas mendidih.
Dengan penuh minat, penonton di studio mengamati perempuan tersebut melalui kaca. Pemirsa di seluruh Jepang menontonnya di rumah. Tawa mereka meledak tatkala sang gadis menggeliat kesakitan.
Untuk meyakinkan bahwa perempuan tersebut memperoleh perlakuan lengkap, seorang laki-laki menyiram air panas di atas payudara sang perempuan- seakan akan ia sedang menyiram seekor ayam. Kamera televisi menyorot dari dekat untuk memperoleh gambar payudaranya yang memerah.
Sebagian besar perempuan hanya bertahan tiga atau empat detik. Kamera mengikuti gerak perempuan muda tersebut tatkala ia melompat keluar dari tangki, melompat-lompat kesakitan dan menggosokkan es di sekujur tubuhnya.
Khalayak bersorak dengan bergembira. Untu setiap detik wanita itu berada di air panas, mereka memperoleh satu detik waktu untuk mengiklankan produk apa pun yang mereka inginkan di produk tersebut. Sebagian besar mengiklankan tempat kerja mereka. Mereka rela menerima rasa sakit demi atasan mereka.
………..
Let Our Humanity talk, . . .

Iklan

CERPEN: “HANYA AKU & BANGKU TUAKU”

Standar

557901_432193030207397_1816875639_n

CERPEN

HANYA AKU & BANGKU TUAKU

                Pagi ini aku terbangun oleh panasnya udara pagi di Jogja. Tidak seperti sebelumnya suhu kota tempat hidup ku ini semakin panas saja, entah karena banyak nya pendatang yang berdomisili disini atau karena perubahan cuaca. Aku sudah tidak terlalu peduli akan itu yang aku tahu aku sangat senang karena pagi ini aku bangun tepat sebelum jam 07.00 wib.

Jujur, sebenarnya aku belum ingin beranjak dari tempat tidur tuaku, rasanya efek penuaan tulang sudah mulai menjangkitku. Terkadang, tiba-tiba saja aku terbangun dengan rasa linu.

Kualihkan pandangan ku menuju tempat tidur tuaku. Meskipun usianya hanya berbeda 10 tahun dengan usiaku, tetapi tempat tidur ini selalu saja bisa memberi kenikmatan tidur untukku setiap harinya.

Beberapa kali aku menguap sambil menatap jam dinding. Kupaksa mataku terbuka lebar memastikan jarum jam mununjuk ke angka berapa.

“Mungkin aku bisa tidur beberapa menit lagi”, ucapku sambil merebahkan badan kembali setelah memastikan waktu saat itu.

Beberapa menit yang terdengar hanya lah bunyi gerak jarum jam tuaku. Sesaat merebahkan badan aku merasa seperti melupakan sesuatu pagi ini, hanya saja aku tidak dapat mengingatnya dengan baik. Kucoba mengingat kembali dan aku pun tersentak lalu duduk di tepian tempat tidur.

“Bukankah hari ini hari senin?”, aku berbicara sambil berjalan melihat kalender yang tertempel di dinding.

Tahu bahwa pagi ini adalah hari Senin, bergegas aku beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi.

Kubasuh wajahku perlahan, kemudian menggosok gigiku. Sesekali aku bersenandung lagu jawa kesukaanku di masa mudaku dulu. Aku sungguh bersemangat karena ini adalah hari senin.

“Jam pinten iki neng?”, tanyaku pada seorang gadis yang sedang melintasi teras rumahku. Gadis itu menghentikan langkahnya, menghadapkan wajahnya pada ku, tetapi tidak menjawab pertanyaanku. Tampak keningnya berkerut, seperti berpikir keras.

“Maaf mbah, saya bukan orang jawa, saya tidak mengerti arti pertanyaan mbah”, katanya dengan wajah menyesal.

“Oh, tidak apa-apa neng, sekarang sudah jam berapa ya”, seruku kembali menegaskan pertanyaanku. Kemudian dia menjawab pertanyaanku dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Ternyata gadis itu berasal dari pulau sumatera dan belum lama berdomisili di Jogja. Tetapi entah kenapa hatiku merasa dia gadis yang baik, aku sungguh menyukai senyum tulusnya. Pagi ini aku sangat bahagia, bahagia karena telah bertambah orang yang ku kenal dan bertegur sapa denganku. Detakan jantungku pun berirama turut berbahagia.

Sambil menunggu pelintas jalan selanjutnya, kutarik bangku panjang tuaku dan duduk kembali. Senandung lagu jawa yang tadi nya terhenti kulanjutkan kembali sambil sesekali menggoyangkan kepalaku mengikuti irama lagu. Aku menanti dengan bahagia, menanti mereka yang memerdekakanku, pembawa bahagiaku.

Ini lah hal yang setiap harinya kulakukan. Pagi dan siang duduk di bangku panjang tuaku, menanti mereka yang melintas dari depan teras rumahku. Aku selalu menyukai hari senin dan hari-hari kerja lainnya. Banyak mahasiswa dan masyarakat yang akan melintas di hari itu. Aku akan berusaha bangun pagi agar sempat menyapa mereka. Jadwal jam kuliah mahasiswa di sekitar rumahku kuhapal benar, sehingga tidak ada hari yang terlewatkan tanpa menyapa mereka.

Mungkin mereka akan dan sudah muak akan kelakuanku yang selalu menanyakan jam pada mereka. Atau mungkin mereka akan berpikir aku sudah pikun. Apa pun anggapan mereka adanya aku hanya kesepian. Aku membutuhkan teman bicara dan berbagi.

“Sudah lah, toh mereka kususahkan hanya berbagi beberapa kalimat saja”, kataku sambil menghibur diriku sendiri.

“Baru pulang toh neng”, tanyaku kepada seorang mahasiswi yang melintas. Seperti nya dia baru saja melewati hari yang panjang dan kurang menyenangkan, terlihat dari raut wajahnya dan gerakan tangannya yang berusaha menutupi matanya agar terhindar cahaya matahari. Aku ingin sekali dia bisa berbagi kekecewaan dengan ku, aku akan sangat bahagia bila dia bercerita, sungguh.

Seperti anak kecil yang berharap diberi permen lollipop, kutatap matanya dengan berbinar-binar dan penuh harapan.

“Jam, . .”, belum sempat aku bertanya dia sudah memotong perkataanku.

Dengan wajah sangar, sambil melirik telephone genggamnya dia menjawab,”Jam 2 kurang 15, mbah”.

Kemudian dia berlalu, melangkah secepatnya, hingga hilang dari sudut mataku.

Aku tertegun sejenak. Belum sempat kuucapkan terima kasih, mengapa dia berlalu begitu saja? tanya ku dalam hati, penuh kesedihan. Tangan yang tadinya kulambaikan memanggilnya untuk berterima kasih, kuturunkan perlahan. Aku sedih sungguh sangat sedih. Memang cuaca siang ini sangat terik sehingga membuat pejalan kaki kepanasan dan penuh emosi. Tetapi tahukah mereka, tidak ada hal yang paling menyiksa di dunia ini selain kesepian.

Aku belum bisa melupakan perlakuan mahasiswa tadi. Aku sungguh mengasihinya, tetapi mengapa dia menyakitiku? Sungguh, aku tidak habis pikir. Terpikir kah olehnya bahwa dia  akan bertemu dengan teman-teman nya, berbagi cerita kekesalan nya, hingga akhir nya kekecewaan itu hilang. Sedangkan aku?

Aku akan tetap seperti ini, berjuang di dalam kejamnya penjajahan sepi. Aku merindukan sapaan, meski hanya sebatas jawaban jam.

Aku duduk kembali di bangku panjang tuaku, sembari menatap dan mengelusnya. Khayalku melambung jauh. Sesekali memori ku singgah pada sosok almarhum suamiku, kemudian berlabuh pada bayangan anak-anak ku yang sudah dewasa. Anak yang dulunya begitu lucu, tetapi sekarang sudah menjajahku dengan menambah kesepianku. Mereka jarang berkunjung, menelpon pun tidak.

“Yahhhh, mereka sudah tidak membutuhkan tua bangka seperti ku lagi,” seruku dalam hati sambil menarik napas panjang.

Kumainkan untaian rambut panjang ku dengan membaginya menjadi gulungan-gulungan kecil. Sesekali kutarik, kemudian ku ulur kembali. Memoriku dipenuhi rasa sepi. Rasanya aku berada di dunia tanpa manusia.

Kutatap awan di atas. Awan yang tadinya cerah, sekarang berganti awan hitam.

“Mereka memang awan hitam, tetapi lihat, mereka masih memiliki teman. Ada awan lainnya tempat mereka berbagi. Mereka lebih beruntung daripadaku”, seruku sambil menarik napas panjang.

Tatapan mahasiswi tadi masih hadir membayang dibenakku. Melankolis ketuaanku meliputiku. Hatiku sangat perih, tersiksa oleh sepi, terjajah oleh tatapan itu.

“Nak, tahu kah kau, di masa tua mu, kau akan mengerti mengapa aku seprti ini, mengapa ada manusia seperti ku. Tetapi nak, aku berharap masa tua mu tidak seperti ku, tidak perlu mengundang benci pelintas jalan dengan pertanyaan usang tentang jam. Nak, sepi itu menyiksa,”seruku dalam hati, tak terasa air mata ku pun menetes.

Sore itu kuhabiskan dengan menangis. Dadaku sesak, rasanya ingin meledak, Tidak ada yang peduli karena sekarang sedang hujan lebat. Tidak ada yang tahu rasanya sepi, hanya aku dan bangku tuaku yang tahu. Aku hanya berharap waktu dapat memerdekakanku dari rasa sepi ini.

 

****

 

REVIEW JURNAL Kebudayaan Timur dan Barat dalam Sinetron Si Doel Anak Sekolahan

Standar

 

REVIEW JURNAL

Kebudayaan Timur dan Barat dalam Sinetron Si Doel Anak Sekolahan 

            Interaksi kita dengan orang lain memiliki tingkat keeratan dan rasa keterikatan  yang berbeda. Di antara mereka, ada yang hanya menjadi orang asing untuk kita dan ada juga  yang menjadi kenalan bagi kita. Kita mengetahui nama, alamat, dan identitas formal lainnya milik mereka. Sedikit lebih sering berinteraksi dan pengetahuan kita tentang mereka lebih banyak, sering dinamakan teman.

Naik setingkat, kita menamai mereka sahabat. Sahabat adalah orang yang kita beri tempat khsusus dalam hati kita. Kita mempercayainya, hubungan kita dengannya sejajar, timbal-balik, dan bersifat saling mengembangkan, tak ada yang menjadi parasit bagi yang lainnya. Kenalan, sahabat, dan teman dapat sama atau berbeda jenis.

Jika dari antara mereka ada yang berlawanan jenis dengan kita dan kita saling menjagai untuk pada suatu saat membangun keluarga menjadi suami-istri maka orang itu menjadi kekasih kita. Hubungan kita dengannya jauh lebih komplit daripada hubungan kita dengan sahabat, hubungan ini lah yang sering disebut romantic relationship.Dengan kenalan, teman, sahabat, dan kekasih itu kita saling berkomunikasi melalui komunikasi interpersonal.

Komunikasi interpersonal adalah  interaksi tatap muka antar dua atau beberapa orang yang pengirimnya dapat menyampaikan pesan secara langsung dan penerima pesan dapat menyampaikan pesan secara dapat menerima dan menanggapi secara langsung pula ( Agus M. Hardjana, 2003:85).

Salah satu cakupan dalam  komunikasi interpersonal adalah romantic relationsip . Cakupan ini sering digambarkan lewat tayangan audio visual televisi. Media ini dipilih untuk menayangkan gambaran kisah romantic relation karena diminati oleh masyarakat. Televisi sendiri merupakan salah satu bentuk komunikasi massa.

Kehadiran televisi di Indonesia semakin eksis dengan adanya tayangan sinetron. Pada umumnya sinetron yang diminati masyarakat Indonesia adalah sinetron yang mencitrakan romantic relationship. Kisah romantic relationship yang di kaji oleh penulis adalah sinetron betawi yang berjudul Si Doel Anak Sekolahan.

Penulis tertarik untuk mengulas sinetron ini lebih lanjut karena memiliki keunikan, yaitu menceritakan kisah percintaan yang melibatkan 3 insan dengan 2 latar belakang budaya  yang berbeda.

Secara umum, metode yang digunakan penulis dalam mengulas sinetron Si Doel Anak Sekolahan ini adalah metode kualitatif, tetapi di dukung oleh data kuantitatif yang mengakuratkan hasil ulasan.

Awalnya, sinetron yang perdana ditayangkan di RCTI ini bercerita tentang pengorbanan keluarga Doel untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya (kuliah) dengan menjual tanah warisan keluarga mereka. Kemudian, kisah nya berlanjut pada cinta segitiga antara Kasdoelah, seorang pemuda asli betawi (dipanggil Doel) diperankan oleh Rano Karno, Zaenab ( pemudi asli betawi yang masih memiliki hubungan saudara jauh dengan Doel) diperankan oleh Maudy Koesnadi , dan seorang wanita keturunan Indo-Belanda yang bernama Sarah (diperankan oleh Cornelia Agatha).

Kisah Si Doel bergelut dengan berbagai jenis pekerjaan yang tidak menjanjikan sebelum sukses berkarir juga diceritakan dalam sinetron ini.

Pendalaman karakter saat bermain menghantarkan langkah pemeran sinetron ini merengkuh kesuksesan. Masyarakat Indonesia umumnya meminati film ini. Selain karena kisah nya yang dekat dengan masyarakat (mengangkat corak kebudayaan betawi dalam penyajian sinetron) juga karena penontonnya didominasi oleh kaum wanita yang umumnya menyukai kisah romantic relationship.

            Atraksi-atraksi interpersonal (misalnya dengan menambah kuantitatif komunikasi interpersonal)  juga diperankan oleh ke tiga tokoh untuk menonjolkan romantic relationship dalam sinetron ini, karena makin tertarik kita kepada seseorang makin besar kecenderungan kita berkomunikasi dengan dia (Jalaluddin Rakhmat 1999:110).

Tayangan di televisi yang merupakan salah satu kajian komunikasi massa yang diminati khalayak ramai menggambarkan nilai-nilai masyarakat yang nantinya akan dianut oleh mereka. Di dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan ini, nilai-nilai masyarakat, tepatnya nilai-nilai sosial disajikan secara visual dan nonvisual. Nilai-nilai sosial tersebut, berhubungan dengan komunikasi interpersonal antar tokoh yang termasuk dalam kategori romantic relationship dalam sinetron. Akan tetapi, terdapat 2 nilai yang dikandung sinetron ini dengan perbedannya masing-masing, yaitu nilai-nilai sosial timur (yang dianut Doel dan Zaenab) dan nilai-nilai sosial barat (yang dianut oleh Sarah).

Seperti halnya konteks budaya yang mempengaruhi kehidupan masyarakat, terdapat perbedayaan budaya dalam penerapan dan penghaapa cinta. Hal ini menyatakan bahwa pengaplikasian cinta tidak hanya sekedar dipengaruhi oleh fenomena biologis atau fenomena insting, konsep keluarga dan lain-lain, tetapi juga dipengaruhi oleh adat dan budaya yang berlaku.

Dalam budaya barat, aplikasi cinta adalah sesuai kehendak pribadi dan tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain, termasuk keluarga sekali pun.  Berbeda dengan budaya di Timur yang sebagian masih ada campur tangan keluarga dalam pencarian jodoh misalnya (http://www.psychologymania.com/2012/02/konsep-cinta-dalam-perbedaan-budaya.html). Kedua aplikasi budaya terebut dapat dilihat dalam peran tokoh Sarah (menganut Budaya barat) menjalin romantic relation dengan Doel dengan memilihnya sebagai kekasih sesuai dengan keinginan pribadinya. Di sisi lain, penggambaran budaya timur, diperankan oleh tokoh Zaenab yang menjalain romantic relationship lewat perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.

Perjodohan dalam budaya Barat adalah sebuah pelanggaran dalam hak asasi, dan terlalu mencampuri urusan pribadi (individual). Budaya di Timur yang menganut paham kolektif, ini adalah hal yang baik, karena konsep keluarganya berpaham kolektif. Jika terjadi permasalahan dalam sebuah keluarga, maka yang berusaha menjaga kelestarian perkawinan adalah seluruh keluarga besar. Karena, satu keluarga mengalami aib, maka itu adalah aib bagi seluruh keluarga dalam lingkungan yang kolektif (keluaga besar).

Selain berkontribusi di bidang percintaan, kebudayaan juga memiliki pengaruh yang besar terhadap kepribadian seseorang. Budaya dan kepribadaian memiliki relevansi yang sangat kuat. Perkembangan kepribadian tidak bisa di lepaskan dari pengaruh budaya. Individu berkembang dan tumbuh dalam lingkungan yang nota bene adalah sebuah budaya. Sehingga, tidak ada seorangpun yang hidup di lingkungan tertentu tanpa di pengaruhi oleh budaya (http://www.psychologymania.com/2012/06/budaya-dan-perkembangan-kepribadian.html).

Sarah yang dibesarkan dalam kebudayaan timur-barat (Indo-Belanda) memilki kepribadian yang cemburu dan tidak sabar, berbanding lurus dengan kepribadian umumnya masyarakat yang berkebudayaan barat. Tokoh ini digambarkan sering cemburu akan hubungan Doel dan Zaenab, sementara kepribadiannya yang tidak sabar ditunjukkan oleh adegan Sarah yang pergi meninggalkan Doel selama 10 tahun. Sedangkan Zaenab dan Doel yang besar dan berkembang dalam kebudayaan timur memiliki kepribadian yang sabar. Doel sering membujuk Sarah ketika dia cemburu pada Doel. Kesabaran Zaenab digambarkan lewat adegannya yang selalu sabar menunggu Doel, membawakan makanan untuknya, dan membantu pekerjaan rumah. Pada akhirnya kesabarannya berpuncak pada pernikahannya dengan Doel. Kepribadian yang sabar pada umumnya merupakan cerminan kepribadian masyarakat timur.

Kisah yang digambarkan dalam sinetron ini menarik dan membangun. Secara tidak langsung penonton diajari bagaimana caranya berjuang untuk mencapai kesuksesan. Penanaman nilai-nilai sosial melalui peranan setiap tokoh juga berkontribusi positif untuk keperibadian masyarakat. Sayangnya, pemilihan suku betawi dari antara berbagai jenis suku yang ada di Indonesia kurang mencerminkan identitas bangsa Indonesia sendiri.

Jika ditelusuri dari segi sejarahnya, suku betawi berasal dari hasil perkawainan antaretnis dan bangsa di masa lalu. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Apa yang disebut dengan orang atau suku Betai sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, Melayu, dan Tionghoa (http://emanemancakk.student.umm.ac.id/2010/01/22/makalah-antropologi-hukum-mengenal-sukubetawi/).

Bagi masyarakat betawi sendiri segala yang tumbuh dan berkembang di tengahkehidupan budayanya dirasakan sebagai miliknya sendiri seutuhnya, tanpa mempermasalahkan darimana asal unsur-unsur yang telah membentuk kebudayaannya itu.  Seperti halnya bahasa yang mereka gunakan yaitu bahasa Betawi sendiri merupakan golongan bahasa melayu menurut para ahli.

Ringkasnya, suku Betawi bukan suku yang terlahir alami dengan identitas sendiri, melainkan perpaduan identitas antaretnis sehingga memilih suku Betawi di sinetron Si Doel Anak Sekolahan kurang menggambarkan identitas bangsa Indonesia sendiri.

Perpaduan yang menghasilkan suku Betawi sendiri merupakan fenomena pembentukan identitas budaya yang tidak disengaja (Alo Liliweri, 2003:83).

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ardi, 2012, budaya dan perkembangan kepribadian, http://www.psychologymania.com/2012/06/budaya-dan-perkembangan-kepribadian.html/ diakses 13 Desember 2012, 01.00 pm)

Ardi, 2012, konsep cinta dalam perbedaan budaya http://www.psychologymania.com/2012/02/konsep-cinta-dalam-perbedaan-budaya.html/ di akses 13 Desember 2012, 01.15 pm)

Hardjana, Agus M. 2003. Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal. Yogyakarta. Kanisius.

http://emanemancakk.student.umm.ac.id/2010/01/22/makalah-antropologi-hukum-mengenal-sukubetawi/  di akses 13 Desember 2012, 12.45 am).

Liliweri, Alo. 2002. Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta. LKiS Yogyakarta.

Sutaryo. 2005. Sosiologi Komunikasi. Yogyakarta. Arti Bumi Intaran.

 

 

 

 

 

 

TUGAS BRIDGING COURSE DASPEN

Review Jurnal Komunikasi Interpersonal dalam Sinetron

(Tinjauan mengenai Romantic Relationship dalam Sinetron Si Doel Anak Sekolahan)

                                                          

 

 

 

 

 

 

 

DI SUSUN OLEH

SISKA.R.PURBA

25470

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK

ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS GAJAH MADA YOGYAKARTA

DOSEN PEMBIMBING : NUNUNG PRAJARTO